banner 728x90

Ke’arifan Lokal Nusantara ” Sampah ‘ Organik ‘ Jadi Nutrisi Tumbuhan ” VS Ke’arifan Entah Berantah ” Sampah ‘ Apapun ‘ Jadi Nutrisi Pengusaha/Bisnis & Musibah ” !

Ke’arifan Lokal Nusantara ” Sampah ‘ Organik ‘ Jadi Nutrisi Tumbuhan ” VS Ke’arifan Entah Berantah ” Sampah ‘ Apapun ‘ Jadi Nutrisi Pengusaha/Bisnis & Musibah ” !

Pembuktian Terbalik

Kenapa setelah Indonesia merdeka dan industri/pabrik serta digitalisasi berkuasa ” Sampah ” jadi masalah dan musibah ?

Ingat setiap anak yang pernah mengenyam pendidikan formal di bangku sekolah bahkan kuliah di perguruan tinggi, terutama yang telah mempelajari ( minimal baca ) teori ekonomi asing yang mengajarkan
” … Pengeluaran sekecil – kecilnya untuk mendapatkan hasil sebesar – besarnya ! “

Ternyata bangsa Indonesia dari mulai warga negara sampai pengelola negara merupakan para anak didik sekolah dan kuliah yang ta’at dan patuh pada ajaran ekonomi asing tersebut.
Jadilah bangsa Indonesia sebagai bangsa yang pelit karena mengamalkan ajaran ekonomi tersebut.

Salah satu imbas dan bukti nyata adalah tentang sampah.

Pemerintah cukup membuat aturan dan kebijakan produk para anggota DPR RI ( katanya wakil rakyat, sejatinya wakil dan duta besar partai dan Ketua Umumnya ) yang tentu saja penganut setia ajaran ekonomi asing tersebut.
Tataran implementasi cukup membuat bak sampah, roda sampah, tempat penampungan sementara sampah, mobil truk pengangkut sampah, tempat akhir pembuangan/penyimpanan ( bank ) sampah dan perusahaan pengelola serta dinas bidang sampah.
Selesai sudah tugas terjalankan.

Masyarakat dan warga negara pun cukup buang sampah, bayar retribusi sampah, kontrol tempat sampah dan menunggu sampah jadi masalah sampai terjadi musibah sampah.
Cukup sudah kewajiban sebagai warga negara telah tertunaikan.

Sebagian kecil masyarakat hidup dan bisnis dari sampah.
Mulai profesi sebagai pemulung sampah, pengepul sampah sampai kreator sampah.

Semuanya kompak terapkan ajaran bisnis berbasis ke’arifan ekonomi asing entah berantah yang tadi telah tersebutkan.

Menarik dan sungguh sangat ‘ pikasebeleun pisan ‘ dalam kenyataan di lapangan jargon
” sampah jadi berkah ! “
kalah dampak dari pada
sampah jadi musibah !

Musibah yang menimpa ratusan jiwa lebih dari 150 masyarakat sekitar Cireundeu Cimahi Leuwi Gajah terkubur sia – sia akibat longsoran tanah dan sampah jadi bukti nyata dan mendunia bahwa sejatinya sampah efektif jadi musibah.

Siapa yang peduli pada sampah khususnya organik ?

Manusia sampai detik ini belum ada dan tidak akan pernah ada yang mau jadi konsumen setia sampah organik.
Artinya orang yang bersedia dan mau jadikan sampah organik sebagai bahan pangan harian.

Kecuali dua makhluk Allooh yang sampai sa’at ini teruji secara berkelanjutan sebagai konsumen sampah yaitu ‘ yang terhormat ‘ para ( komunitas ) cacing dan maghoot/magot.

Apakah para ‘ cacing dan maghoot/magot/bilatung ‘ lebih mulia dari pada para manusia ?

Ke’arifan lokal asli Nusantara

Para sesepuh dan pendahulu urang Sunda dan Nusantara telah membuktikan dan mengajarkan bahwa manusia terdahulu ( tidak mengenyam pendidikan asing ) lebih mulia dari pada para bangsa pendatang penjajah dari Eropa, Sekutu dan Asia.
Terutama lebih mulia dari pada ‘ cacing dan maghoot/magot/bilatung ‘.

Mereka sangat sederhana saja memperlakukan sampah – sampah organik.
Cukup kumpulkan sampah dan kemudian masukkan ke dalam lubang atau lombang yang telah dibuat serta terakhir melakukan ritual lewat ‘ penguburan sampah “.
Simpel dan sangat mudah serta tidak menimbulkan masalah apapun.
Apalagi bau yang sangat menyengat.

Urang Sunda terdahulu sangat sadar sekali atas kelemahan dirinya yaitu sampai kapanpun tidak akan pernah mungkin dan tak bisa jadi konsumen ( pemakan ) sampah organik.
Maka adalah konsumen terbaik dari sampah organik yang telah terkubur cukup lama hanyalah tanaman dan pepohonan.

Alamiah dan futuristik !

[ hari ini 14.006.450 hektar lahan kritis nganggur tak berma’na dan berguna hanya jadi beban alam saja.

Jutaan hektar lahan kritis tersebut gali minimal kedalaman 5 meter.
Pake tempat khusus pembuangan akhir sampah organik.
Biarkan 6 sampai 12 bulan setelah terkubur tanah.

Tahun 2022 sok tanami multi pohon dan tumbuhan serta tanaman ]

Bandung, Sabtu, 16 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan