banner 728x90

” Belajarlah Dari Orang Mati ! ” Gus Dur

” Belajarlah Dari Orang Mati ! ” Gus Dur

Serie Amanah Gus Dur

Kerajaan Tarumanagara

Apakah orang mati itu kita hidupkan dan bangkitkan dari alam kubur ?

Andai ada orang yang telah puluhan, ratusan bahkan berabad tahun hidup kembali dan bisa sharing pengalaman, maka sungguh tidak susah jawab pertanyaan di atas.
Namun,
tersebab tidak ada,
maka kita cukup bisa jawab ” … seandainya … “.

So,
orang mati di sini adalah sejarah, artefak, manuskrip dan sejenisnya.

Sebagai contoh
Ternyata Sungai Citarum ada kaitan erat ( minimal ) dengan kehidupan awal Masehi, abad 6 dan 7 Masehi dan abad 19 dan 20 Masehi.

Raja – Raja Tarumanagara

Abad 600 – 700 Masehi

Rakryan Sancang anak dari Nyi Arumhonje berayah Prabu Kertawarman Raja Tarumanagara VIII. Dia lahir pada tahun 591 Masehi di daerah Pegunungan ‘ Leuweung ‘ Sancang basisir Garut Selatan.

Apa hubungan Rakryan Sancang, Sayyidina Ali bin Abi Tholib, Islam dan Sungai Citarum ?

Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib lahir pada tahun 601 Masehi,
merupakan keponakan Rosulullooh Muhammad SAW dan satu – satunya anak muda belia Milenial yang masuk Islam generasi awal pemeluk agama Islam, Assabiquunal Awwaluun.

Rakryan Sancang terhubung dengan Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib dalam peristiwa :

Rakryan Sancang begitu capai usia aqil baligh remaja dewasa melakukan perjalanan lewat jalur laut gunakan perahu buatan sendiri dari basisir pantai Garut Selatan menuju Teluk Lada Banten untuk menemui Sang Bapa biologis Prabu Kertawarman ( 561 – 628 Masehi ( Raja Tarumanagara VIII ) di Ibukota Kerajaan Tarumanagara.
Dalam perjalanan mendengar khabar dari salah seorang pedagang Arab bahwa Prabu Kertawarman telah mangkat alias wafat/meninggal.
[ Prabu Kertawarman mangkat/wafat sa’at Rakryan Sancang berusia 37 tahun ]

Pun sang pedagang Arab cerita tentang ada agama baru di Jazirah Arab bernama Islam dan ada tokoh Jawara Muda Islam bernama Ali bin Abi Tholib.
Seketika naluri petarung Rakryan Sancang menuntun pergi ke Jazirah Arab untuk beradu ilmu kanuragan dan kedigdayaan.
Singkat cerita mereka berdua ketemu muka dan berakhir Rakryan Sancang kalah telak tidak mampu kalahkan ilmu Sayyidinaa Ali R.A.

Sesuai falsafah hidup Rakryan Sancang siapapun orang yang bisa kalahkan dia, maka dia akan jadikan sebagai Guru.
Dia berguru kepada Sayyidinaa Ali jadi santrinya dan
dia masuk Islam mengucapkan Syahadat Tain Dua Kalimah Syahadat.

Sekembalinya ke Tatar Sunda ParaHyangan langsung dirikan Pesantren Awal Nusantara di daerah Pakenjeng Garut Selatan.

Sa’at Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib ada yang membunuh ( membacok ) sampai meninggal dunia, maka Rakryan Sancang sebagai seorang Shohib/Shahabat dan Murid/Santri lansung pergi ke Jazirah Arab untuk bela pati.

Pesantren Rakryan Sancang sedang kosong dijadikan kesempatan baik oleh pasukan Tarumanagara di bawah pimpinan Nagajayawarman ( 640 – 666 Masehi ) untuk hancur leburkan dan luluh lantakan Pesantren Rakryan Sancang di Gunung Nagara Pegunungan Sancang Garut Selatan.

[ Para telik sandi ‘ intelijen ‘ pasukan Tarumanagara pura – pura Masuk Islam dan Jadi Santri Rakryan Sancang hanya untuk dapat info dan segera lapor kepada Raja Tarumanagara Nagajayawarman ( menantu Raja Hariwangsawarman ( 639 – 640 M ) yang dibunuh oleh Brajagiri anak angkat Prabu Kertawarman) ]

Sekembali Rakryan Sancang ke daerah Pegunungan Sancang dan mendapati Pesantren -nya telah rata dengan tanah dan mayat para Santri bergelimpangan.
Tentu saja Rakryan Sancang sangat marah dan langsung ‘ ngajorag ‘ menuju Ibukota Tarumanagara untuk tuntut balas.

Jalur yang dia pake adalah Sungai Cimanuk dan Sungai Citarum. Demi untuk mempercepat perjalanan sampai tujuan.

Jadi jelas sekali hubungan antara Rakryan Sancang dengan Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib dan Sungai Citarum. Ada ikatan dan kaitan sejarah panjang.

[ Kerajaan Salakanagara ( VIII ) runtuh berdiri Kerajaan Tarumanagara. Tarumanagara runtuh berdiri Kerajaan Sunda Galuh dan Kerajaan Pakuan. Sungai Citarum jadi batasspemisah antar kedua Kerajaan. Galuh dan Pakuan_ menyatu berdirilah Kerajaan ‘ Galuh Pakuan ‘ Pajajaran ]

Sungai Citarum pra Citarum Harum

Abad 1900 – 2000 Masehi

Sungai Citarum pada tahun 1980 -an mulai tercemari limbah industri dan akibat dari kebijakan politik produk Suharto/Soeharto yaitu Industrialisasi dan Swastanisasi, maka Sungai Citarum berubah fungsi jadi tempat pembuangan limbah industri komunal.

Multi program atas nama perbaikan Sungai Citarum bergulir silih berganti. Terakhir bernama program ICWRMIP beranggaran 6,7 Triliun Rupian ( donasi 7 negara maju/industri ) pun berujung kegagalan.

Lahir lah julukan dan gelar dari dunia internasional :

” Sungai Citarum sebagai Sungai Terkotor Se Dunia ! “

Bisakah Sungai Citarum kembali berjaya, Suci dan Bersih serta jadi nara sumber Peradaban Sunda, Indonesia dan Dunia ?

Sangat bisa yaitu pemimpin pergerakan ” Penyuci Bersihan Sungai Citarum ” harus turunan/trah Raja Sunda dan penyebar Agama Islam.
[ Amanah Rakryan Sancang abad 6/7 Masehi ]

[ Ir. Juanda/Djoeanda/Djuanda, Sjafruddin Prawiranagara dan Mochtar Kusumaatmadja adalah contoh nyata Urang Sunda yang telah meng- kaya -kan NKRI dan Bumi Pertiwi Indonesia ]

Kaitan antara Amanah Gus Dur ” Belajarlah dari Orang Mati ! ” dengan Sungai Citarum sangat erat yaitu
Sungai Citarum begitu mulia, suci dan bersih tempat berdirinya dan terbangunnya bangunan/artefak Suci bernama Candi Jiwa ( sejak 130 Masehi ) pada masa Raja Dewawarman I ( 130 – 168 Masehi ) Kerajaan Salakanagara. Pun berlanjut pada era Kerajaan Tarumanagara, Kerajaan Sunda dan Galuh sampai Pajajaran.
Artinya
Sungai Citarum sangat berjasa besar atas Peradaban Besar Sunda nan panjang lintas abad.

Kunci terpenting adalah ‘ Orang Mati ‘ Sang Dewawarman I pembangun dan pendiri pertama serta utama Candi Jiwa ( abad 1 – 2 Masehi ).
Prosesi penyucian dan pembersihan ( kembali ) Sungai Citarum menjadi penyebab satu – satunya terkuaknya ” Misteri Peradaban Besar Sunda “ lewat penggalian dan pemuliaan Candi Jiwa.

Sungguh sangat tidak layak bagi siapapun orang Indonesia dan asing yang telah, sedang dan akan jadikan ‘ Lemah Cai ‘ Tanah dan Air Sungai Citarum sebagai pembuangan dan penimbunan Kotoran, Sampah dan Limbah pribadi serta komunal.

Seseorang dan Pemilik pabrik/industri yang telah, sedang dan akan merusak, mengotori, meracuni serta melimbahi Sungai Citarum adalah jelas sebagai Pengkhianat Sungai Citarum dan Pengkhianat Peradaban Besar Sunda dan Nusantara Indonesia.

Hanya satu kata yang sangat tepat bagi para pengkhianat yaitu
” Bunuh dan Musnahkan ! “

Bandung, Rabu, 18 Januari 2023

Muhammad Zaki Mubarrok

Citizen Journalism
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan