banner 728x90

Pare Perelek : ‘ The New ‘ Budaya Baru !

Pare Perelek : ‘ The New ‘ Budaya Baru !

Pare = Padi
Perelek = Giat Aksi Udunan/Rereongan

Dahulu sekitar tahun 1980 an di Bandung Raya masih mengenal dan berlaku budaya beas perelek.
Urang Sunda sangat mengenal kebiasaan udunan alias nyumbang dengan beras secangkir/segelas.
Itulah ‘ beas perelek ‘ sebuah kebiasaan yang telah menjadi kebiasaan.

Beras yang terkumpul kemudian bisa sangat berguna dan bermanfa’at khususnya bagi orang yang tidak punya beras sama sekali di rumahnya.
Sebuah pola gerak kebersamaan dalam hidup bermasyarakat yang bersumber pada niat berbagi pada sesama.

Entah siapa orang yang pertama memulai gerak aksi nyata ini.
Pun tidak ada data yang bisa menerangkan dengan pasti mulai hari, bulan dan tahun berapa mulai berjalan.

Namun, seiring perkembangan zaman yang semakin menggerus bahkan sedikit demi sedikit dan lambat pasti, maka satu persatu ke’arifan lokal urang Sunda tersebut hilang tanpa jejak.
Salah satunya adalah gerak aksi berbagi ‘ udunan ‘ bernama beas perelek.

Hal yang paling menarik adalah bagaimana urang Sunda baheula ( sebelum tahun 2000 an ) masih mengenal dan menjalankan adat kebiasaan berbagi dengan sesama.
Udunan ( nyumbang ) segelas/secangkir beras untuk diberikan bagi orang yang membutuhkan.

Sa’at ini, terutama sejak bulan Maret 2020 setelah virus corona menyerang dan memapar bangsa Indonesia dan juga dunia, maka terjadi masalah besar dan memaksa manusia mengubah pola hidup dan kebiasaan hidupnya.
Semua orang terkena dampak pandemi Covid-19 dan menurut Marie Pangestu ( salah seorang pejabat di ‘ World Bank ‘ ) akan berlangsung selama 10 tahun sampai tahun 2031.

Dampak paling utama dari pandemi Covid-19 adalah manusia kesulitan dan kekurangan pangan, terutama makanan pokok.
Bangsa Indonesia sangat bergantung pada beras sebagai makanan pokok hampir seluruh penduduknya.
Masalah besar bangsa dan negara Indonesia yaitu masalah pertanian, khususnya padi.
Sudah tidak ada kedaulatan pangan apalagi ketahanan pangan.

[ Bangsa Nusantara terkenal sebagai bangsa agraris dan maritim. Hasilnya dirampok dan dijarah para penjajah/kolonialis/imperialis.
Zaman Sukarno sulit makan karena baru merdeka dan tidak mau bergantung pada bantuan Amerika Serikat dan Sekutunya.
Zaman Suharto terjadi alih fungsi lahan pertanian besar – besaran jadi lahan industri/pabrik dan jasa lainnya. Serta jadi konsumen utama bantuan dari Amerika Serikat dan Sekutunya. Mulai lah penderitaan panjang … ]

Siapapun Presiden Republik Indonesia pasca keruntuhan Suharto, maka dia ( presiden ) berhadapan langsung dengan masalah pangan, lahan pertanian/pangan ( sawah ) dan nasib para petani yang terpuruk.
Akibat ‘ Swastanisasi ‘ dan ‘ Industrialisasi ‘ produk Suharto, maka tanah dan lahan negara bisa jadi milik swasta dan perorangan serta asing.
Itulah penyebab utama 70 % aset negara menjadi milik asing dan mereka kuasai.

Bisakah kita merebut seluruh aset negara yang telah asing dan swasta kuasai ?

Tentu saja bisa dan harus, tetapi
harus ada konsekuensinya.
Pemerintah dalam hal ini Presiden Jokowi harus melakukan hal yang sama persis pada kasus pengambil alihan saham PT Freeport.
Jadi negara Indonesia harus menyediakan dan punya uang sangat besar untuk ( bisa ) membeli kembali aset khususnya lahan/ladang/sawah/bukit/hutan/tanah yang telah dan sedang swasta/asing miliki dan kuasai.

Punyakah dan mampukah negara Indonesia membeli itu semua ?

Tentu tidak punya karena dana APBN pun berasal dari berhutang pada bangsa asing dan ‘ World Bank ‘.
Kedua para perampok WNI selama Suharto berkuasa yaitu genk Cendana dan para konglomerat hitam ( Cina dan non Cina ) yang terbukti telah dan sedang menyimpan dana serta harta ( hasil ) rampokan di luar negeri, tentu saja tidak Alan mau sampai kapanpun Presiden Jokowi mengambil dan mengembalikan semuanya untuk negara.

[ Gus Dur saja yang sudah berencana melakukan itu, kalah cepat oleh para penjahat/perampok dan pengkhianat negara. Beramai – ramai menumbangkan dan menggusur Gus Dur.
Apalagi sekarang para penjahat dan pengkhianat bsngsa dan negara itu sudah punya partai yang siap bertarung dan jadi penguasa kembali NKRI tahun 2024 ]

So, apa atuh yang bisa kita perbuat, khususnya bagi yang masih cinta dan sayang pada NKRI ?

Hanya satu hal yang bisa dan harus bisa kita lakukan.
Yaitu bagaimana pun caranya kita harus ciptakan dan wujudkan ke- daulat -an pangan lewat usaha dan upayakan sendiri.

Tidak punya sawah, tidak punya lahan pertanian dan tidak punya tanah sejengkal pun.
Benar, kita tidak punya itu semua.
Kita harus menciptakan ‘ The New ‘ sawah lewat nanam ‘ tangkal pare ‘ padi dalam polibag.
Hanya itu yang kita bisa dan mampu lakukan.

Biarkan China dengan Yuan Longping -nya yang sedang kembangkan ” Padi Raksasa ” ( tinggi 2 meter ) supaya tahun 2022 bisa kuasai pangan dunia.
China punya pemerintah serius yang siap fasilitasi semuanya, para saintisnya siap tempur dan masyarakatnya punya tekad baja dan mental pekerja keras.

Bangsa Indonesia hanya punya impian besar sebagai bangsa pemilik kedaulatan dan ketahanan pangan.
Pemerintah pusat dan daerah sangat tidak serius untuk mewujudkan ketahanan pangan secepatnya.
Masyarakat pun sudah jadi pemilik karakter dan mental malas dan pemalas.
Apalagi di era pandemi Covid-19 dan gencarnya gerakan/program digitalisasi semua sektor dan lini kehidupan.

[ era Suharto sektor ril ( khususnya pertanian ) terancam ‘ Swastanisasi dan Industrialisasi ‘,
sedangkan sekarang sektor ril terancam ‘ digitalisasi ‘ dan ‘ dunia maya ‘ ]

Semoga pada tahun 2021 ini terjadi dan terwujud ada gerak aksi nyata serta masal menanam ‘ melak pare ‘ padi dalam polibag di Kots Bandung dan sekitarnya.
Pada tahun 2022 urang Bandung Raya sudah bisa panen dan melakukan sebuah kebiasaan baru ‘ The New ‘ bernama Pare Perelek.
Padi hasil panen dari media polibag secara bersama – sama mereka kumpulkan untuk konsumsi sendiri dan berbagi dengan orang yang miskin dan sangat membutuhkan.

Semoga cepat terwujud,

Aamiiin

Bandung, Senin, 18 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

EuweuhSawahPolibagJadi

MelakSoranganRawatSoranganManenSoranganDaharBareng

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan