banner 728x90

Gerak Aksi Orang Kaya : Diam Di Rumah Saja !

Gerak Aksi Orang Kaya : Diam Di Rumah Saja !

Apa yang kita lihat dan jalani dalam hidup keseharian, ternyata sama sekali tidak menggambarkan kejadian dan fakta hidup sebenarnya.

Ketika berbicara masalah kehidupan, terlebih begitu bahas tentang ‘ kesejahteraan ‘, ‘ kesuksesan ‘ dan ‘ kemapanan ‘ hidup
sangat sering terjadi dialog antar sesama di kalangan masyarakat.

” Apa keinginan atau rencana ke depan, setelah sukses dan hidup mapan ? ” begitu pertanyaan yang sangat umum terlontar.

” Ya, setelah selesai sekolah atau kuliah, terus bekerja sambil bisnis apa saja.

Secepatnya bisa nikmati hasilnya dan ‘ pensiun dini ‘ ! ” jawaban yang sangat sering terucap.

Gambaran umum yang ada dalam fikiran manusia normal tentang ‘ kesejahteraan ‘ dan ‘ pensiun dini ‘ adalah ( sudah ) berhenti bekerja/berbisnis dan aktivitas hidup hanya seputar ( menikmati ) makan/minum kenyang, tidur nyenyak, tidak stres, aktifitas jalan – jalan plus olahraga dan berjemur.
Itulah gambaran kehidupan seseorang yang telah sukses, berhasil dan mapan/senang.

Ternyata keinginan umum yang jadi impian hampir seluruh orang itu, tanpa sengaja, pada era pandemi Covid-19 ini telah dan sedang memapar hampir seluruh warga negara Indonesia.
Terbukti setelah virus corona menyerang manusia di seluruh dunia, maka sejak bulan Maret 2020 pemerintah Indonesia menerapkan aturan dan kebijakan yang memenuhi syarat dan standar hidup manusia yang mapan dan sejahtera.

Bangsa Indonesia atas perintah pemerintah pusat Republik Indonesia harus
pertama tinggal di rumah,
kedua makan/minum yang cukup dan bergizi,
ketiga istirahat/tidur yang cukup,
keempat berjemur setiap hari serta jangan stres alias harus senantiasa bahagia.
Itu semua merupakan ciri dan tanda seseorang telah hidup mapan dan sejahtera.

Benarkah apa yang telah pemerintah terapkan dan masyarakat lakukan benar – benar membuktikan bahwa bangsa Indonesia telah hidup ( mencapai ) sejahtera dan bahagia ?

Balita tidak perlu lagi masuk dan mengikuti program ‘ play grup ‘ dan ‘ taman kanak – kanak ‘.
Anak sekolah sudah tidak perlu lagi datang ke sekolah ( SD, SMP dan SMA/K ) dan mahasiswa pun tidak perlu lagi datang dan mengunjungi kampus ( PTN dan PTS ).
Guru dan Dosen pun sudah tidak perlu lagi datang mengajar langsung di sekolah dan kampus.

Pegawai Negeri Sipil atau Aparatur Sipil Negara, personil TNI dan Polri semuanya menerapkan dan memberlakukan sistem kerja ‘ setengah kompetisi ‘ tidak full, bergiliran.
Bayaran dan gaji mah tetap.

Pedagang, pebisnis, petani dan nelayan, buruh dan karyawan swasta ( pabrik dan industri ) serta bidang usaha lainnya terpaksa berhenti.
Artinya sangat banyak jenis pekerjaan pra pandemi Covid-19, setelah bulan Maret 2020, terhenti bahkan hilang.

Semuanya terjadi sebagai dampak ( berkelanjutan ) dari paparan pandemi Covid-19.
Tidak hanya memapar bangsa Indonesia, tapi menerpa seluruh manusia di dunia.

Alhamdulillaah, selama era pandemi Covid-19, bangsa Indonesia dipaksa jadi orang/manusia mapan sejahtera.
Namun itu semua hanyalah ‘ kehidupan semu ‘ belaka, karena hal tersebut bukan disebabkan bangsa Indonesia telah mapan sejahtera hidupnya yang bertopang pada kedaulatan dan kemapanan pangan, melainkan hanya untuk menghindari paparan Covid-19 yang lebih dahsyat dan mematikan.

Pemerintah Indonesia belum bisa dan belum mampu ngasih ‘ makan dan minum ‘ setiap warga negara setiap hari secara gratis selama virus corona menyerang dan memapar bangsa Indonesia.

Kapan ‘ rahayat ‘, warga negara, masyarakat dan bangsa Indonesia benar – benar bisa mapan dan sejahtera serta bahagia ?

Bandung, Jum’at, 8 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan