banner 728x90

Hujat, Hina, Bunuh, Bantai, Perkosa, Perbudak, Jajah Dan Makar Adalah Dampak 76,9 Tahun Bangsa Indonesia Lantunkan ” Indonesia Raya 1/3 Stanza ” !

Hujat, Hina, Bunuh, Bantai, Perkosa, Perbudak, Jajah Dan Makar Adalah Dampak 76,9 Tahun Bangsa Indonesia Lantunkan ” Indonesia Raya 1/3 Stanza ” !

Sejak Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945 seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali telah dan sedang hafal dan terbiasa melantunkan lagu kebangsaan Indonesia Raya hanya 1/3 Stanza saja.
Dimana isinya dangkal karena hanya ajarkan seluruh komponen dan anak bangsa terlatih berteriak lantang :
Merdeka ! Merdeka ! Merdeka !

Seolah setelah bisa dan mampu teriakan yel – yel ” Merdeka ! Merdeka ! Merdeka ! ” segala urusan tentang hidup dan kehidupan berbangsa dan bernegara usai sudah, tamat.

Apa akibat dan dampaknya ?

Sungguh, hal ini berdampak pada ‘ mindset ‘ pola fikir dan pola aksi yang kehilangan orientasi dan target capaian jadi bangsa berdaulat, beradab dan bermartabat.
Seharusnya sebagai bangsa berbasis agama, maka seluruh komponen pemeluk agama ( apapun ) ‘ berkomat kamit ‘ dalam berbagai kondisi dan keadaan lantunkan kalimat Thoyyibah, pujian, harapan, permintaan, permohonan dan penghambaan ( perendahan diri ) yang terangkum lewat untaian du’a kepada Allooh SWT Tuhan YME Sang Maha Penguasa.

Munajat personal dan komunal supaya kondisi Tanah dan Air NKRI tercinta senantiasa suci dan bersih. Otomatis para manusia penghuni NKRI ( suci dan bersih ) pun menjadi insan ( manusia humanis ) yang mulia dan berperadaban paripurna.

[ Tanah dan Air yang penuh ‘ noda ‘, ‘ racun ‘ dan ‘ limbah ‘ jadi komponen utama rusak dan hilangnya ke- humanis -an manusia Indonesia ]

So, sangat wajar karakter asli ‘ Jati Diri ‘ bangsa Indonesia yang humanis dan rahmatan lil ‘aalamiiin hilang musnah dari muka bumi Ibu Pertiwi.
Beringas, hujat -is, hina -is, demo -is dan makar -is menjadi karakter melekat kuat pada diri dan jiwa bangsa Indonesia, gantikan jati diri hakiki bangsa Nusantara Indonesia.

Destroyer ( penghancur ) dan Destruktif ( perusak ) jadi ciri khas orang yang anti NKRI.

Selama lebih dari 76 tahun sejak merdeka, maka bangsa Indonesia tidak pernah lakukan du’a bersama yang berakibat sangat fatal yaitu bangsa Indonesia sangat sulit muliakan ” Tanah, Air ” dan ” Manusia “.
Puncak prestasi dari bangsa dan negara Indonesia sampai sa’at ini adalah sebagai negara penghutang, perusak dan pe- mangkrak 14.006.450 hektar lahan jadi kritis, bangsa miskin ‘ dhu’afa ‘ berbasis alam kaya raya dan bangsa penghamba.

[ Era Suharto/Soeharto sebagai penghamba Amerika Serikat dan Sekutu Eropa sampai sa’at ini mulai bergeser bertambah jadi penghamba China ]

Akibat terberat dari bangsa yang tidak punya Jati Diri, maka harga diri jadi barang obralan dan lelangan.
Sehingga hanya beberapa gelintir orang kaya raya Indonesia saja yang bisa beli.
Pengusaha didikan dan binaan Suharto/Soeharto saja yang dapat kuasai seluruh sendi kehidupan berbangsa bangsa Indonesia.

Mereka ( pengusaha ) danai dan sponsori para penguasa ( sipil dan militer ) dan politisi sejak pra lahir, merangkak sampai berjaya.
Jadi penghamba dan pengabdi para pengusaha ( 9 Naga ) adalah harga dan jabatan pas bagi para penguasa.

Bagaimana nasib 99 % warga negara Indonesia yang hidup miskin papa ?

Cukup kasih ‘ janji – janji politik ‘ sa’at kampanye jelang Pilkada, Pileg dan PilPres. Selanjutnya terserah Kepala Daerah ( Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden ), Anggora Dewan ( DPRD, DPR – DPD – MPR RI ) dan para Pemilik Partai ( Ketua Umum ).

1 % warga negara Indonesia yang kaya raya ( pengusaha ) bersinergi/berkolaborasi dengan para penguasa ( sipil dan militer ) bebas lepas menguasai, memanfa’atkan, merusak dan me- mangkrak -an Tanah dan Air di seluruh wilayah Indonesia tanpa kecuali.
Demi dan untuk kepentingan pribadi, kelompok/genk/kolega sendiri maupun asing.

Hanya satu jalan dan satu cara yaitu 99 % warga negara Indonesia yang miskin, terzholimi dan terpuruk ajarkan dan ajak ‘ kembali ‘ minta lewat untaian du’a kepada Sang Maha Penguasa dan Pemberi Allooh SWT supaya beri kesadaran serta kekuatan pada 99 % warga negara Indonesia mampu me- suci bersih -kan dan me- mulia -kan seluruh Tanah dan Air Indonesia.

Ada waktu 23 tahun
[ tahun 2022 – 2045 ]
supaya bangsa Indonesia bisa dan mampu wujudkan dan capai target Indonesia Emas Tahun 2045 nanti.
Cukup sudah bangsa Indonesia selama 76,9 tahun hanya pandai dan mahir serta profesional ungkapkan ” Merdeka ! Merdeka ! Merdeka ! “.

Mulai bulan April 2022 sampai tahun 2045 harus mahir dan pandai ngaDu’a dan muliakan seluruh Tanah dan Air Indonesia.
Supaya tepat pada tahun 2045 seluruh bangsa Indonesia tanpa kecuali menjelma jadi Manusia Mulia.

Hanya Manusia Mulia Yang Berhak Miliki Peradaban !

Bandung, Kamis, 14 April 2022

Muhammad Zaki Mubarrok

Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

#MariNyanyikanIndonesiaRaya3Stanza

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan