banner 728x90

Nenek Moyang Bangsa Nusantara Senantiasa Produktif Melahirkan ” Ke’arifan Lokal “, … Bangsa Indonesia ( Pasca Merdeka ) Aktif Progresiv Membunuh ” Ke’arifan Lokal ” !

Nenek Moyang Bangsa Nusantara Senantiasa Produktif Melahirkan ” Ke’arifan Lokal “, … Bangsa Indonesia ( Pasca Merdeka ) Aktif Progresiv Membunuh ” Ke’arifan Lokal ” !

Kenapa dan apa penyebab utama bangsa Indonesia pada era pasca kemerdekaan sangat produktif melahirkan ide, gagasan, program dan kebijakan yang efektif membunuh warisan ke- adi mulia -an dan ke- ‘arif lokal -an nenek moyang bangsa Nusantara ?

Mari kita runut dan menganilisis kondisi yang telah dan sedang terjadi.

Nini Aki moyang bangsa Nusantara selalu makan dan minum yang sehat dan alami.
Tidak pernah mengenal rekayasa genetik dan sejenisnya.

Tanah dan lahan hanya mengenal pupuk alamiah yang berasal dari tumbuh – tumbuhan dan kotoran hewan.
Sama sekali tidak ada campur bahan kimia buahan pabrik/industri.
Sehingga ke- alami -an lahan dan unsur hara organik dalam tanah sangat terjaga.

Air tanah pun baik yang bersumber dari sungai maupun air yang ada dalam tanah terjaga kemurnian dan kebersihannya.
Efeknya semua tumbuhan dan pepohonan yang menjadi sumber pangan manusia dan hewan sangat terjaga kualitasnya.

Jadi manusia zaman dahulu senantiasa komsumsi pangan/makanan yang berasal dari tumbuhan dan hewan yang organik serta sehat.
Begitu pun air minum yang jadi komsumsi harian sangat sehat untuk tubuh.

Inilah yang menjadi penyokong utama kesehatan tubuh dan mental manusia zaman dahulu.
Otomatis tubuh mereka sehat dan kuat sehingga umur mereka pun bisa panjang tanpa penyakit berat.

Tubuh dan otot, tulang serta otak yang sehat berpengaruh besar pada karakter bangsa Nusantara.
Itulah penyebab bangsa Nusantara sangat produktif dalam ide, gagasan serta gerak langkah yang ‘arif bijaksana.
Kebiasaan hidup yang sehat dan baik terjadi secara berulang dan berkesinambungan, maka jadilah kebiasaan hidup sehari – hari.

Pola hidup keseharian ini menjadi ciri khas dan adat istiadat yang melekat erat pada kehidupan masyarakat zaman ‘ baheula ‘ dulu.
Kita mengenal dengan istilah kebudayaan.
Budaya keseharian yang menjadi kebudayaan Nusantara.

Budaya zaman sekarang, pasca kemerdekaan, sungguh tidak memiliki dan punya akar budaya kuat dan jelas.
Terutama setelah para penjajah dan kolonialisme bercokol, menguasai dan menjajah bangsa Nusantara.
Tentu saja implikasinya multi adat budaya dan ke’arifan asing yang sangat bertentangan dengan ke’arifan lokal bangsa Nusantara masuk dan dipaksa masuk jadi pedoman baru karakter bangsa Indonesia.

Ke’arifan asing bangsa Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Perancis, Portugis dan Jepang suka atau tidak suka menjadi bagian tak terpisahkan dari kepribadian baru bangsa Indonesia.
Hal ini lebih terprogram dan begitu memapar kepribadian bangsa Indonesia lewat pendidikan fornal bernama sekolah dan kuliah.

Sekolah dan Kuliah setelah jadi kewajiban dan keharusan setiap warga negara Indonesia untuk mengkomsumsinya, maka terutama pada era Suharto kiblat dunia pendidikan pada sekolah dan kuliah/kampus sangat barat ‘ western oriented ‘, Amerika pisan.
Para lulusan dari perguruan tinggi menjadi agen aktif dan efektif pembawa virus modernisasi yang berke’arifan asing murni tanpa perdulikan budaya dan ke’arifan lokal.

Sangat wajar pada hari ini para pemimpin resmi pemerintahan dan swasta serta pengusaha sudah tidak peduli lagi pada keasrian dan ke- alami -an serta kesucian ( kesuburan ) Tanah, Air dan Udara/Atmosfir Negara Indonesia tercinta.
Semua pemimpin hanya bisa berkata,
” Kami lakukan ini semua ( babat pohon dan gusur lahan subur serta rusak hutan ) hanya demi dan untuk kepentingan masyarakat.
Pembangunan untuk masyarakat ! “

Masalah jutaan pohon dan miliaran tumbuhan hilang dan musnah sungguh tidak bisa lagi kembalikan.
Musnah sudah harapan generasi ke depan sebagai bangsa yang punya dan pemilik kedaulatan, kemerdekaan dan kemandirian pangan.
Bangsa Indonesia pada hari ini hanya hidup sebagai bangsa peng- impor bahan pangan.
Garam saja harus impor, apalagi bahan pangan lainnya.

Sangat wajar, begitu virus corona memapar dan menyerang bangsa Indonesia, maka lebih dari 50 % anggaran dari APBN harus pemerintah pake dan gunakan untuk *tanggulangi masalah ‘ ketahanan ‘ pangan.
Itu lah penyebabnya pemerintah pusat dalam hal ini Presiden Jokowi tidak bisa terapkan ‘ lockdown ‘.

14.006.450 hektar lahan kritis yang telah dan sedang memapar Ibu Pertiwi
[ akibat sesat kebijakan pemerintah orde baru yang menghabisi lahan produktif pangan plus hutan jadi lahan industri/pabrik dan lainnya ]
adalah masalah sangat besar dan maha dahsyat.
Sangat mengancam ketahanan pangan nasional Indonesia.
Masyarakat sangat terancam kelaparan, kemiskinan dan deraan penyakit.

Kematian merupakan prestasi terbaik yang harus bangsa Indonesia terima tanpa syarat.

Para politisi sedang sibuk menata diri supaya pada pemilu ke depan dapat terpilih kembali jadi para eksekutor ( kepala daerah dan presiden ) dan legislator ( Anggota DPR, DPD & MPR RI ) supaya bisa berkuasa.
Jadi penguasa adalah tujuan akhir mereka.

Tanah, Air dan Udara/Atmosfir Indonesia siapa peduli dan perdulikan ?

Bangsa menderita, kelaparan dan miskin biarkan saja untuk urus dan berjuang sendiri.

Masihkah benar dan berlaku Tanah dan Air Indonesia subur makmur loh jinawi ?

Masihkah percaya bangsa Indonesia adalah bangsa besar yang sejahtera ?

Bisakah Indonesia raih dan wujudkan tahun 2045 sebagai Indonesia Emas tanpa punya kedaulatan, kemandirian dan kemerdekaan pangan ?

Bandung, Rabu, 6 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan