banner 728x90

Belajar Mikir !

Belajar Mikir !

Bangsa Indonesia hari ini miskin karena ?
Ummat Islam Indonesia mayoritas miskin karena ?
Lebih dari 100 juta pelajar, mahasiswa dan santri se Indonesia tak berdaya karena ?
14.006.450 hektar lahan subur sa’at ini se Indonesia jadi lahan kritis, mangkrak dan nganggur karena ?
Lebih dari 70 % lahan dan aset negara hari ini asing kuasai karena ?
Tanah, Air, Udara/Atmosfir sudah tidak berdaulat dan merdeka karena ?

Lebih dari dua pertiga bangsa Indonesia sudah tidak perduli lagi pada nasib para petani dan kondisi dunia pertanian serta lahan dan sawah.

Apakah tahun 2021 menjadi titik nadir dan awal menuju bangsa dan negara Indonesia menjadi ” the new ” negara bangsa terjajah kembali seperti era masa kolonialisme dan imperliasme pra Kemerdekaan Indonesia ?

Ataukah jadi titik awal keberangkatan menuju Indonesia Emas pada tahun 2045 ?

Presiden Joko Widodo pada tahun 2024 berakhir.
Perebutan lebih dari 51 % saham kepemilikan ” PT Freeport ” tidak jelas akhirnya, menjadi lebih besar bahkan seluruh saham jadi milik NKRI ataukah kembali lepas semuanya tidak ada seorangpun yang tahu.

Pandemi Covid-19 sangat berpeluang sekali menjadikan bangsa Indonesia menjadi antek dan abdi asing seutuhnya.
Dampak pandemi Covid-19 sejak bulan Maret 2020 memaksa negara Indonesia meneruskan berhutang pada bangsa dan lembaga asing.
Akibatnya bangsa Indonesia menjadi bangsa lemah karena tidak berdaya pangan serta semuanya sangat bergantung pada bangsa dan negara asing.
Seluruh kebutuhan hidupnya harus meng- impor dari negara luar.

Sunnatullooh, orang Islam biasa mengatakan.
Alamiah, secara umum biasa menyebut siapapun orang yang bisa menguasai sumber pangan menjadi pengendali kehidupan manusia sekitarnya.

Ketika seseorang menguasai sumber pangan lokal, regional, nasional otomatis dia menjadi tokoh sentral pengendali kehidupan level lokal, regional dan nasional suka maupun tidak suka.
Bahkan begitu siapapun yang bisa dan mampu secara permanen menguasai sumber pangan nasional, maka adalah sebuah kewajaran dia siapapun adanya bisa menjadi penguasa dan pengendali dunia internasional secara global.

Apakah bangsa dan negara Indonesia berpeluang menjadi penguasa dan pengendali pangan dunia global ?

Sangat bisa dan sangat mampu karena peluang yang Indonesia miliki sangat besar.
14.006.450 hektar lahan kritis adalah fakta nyata bahwa media dan sarana utama untuk meraih itu semua telah tersedia.
Jumlah penduduk pun cukup besar dengan lebih dari 272 juta jiwa yang mayoritas manusia Indonesia adalah generasi muda.

Kendala terbesar ‘ turun tumurun ‘ yang secara periodik terwariskan pada bangsa Indonesia sejak Indonesia merdeka terutama sejak era Suharto berkuasa adalah pola dan sistem pendidikan nasional Indonesia tidak mengarahkan pada pengasahan dan penajaman pola pikir.
Sistem pendidikan nasional hanya berkutat pada ‘ formalitas ‘ belaka dan tujuan serta target utama dari pendidikan nasional Indonesia hanya untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja industri dan pabrik serta lembaga jasa financial.

Akibatnya para pelajar dan mahasiswa Indonesia tidak terbiasa mikir dan berfikir.
Cukup sekolah dan kuliah, tamat SD masuk SMP terus ke SMA/K sampai lulus dapat ijazah.
Bekerja adalah prestasi akhir.

Begitupun mahasiswa yang berkesempatan menyelesaikan studi mulai jenjang sarjana ( S1 ), master/pasca sarjana ( S2 ) sampai doktor ( S3 ) hanya diarahkan untuk jadi tenaga pengajar dan pegawai negeri/pemerintah serta swasta.
Akibatnya apapun ilmu yang mereka dalami dan pelajari tidak ada kaitan dengan pekerjaan tempat mereka bekerja.

Terutama zaman ‘ orde baru ‘ Suharto berkuasa begitu banyak para menteri dan pejabat hanya karena dekat dan loyal pada dia.
Jenderal aktif dan purnawirawan sangat mudah jadi menteri dan pejabat daerah ( kepala daerah ).
Inilah penyebab utama tersingkirnya orang – orang yang ‘ ahli dan pakar ‘ pada multi disiplin ilmu, terutama di sektor ril yaitu pertanian dan peternakan.

Para petani akhirnya hanya sebagai buruh tani dan pengolah tanah/sawah/ladang belaka.
Mereka tidak bisa lagi berfikir apalagi berinovasi dalam dunia pertanian.
Pupuk dan bibit sudah jadi milik para pengusaha swasta.
Begitupun urusan pakan sudah jadi milik para pemilik pabrik lokal dan asing.
Itulah hasil nyata dari kebijakan buatan Suharto yaitu ‘ Swastanisasi dan Industrialisasi ‘.

Dampak dari sesat -nya kebijakan Suharto selama orde baru sampai sa’at dan detik ini masih melekat erat pada bangsa dan negara Indonesia.
Pemerintah tidak mampu memberikan ‘ pupuk ‘ dan ‘ bibit/benih ‘ gratis, karena sudah terkuasai pabrik/industri swasta.
Apalagi pemerintah bisa dan mampu beli seluruh produk pangan hasil panen para petani dengan harga tinggi ( hanya ) merupakan ‘ impian besar ‘ para petani asli Indonesia.

Menteri Pendidikan harus dan wajib bisa buat sistem ‘ baru ‘ pendidikan nasional Indonesia dengan target utama adalah seluruh siswa mulai dari SD, SMP sampai SMA/K bisa dan mampu mikir dan berfikir, bukan hanya pergi sekolah bawa buku pelajaran dan berseragam.
Tidak perlu lagi ngejar target ‘ lulus ‘ dan ‘ ujian ‘ secara nasional.
Minimal seluruh anak bangsa sekolah tanpa bayar, gratis.
Terpenting begitu mereka keluar dari SMA/K sudah mampu mengolah lahan, tanah, kadang dan sawah supaya bisa mandiri di bidang pangan.

Jadi jumlah mereka yang mencapai sekitar 50 juta orang setelah lulus nanti sudah mampu hidup mandiri dan tidak jadi beban negara.

Bagaimanakah nasib para sarjana ( S1 ), master/pasca sarjana ( S2 ) dan doktor ( S3 ) ?

Bandung, Kamis, 14 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

2021BelajarMikir

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan