banner 728x90

Haram Bangsa Indonesia ” Kelaparan ” dan ” Stunting ” : Bagaimana Bisa ?

Haram Bangsa Indonesia ” Kelaparan ” dan ” Stunting ” : Bagaimana Bisa ?

Allooh telah meng- anugerah -kan pada bangsa Nusantara – Indonesia dua pertiga luas wilayah NKRI adalah lautan.
Lautan terdiri dari tanah/pasir laut, karang laut, tumbuhan laut dan hewan/binatang laut.
Air Laut adalah bagian terpenting dan nara sumber kehidupan biota laut di lautan.

Kita tidak pernah membudidayakan ikan, apalagi sengaja ‘ ngawinkeun ‘ multi jenis lauk/ikan supaya beranak pinak.
Pun tidak perlu mengeluarkan dana sepeser rupiah untuk ngasih ‘ maraban ‘ pakan para lauk/ikan.

Sebenarnya bangsa Indonesia sa’at ini tidak perlu cemas, khawatir dan takut tidak bisa makan karena kelaparan akibat pandemi Covid-19 dan penerapan berbagai pembatasan dalam segala aspek kehidupan.
Cukup bangsa Indonesia berprofesi sebagai ” Tukang Sare, Tukang Dahar & Tukang Moyan ” saja sudah cukup, bahkan pandemi Covid-19 berdampak sampai tahun 2045 sekalipun.

Kenapa dan bagaimana bisa ?

Tadi siang, saya secara langsung mencoba makan daging ” pindang tongkol ” yang telah matang hanya pergunakan garam saja, ternyata sungguh luar biasa makan makanan ikan yang bersumber dari lautan.
Sungguh enak dan nikmat pisan.

Jadi bangsa Indonesia dalam hal ini pemerintah pusat lebih khusus Kementerian Tenaga Kerja dan Investasi membuka lowongan kerja dan merekrut ‘ khusus ‘ tenaga asing dari luar negeri hanya dan untuk ‘ ngala ‘ ngambil ikan jenis apapun dari lautan Indonesia.
Beri mereka ( para pekerja asing ) gaji atau bayaran tinggi.
Negara kandidat para pekerja/buruh itu berasal dari China, Thailand, Vietnam dan Jepang.
Pasti mereka senang !

Kenapa bangsa Indonesia tidak mampu lakukan itu semua ?

Karena bangsa Indonesia sudah termasuk pada katagori bangsa beragama ( penganut keberagaman agama ) yang kufur ni’mat.

Allooh berfirman :
” Lain ( g ) syakartum la aziidannakum walain ( g ) kafartum innaa ‘adzaabii lasyadiiid “

Ma’na umumnya adalah barangsiapa yang bersyukur akan Allooh tambah ni’matnya dan barangsiapa yang kufur/ingkar ( -i ) Allooh timpakan ‘adzab yang ( sangat ) pedih.

Sangat cocok dan pas dengan nasib yang telah dan sedang menimpa bangsa Indonesia.
Laut dan Lautan ditelantarkan dan dibiarkan walau hanya sekejap.

Apa buktinya ?

Buktinya sejak NKRI merdeka sampai detik ini pemerintah dan rakyat Indonesia ( saruana ) tidak pernah membuat dan mendirikan Sekolah SD, SMP dan SMA/K ‘ Khusus ‘ Kelautan.
Bangsa Indonesia tidak pernah membuat dan mendirikan perguruan tinggi khusus Institut Kelautan dan Perikanan Indonesia atau Institut Kelautan dan Perikanan Nusantara.

Apa akibatnya ?

Sungguh bangsa Indonesia hari ini sedang meni’mati ‘adzab Allooh.
Hanya seorang bernama
Ir. H. Djuanda dan
Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja yang telah sukses besar dan fenomenal membuat Deklarasi Djuanda/Djoeanda dan gool -kan Zona Ekonomi Eksklusif sehingga luas batas perairan Indonesia bertambah luas lebih dari 5 juta kilometer.
Namun bangsa Indonesia sama sekali tidak pernah bisa meni’mati hasil apapun dari sumber kekayaan lautnya.

Sungguh ironi dan sangat menyedihkan.
Negara tetangga Jepang, Vietnam, Thailand, Singapura, Malaysia dan China yang telah berhasil meni’mati multi jenis ikan dari perairan Indonesia.

Hal yang lebih parah lagi ternyata bangsa Indonesia jadi konsumen ikan dari negara – negara tersebut dan bangga karenanya.
Padahal ikan yang mereka jual ke Indonesia adalah hasil nyuri dari lautan Indonesia.

Sebuah perjalanan aneh dan ‘ bodoh ‘ oon ‘ permanen ‘ dari bangsa dan negara besar bernama Indonesia.

Ini fakta dan nyata !

Bagaimana caranya supaya bangsa dan negara Indonesia bisa keluar dari zona keterpurukan permanen, kemiskinan berkelanjutan, ke- stunting -an dan ‘adzab Ilahi ?

Bandung, Selasa, 26 Oktober 2021

Zaki CJI
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

NgalaLaukTiapPoeTuluyDahar!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan