banner 728x90

Santri : Antara Pusaran Politik dan ‘ Ketahanan Pangan ‘ !

Santri : Antara Pusaran Politik dan ‘ Ketahanan Pangan ‘ !

Santri pra Kemerdekaan

Sosok dan kharisma seorang ” Kiai/Kyai ” atau ” Ajengan ” begitu luhur dan mulia di mata para santrinya tanpa kecuali.
Mulai dari perilaku keseharian dalam menggali rizqi berbasis pe- mulia -an alam lingkungan sampai kehidupan sangat pribadi yaitu keluarga.
Semuanya jadi bahan ajaran dan anutan para santri, suri tauladan.

Para ” Kiai/Kyai ” atau ” Ajengan ” tidak mengajarkan teori kehidupan, tetapi langsung mencontohkan dalam kehidupan sehari-hari yang sederhana.
Pada umumnya para guru santri ini bergumul dengan dunia pertanian, peternakan dan perikanan.

Hal ini sangat berpengaruh besar dalam perwujudan pola hidup masyarakat yang berdaulat dan mandiri dalam kebutuhan pangan.
Sehingga jadilah masyarakat yang berketahanan pangan sebagai syarat utama terbentuknya ketahanan nasional.

Namun, ibarat pepatah,
” Nanam padi, pasti rumput dan alang – alang pun tumbuh ! “

Para ” Kiai/Kyai ” atau ” Ajengan ” telah berusaha dan berupaya keras menjadikan para santri sebagai ( para ) padi.
Seiring tumbuhnya santri sebagai pemulia, perawat dan penjaga kesucian tanah ( bumi ) dan air,
maka ikut tumbuh subur pula ( para ) gulma yaitu rumput dan alang – alang sebagai generasi para perusak dan pengkhianat ibu pertiwi.

Para ” Kiai/Kyai/Ajengan ” serta santri sudah membumikan pemuliaan terhadap manusia, tanah ( bumi ) dan air serta makhluk hidup lainnya dalam tatanan hidup yang harmonis.
Kebudayaan yang berke’arifan lokal berhasil menelorkan jargon – jargon heroik berbasis pemuliaan tanah dan air.

Hubbul wathon minal iimaaan
” Cinta negara adalah ( bagian ) dari iman ! “

Begitu sangat menyatu dan menjadi bagian tak terpisahkan dari pola hidup para santri, khususnya santri Nahdhotul ‘Ulama ( N.U. ).

Namun, bagi para mantan bangsa penjajah ( imperialis ) justru hal ini sangat mengganti target mereka untuk kembali bisa menguasai dan menjajah bangsa dan negara Indonesia dengan berbagai cara dan multi bentuk.
Termasuk mereka memasukan pola fikir dan ideologi anti NKRI dan anti Pancasila kepada generasi muda bangsa Indonesia lewat pengajaran di dunia pendidikan formal.
Sayangnya, para lulusan dari dunia pendidikan formal yaitu sekolah dan kuliah di perguruan tinggi telah berhasil mengubah dan membentuk ‘ mindset ‘ para lulusannya yang anti pemuliaan pada tanah, air dan alam lingkungan.

Awal kemerdekaan masih terasa sebagian besar bangsa Indonesia masih kuat dalam memuliakan bumi ‘ Ibu Pertiwi ‘.
Selama era orde baru telah berhasil mengubah total hal tersebut, sehingga lulusan sekolah dan kuliah/perguruan tinggi hanya untuk memenuhi kebutuhan industri ( pabrik ) jasa dan keuangan.
Jargon ” Industrialisasi ” dan ” Swastanisasi ” jadi pondasi pembangunan di seluruh bidang kehidupan.
Jadilah sempurna bangsa dan negara Indonesia sebagai budak dan abdi negara industri dan kapitalis.

Hal paling parah yang memapar bangsa Indonesia sa’at ini adalah menjelma sebagai bangsa yang tidak punya kedaulatan dan ketahanan pangan.
Hanya jadi bangsa konsumen pangan dunia dan peng- impor sejati.

Semoga para santri sa’at ini bisa cepat kembali pada fithrah sejati bangsa besar pewaris peradaban Nusantara.
Sebagai pemulia tanah, air, udara/atmosfir, alam dan makluk hidup untuk mewujudkan kedaulatan dan ketahanan pangan.

Aamiiin

Bandung, Jum’at, 22 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

2021SantriBerdaulatPanganMenujuIndonesiaEmas

SantriMenujuResolusiJihadPangan2022

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan