banner 728x90

Bagaimana Cara Supaya Bangsa Indonesia Punya Jati Diri ? … ” Melak Tangkal Jati !”

Bagaimana Cara Supaya Bangsa Indonesia Punya Jati Diri ? … ” Melak Tangkal Jati !”

Era normal, sebelum datang serangan Covid-19 ke Indonesia, pemerintah pusat dan daerah sangat sulit membuat negara terbebas dari hutang dan kebergantungan pada negara serta lembaga asung.
Pun negara sangat sulit membuat seluruh warga negara bernasib baik, mapan dan sejahtera, kecuali hanya sebagian sangat kecil kurang dari 1 % populasi penduduk Indonesia saja yang hidup mapan sejahtera bergelimang harta kekayaan dan fasilitas.

Artinya pemerintah dan rakyat/masyarakat/bangsa Indonesia pada kondisi negara normal tidak bisa meng- ubah nasib dirinya sendiri.

Bagaimana kondisi nasib bangsa dan negara Indonesia setelah Covid-19 memapar ?

Lebih parah dan tentu pemerintah dan bangsa Indonesia punya alasan yang lebih kuat lagi untuk menunda perubahan nasib.
Seluruh alasan bermuara pada anggaran,
APBN dan APBD adalah dua hal pokok dan utama berjalannya perubahan nasib bangsa dan negara.
Semuanya berujung pada biaya finansial.

Apakah benar ?

Bagi pemerintah dan penguasa adalah sangat benar karena seluruh biaya pengeluaran negara harus dan ‘ wajib ‘ lewat APBN dan APBD. Tanpa itu semua program apapun tidak akan pernah jalan.

Namun, sebagai bangsa ‘ pewaris ‘ peradaban tinggi Nusantara melakukan sesuatu perubahan lewat percepatan adalah sebuah keharusan.
Ada biaya dan tidak ada biaya sama saja.

Fakta sejarah :

NKRI sejak berdiri pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai hari ini tanggal 30 Desember 2021 tetap konsisten dan ‘ istiqomah ‘ memegang gelar ” Penghutang Se- Jati ! “, barangkali tetap bertahan sanpai tahun 2025 atau bahkan sampai tahun 2045 ( ? ).

Prestasi bangsa Indonesia terutama para penguasa negara hanya sukses mencetak para
Konglomerat
Klan Cendana, Cikeas dan Mega ( ? )
Sembilan Naga
Dan sejenisnya.

Prestasi terakhir pra Covid-19 adalah sukses membuat 14.006.450 hektar lahan kritis dan mangkrak ( data tahun 2018/2019 ).

Puluhan juta lahan kritis dan mangkrak = nasib puluhan juta petani dan nelayan mangkrak dan kritis = lebih dari 2/3 rakyat Indonesia wajib dan harus miskin.

Sangat wajar, normal dan alamiah dampaknya
Garam dan Beras saja harus beli ‘ impor ‘ dari luar negeri.
Thailand dan Vietnam merupakan donatur beras bangsa Indonesia.

Kapan mau berakhir pandemi Impor Beras dan juga Garam ?

Tidak ada satupun yang bisa jawab.

Apa yang harus bangsa Indonesia lakukan, khususnya para rakyat/rahayat/warga negara/masyarakat miskin lakukan ?

Hanya satu cara yaitu
*semua warga negara dan rakyat/rahayat miskin Indonesia mulai tahun 2022 ‘ wajib ‘ dan harus nanam *Pohon Jati* minimal satu pohon.
Negara Indonesia wajib memberi dan menyediakan Pohon Jati. Pun pemerintah Indonesia wajib menyediakan lahan untuk nanam Pohon Jati.

Target utama ada dua :

Pertama seluruh warga negara/rakyat/rahayat/masyarakat miskin ( khususnya ) punya aset dan investasi berupa Pohon Jati.
Tentu harga satu Pohon Jati pada tahun 2045 sudah mencapai puluhan sampai ratusan juta rupiah.

Kedua seluruh warga negara Indonesia punya Jati Diri dan menjadi manusia Se- Jati.

Semoga

Aamiiin

Bandung, Kamis, 30 Desember 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

MelakTangkalJatiDemiJatiDiri

LunaskanHutangNegaraDenganPohonJati!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan