banner 728x90

Ber- Bicara, Mem- Baca, Me- Nulis Terakhir Ber- Fikir !

Ber- Bicara, Mem- Baca, Me- Nulis Terakhir Ber- Fikir !

Setiap anak yang lahir dari rahim seorang ibu sejak masuk ke alam dunia, maka pasti melewati periode dan tahapan pembelajaran yang langsung tiap ibu ( orang tua ) lakukan.
Setelah setiap bayi bisa menangis dan tertawa.
Sang ibu pasti mengajarkan pada bayinya dengan berbagai cara supaya sang anak bisa dan mampu berbicara walau hanya satu, dua atau tiga kata :
” Mamah “, ” Makan “, ” Minum ” dengan pelafalan yang sangat tidak menenuhi kaidah bahasa tentunya.
Terkadang hanya bisa antara sang ibu dan balita saja yang saling memahami.
[ ceuk urang Sunda mah bari ‘ cacadelan ‘ ]

Setelah anak bertumbuh giginya, bisa jalan dan berlaku, pun kosa kata bahasa semakin bertambah, barulah sang ibu mengajarkan anak supaya bisa dan mampu membaca dengan kadar kemampuan dia tentunya.
Ada ibu yang langsung ajarkan cara membaca atau lewat bantuan orang lain.
Sejak masuk ‘ play group ‘ dan ‘ taman kanak – kanak ‘.

Pelajaran menulis mulai menerpa setiap anak yang baru masuk ke sekolah dasar.
Mereka setiap hari menulis dan terus menulis huruf demi huruf, kata demi kata dan terakhir kalimat demi kalimat.
Kebiasaan yang berulang – ulang menghantarkan para anak jadi ahli/pakar menulis.
Menulis semua bahan materi pelajaran yang sekolah programkan dan jadi mata pembelajaran di SD, SMP, SMA/K.

Sejak sang anak bisa dan mahir berbicara lewat untaian kata dan kalimat, membaca dan menulis di usia sekolah.
Maka sejak masuk usia remaja, sang anak mulai belajar menggunakan otak dan akalnya untuk ‘ mikir ‘ berfikir.

Sayang sekali sistem pendidikan nasional Indonesia tidak mengajarkan setiap anak sekolah untuk mahir dalam berfikir, hanya mengasah kemampuan dan keahlian anak untuk memilih dengan cepat.
Setiap peralihan tingkat atau kenaikan kelas selalu harus melewati tahapan uji kemampuan bernama ujian berbasis soal – soal yang jawabannya sudah tersedia dalam bentuk pilihan berganda.

Seolah kebiasaan ini sudah jadi alat ukur formal untuk menentukan seorang anak masuk ranking ‘ tiga ‘ besar atau tidak.
Bahkan hasil jawaban berganda ini menentukan ‘ lulus ‘ dan ‘ tidak lulus ‘ seorang anak yang menempuh pendidikan formal di sekolah.
Dampak dari pola dan sistem pendidikan nasional seperti ini menjadikan para anak didik menjadi generasi yang ‘ rawan solusi masalah ‘.
Artinya mereka sangat terbiasa menghadapi masalah dan tantangan apapun harus telah tersedia dan disediakan multi jawaban, mereka tinggal menentukan pilihan saja.
Kondisi seperti ini berlangsung puluhan tahun, sehingga pelan namun pasti, seluruh daya kreativitas dan kemampuan nalarnya hilang dan terbunuh.

Kemampuan nalar hilang menjadi penyebab utama para anak sekolah tidak bisa lagi melakukan analisis pada berbagai persoalan dan permasalahan yang menimpa diri dan masyarakat serta lingkungan.
Begitu pun setelah memasuki ranah perguruan tinggi, karena daya nalar dan kemampuan analisis sangat rendah dan lemah, maka setelah menjadi sarjana pun hanya menjadi ‘ sarjana berijazah formal ‘ yang berkemampuan sebagai pemasok dunia buruh, karyawan, pegawai dan budak para penguasa institusi dan pengusaha pemilik pabrik/industri.

Jadilah para ‘ pemburu ‘ buruh alias gaji alias bayaran.

Daya nalar dan
Kemampuan analisis yang mumpuni hanya bisa muncul karena proses pelatihan, pengulangan, pengasahan yang rutin dilakukan secara langsung tanpa henti.
Itu semua terangkum dalam ( proses ) kemahiran menulis.
Banyak orang jadi pintar dan cerdas karena mahir menulis.

Namun lebih banyak lagi orang ( berpotensi ) pintar dan cerdas, tapi tidak bisa sama sekali menulis.
Akhirnya jadilah mereka sebagai orang yang hanya pintar bicara, tanpa bisa merealisasikan dalam dunia nyata.

Menulis sangat butuh pengetahuan dan wawasan yang luas serta analisis atas setiap kondisi/masalah.
Hal ini menjadi modal dasar dan utama bagi seseorang supaya terbiasa ( mampu ) membaca multi situasi, cepat melakukan analisis dan terakhir bisa menemukan multi solusi dengan cepat.

Semoga generasi muda khususnya para mahasiswa dan sarjana multi jurusan se Indonesia mulai belajar dan menggunakan akal, otak dan fikiran lewat tulisan.
Menulis apapun, dimanapun dan kapanpun.

Masalah, persoalan dan tantangan hidup selalu dan senantiasa datang tanpa terduga dan tidak perlu ngasih tahu pada kita.

Hidup berundividu, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara tidak seperti persoalan ujian yang jawabannya sudah tersedia tinggal memilih.
Kehidupan nyata dan segala bentuk permasalahannya hanya bisa lewat jawaban nyata/ril/langsung dan harus lewat pencarian dan penggalian, bukan hanya tinggal memilih.

Tulislah apapun masalah dan persoalan hidup kalian untuk bisa menentukan dan mencari tanpa henti solusi dan jalan keluar terbaik.

Semoga,

Aamiiin

Bandung, Sabtu, 16 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan