banner 728x90

Indonesia Kalah ‘ Perang ‘ : China Siap Gantikan Vietnam & Thailand Pasok Beras !

Indonesia Kalah ‘ Perang ‘ : China Siap Gantikan Vietnam & Thailand Pasok Beras !

Mungkin kah ?
Bisa jadi kah ?

272 juta jiwa penduduk Indonesia tentu saja merupakan target pasar ‘ beras ‘ bagi negara manapun dan pengusaha manapun yang bisa memasok makanan utama/pokok mayoritas bangsa Indonesia.
Sampai detik ini negara Vietnam dan Thailand adalah pemasok utama kebutuhan beras negara Indonesia.

Tentu saja sebagai bangsa yang sangat kreatif dan produktif negara China tidak akan melepaskan begitu saja peluang empuk dan prospektif ini.
Karet gelang dan jepit rambut saja bisa masuk ke Indonesia, apalagi sekelas dan sepenting komoditi beras.

China sudah mentargetkan tahun 2022 menjadi pemegang dan pengendali pangan dunia.
” The number one ” adalah target utamanya.

Bagi China sangat mudah mewujudkan target tersebut terutama untuk bisa menguasai negara Indonesia.
[ Amerika Serikat sampai kapanpun tidak bisa kuasai mutlak Indonesia karena makanan pokok keduanya sangat berbeda ]
Bangsa China makanan pokoknya beras, pun demikian bangsa Indonesia.

Jadi, tahun 2022 bangsa China bisa dengan mudah kendalikan dan kuasai Indonesia tinggal menunggu hitungan hari dan bulan saja.

Benarkah hal ini bisa terjadi ?

Bisa, bahkan bisa lebih cepat terjadi.
Pemerintah Indonesia telah lama mencanangkan program Ketahanan Pangan.
Namun sampai detik ini masalah dunia pertanian terus menjadi persoalan yang tidak kunjung ada solusinya.

Tanah pertanian tidak pernah berdaulat.
Nasib para petani pun terus terpuruk dan miskin.
Generasi muda sudah tidak berminat lagi menjadi petani.

Yang berkembang dan tetap eksis hanya para pengusaha pupuk dan mafia ( calo ) dunia pertanian.

Gambaran singkat saja,
Seorang pejabat berwenang atas impor beras hanya cukup tanda tangan saja.
Impor beras sebanyak 3 juta ton beras dari Vietnam 1,5 juta ton dan Thailand 1,5 juta ton.
[ 3 juta ton = 3.000.000.000 kilogram ]
Katakan dia dapat ‘ fee ‘ Rp 1 per kilogram, maka dia sudah pasti dapat uang Rp 3.000.000.000 satu kali transaksi.

Apalagi kalau ‘ fee ‘ untuk dia Rp 100 per kilogram ?

Inilah mental dan virus yang sedang menerpa dan jadi penyakit kronis bangsa Indonesia khususnya para pejabat dari pusat sampai daerah.

Dampak ini terwujud akibat sistem pendidikan nasional yang tersesat karena sangat mengejar target pemenuhan kebutuhan sektor non ril yaitu jasa dan keuangan.
Hari ini bangsa kita, mau atau pun tidak dan suka maupun tidak,
harus menerima.

14.006.450 hektar lahan kritis tidak produktif tidak ada yang peduli.
Negara tidak peduli dan masyarakat pun sudah kehilangan gairah untuk menggarapnya karena untuk menyentuh pun tidak bisa.

Pandemi Covid-19 semakin memperparah kondisi dan keterpurukan ini.

Pertanyaan selanjutnya adalah,

Apakah pemerintah dan rakyat Indonesia bisa dan mampu ( secara cepat ) me- mulia -kan kembali 14.006.450 hektar lahan kritis menjadi lahan pertanian tanaman pangan ?

Hanya pemerintah dan rakyat Indonesia yang mampu dan bisa jawab.

Apakah tahun 2022 bangsa dan negara Indonesia bisa mewujudkan diri sebagai bangsa berkedaulatan pangan,
atau kah akan me- maten -kan diri sebagai konsumen sejati beras dari Vietnam, Thailand dan China ?

[ bukan Allooh Tuhan YME yang harus menjawab tentunya ]

Bandung, 17 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan