banner 728x90

Pilihan Hidup : Jadi Raja Tarumanagara Atau Jadi Nelayan/Petani, Santri & Entrepreneur ?

Pilihan Hidup : Jadi Raja Tarumanagara Atau Jadi Nelayan/Petani, Santri & Entrepreneur ?

serial Rakryan Sancang

Sancang Garut

Rakryan Sancang lahir tahun 591 Masehi ( Abad 6 ) di wilayah Pegunungan Sancang ( basisir Laut Selatan Garut ) anak tunggal dari Prabu Kertawarman Raja Tarumanagara VIII dari rahim Ibu Nyai Arumhonje.

Anak Piatu Remaja Entrepreneur

Rakryan Sancang begitu lahir sudah jadi anak piatu karena Sang Ibu meninggal dunia sa’at melahirkan. Pun Ia tidak pernah tahu rupa dan wajah Sang Bapa ( Prabu Kertawarman ) selamanya.

Sebagai umumnya karakter seorang anak yang tidak ber- Ibu dan tanpa Ayah, maka cenderung ‘ baong ‘ dan ‘ neugtreug ‘ alias agak keras.
Rakryan Sancang memiliki peminatan yang sangat kuat pada dunia ilmu dan pengetahuan.

Didikan Sang Aki/Kakek sejak balita sampai remaja telah membentuk Rakryan Sancang sesosok pribadi yang kuat dan kekar fisik ragawinya serta memiliki ‘ elmu pangaweruh ‘ ilmu yang tinggi ( masagi ) ketika usia remaja.
Remaja jago tanpa tanding.

Hasil tempaan Sang Aki membentuk Rakryan Sancang sejak kecil sudah jago renang di pantai dan lautan. Jadi seorang nelayan tangguh di Lautan Samudra Selatan ( Samudra Hindia ).

Entrepreneurship Rakryan Sancang terasah begitu remaja/aqil baligh sudah mampu membuat Perahu dengan tangannya sendiri.

Sejak usia anak dan remaja ‘ Milenial ‘, Rakryan Sancang sudah menjadi sosok Urang Sunda yang kekar, gagah, jawara sejati dan entrepreneur.
Terbukti pada usia remaja ‘ Milenial ‘ belia mampu mengarungi lautan lepas ‘ touring ‘ dari Pantai Selatan Garut menuju Teluk Pandeglang Banten hanya sendirian gunakan perahu buatan sendiri.

Demi mendengar bahwa Sang Ayah telah mangkat ( wafat ) dan dapat informasi dari para pedagang Arab bahwa di Jazirah Arab ada agama ‘ anyar ‘ baru yaitu Islam dan ada jago ‘ Milenial ‘ tanpa tanding bernama Ali ( bin Abi Tholib ).
Tujuan perjalanan pun bergeser menuju Jazirah Arab menumpang kapal pedagang Arab.

Hal ini sangat jelas menunjukan bagaimana jiwa dan karakter seorang Rakryan Sancang sebagai seorang pejuang petarung berbasis ilmu ‘ elmu pangaweruh ‘ pengetahuan tinggi serta selalu mencari kebenaran sejati.
Bukan sama sekali Urang Sunda ‘ Remaja Rebahan ‘ tukang sare/tidur dan tukang ngalamun, pengikut setia ‘ cenah, susuganan dan mudah – mudahan ‘.

Dia seorang pekerja keras, pejuang petarung, pemburu ilmu sejati dan seorang entrepreneur belia.

Putra Mahkota Tarumanagara, pilih jadi Nelayan/Petani dan Entrepreneur

Sebagai putra Mahkota anak tunggal Raja Tarumanagara Prabu Kertawarman,
Rakryan Sancang sangat mudah untuk jadi seorang Raja Tarumanagara penerus Sang Bapa Prabu Kertawarman.
Namun hal itu tidak serta merta Ia ambil dan lakukan.

Ruh suci yang telah bersemayam dan menyatu dengan ragawinya menuntun Ia untuk memilih jalan hidup sederhana hanya sebagai nelayan, petani dan pengabdi/pelayan masyarakat/rakyat.

Setelah Ia bertemu dengan Sayyidinaa Ali bin Abi Tholib untuk ngajak ‘ duel ‘ tarung adu jajaten/kesaktian dan berakhir Ia takluk bertekuk lutut di hadapan Sayyidinaa Ali, maka sebagai konsekuensi dari ageman falsafah hidupnya untuk jadikan sebagai Guru siapapun yang berhasil mengalahkannya.

Rakryan Sancang pun masuk Islam dengan mengucapkan Dua Kalimah Syahadat dan jadi Santri Sayyidinaa Ali ngala elmu Islam.

Sekembalinya ke tanah kelahiran wilyah Kerajaan Tarumanagara,
Ia tidak memilih untuk jadi Raja Tarumanagara penerus estafet kepemimpinan di Kerajaan Tarumanagara.
Ia memilih kembali ke daerah pegunungan Sancang pantai Selatan Garut mendirikan Pasantren Pertama di daerah Pakenjeng.
Para murid/santri awal Rakryan Sancang adalah para jawara taklukannya yang telah Ia jadikan sebagai sahabat/sohib.

So, Rakryan Sancang telah tentukan pilihan hidupnya.
Tidak ambil kursi Raja, sebagai Putra Mahkota Tunggal, sangat berhak kuat jadi Raja Tarumanagara.

Ia lebih memilih jadi abdi masyarakat/rakyat yaitu sebagai Penyebar Agama Islam plus sebagai petani – nelayan.

Apakah Urang Sunda sa’at ini, terutama generasi Milenial/muda, bisa dan mampu jadi pemimpin di Republik Indonesia tercinta ini ?

Sangat bisa dan mampu, tapi sa’at ini jutaan Urang Sunda telah dan sedang kehilangan Jati Dirinya, ke- Berani -an dan Sejarah Hidupnya sehingga terpapar penyakit jiwa : rendah diri, tidak pede dan tidak punya pendirian hidup yang kuat.

Hanya satu jalan yaitu
Gali secepatnya Sejarah Sejati Urang dan Bangsa Besar Sunda !

Bandung, Rabu, 14 Desember 2022

Muhammad Zaki Mubarrok

Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan