banner 728x90

Tapak Jejak ” Kemandirian ” , ” Kedaulatan ” Masyarakat Ber- Ketahanan Pangan

Tapak Jejak ” Kemandirian ” , ” Kedaulatan ” Masyarakat Ber- Ketahanan Pangan
Leuit ” Ketahanan Pangan Ber- Ke’arifan Lokal Masyarakat Sunda !

Kasepuhan Sinar Resmi adalah salah satu dari sekian banyak ‘ kasepuhan ‘ atau kampung adat yang tersebar di Provinsi Jawa Barat dan Banten.
Kekuatan utama dari masyarakat ‘ kasepuhan ‘ atau kampung adat adalah kemandirian, kedaulatan dan ketahanan pangan mereka yang kuat berbasis pola tanam ‘ pare huma ‘ padi.
‘ Nga huma ‘ adalah pola tanam padi yang tidak menjadikan lahan sebagai sawah atau ladang padi permanen.

Ada perbedaan sangat mendasar antara pola tanam padi ” sawah ” ( nyawah ) dengan ” huma ” ( ngahuma ).
Sawah memerlukan kepemilikan permanen dan tetap.
Huma tidak perlu memiliki lahan tersebut, karena bisa kapan saja pindah tempat mencari lahan baru untuk ‘ ngahuma “.

Ternyata dalam jangka panjang sangat berpengaruh besar pada eksistensi masyarakat Sunda dalam kepemilikan lahan terutama sawah ( pertanian ).
Hal ini memicu sebagian besar lahan pertanian/sawah di Provinsi Jawa Barat dan Banten sudah beralih fungsi jadi lahan kritis/mangkrak hanya jadi ladang rumput dan alang – alang.
Penyebab utamanya adalah para pemilik dan penguasa lahan ‘ bekas ‘ sawah merupakan para pengusaha yang tidak punya niat dan minat sama sekali pada ketahanan dan kedaulatan pangan.
Mereka hanya mikir satu hal saja yaitu bisa beli dengan harga sangat murah ( menempuh cara apapun ) dan menjual dengan harga sangat tinggi.

Suharto dengan ‘ Orde Baru ‘ -nya paling bertanggung jawab atas hilangnya ( alih fungsi ) lahan pertanian/ketahanan pangan menjadi lahan industri/pabrik.
Industrialisasi dan Swastanisasi
merupakan produk kebijakan Suharto yang sangat efektif melenyapkan lahan pertanian dan ketahanan pangan masyarakat Sunda dan bangsa Indonesia.

Salah satu contoh menimpa Kesepuhan Sinar Resmi pada tahun 1992 pemerintah Orde Baru menetapkan lahan pertanian mereka jadi Taman Nasional Gunung Halimun.

Ada perbedaan sangat mendasar ketika suatu lahan dikelola dan dijadikan tempat ‘ ngahuma ‘ oleh masyarakat adat dengan para pengusaha yang menguasainya.
Masyarakat adat senantiasa memuliakan lahan dan segala tanaman yang mereka tanam.
Para pengusaha hanya jadikan lahan yang mereka kuasai sebagai pabrik/industri penghasil fulus/uang/duit demi keuntungan pribadi. Mereka hanya bisa meng- eksplorasi dan merusak lahan yang subur dan kaya unsur hara tersebut.

Kasepuhan Sinar Resmi menerapkan suatu sistem yang luar biasa teratur dalam pengelolaan dan perwujudan ketahanan pangan.
Masyarakat sudah sangat tertata dalam proses ngahuma dengan tugas masing – masing.

Tugas setiap orang atau kelompok berbeda – beda.
Ada yang hanya bertugas nanam bibit padi di tanah, sebagian hanya bertugas merawat, sebagian hanya memanen padi, sebagian bertugas menyimpan dan ada orang khusus yang bertugas mengolah/menumbuk padi jadi beras.
Kerja keras, kerja ikhlash dan kerja bersama sudah sangat terbiasa dan terpola.

Hal ini yang sudah tidak ada lagi pada diri dan jiwa para petani modern yang hanya bertumpu pada satu tujuan yaitu kerja ringan dan hasil maksimal.
Sejalan dengan tujuan dan target para pengusaha pabrik pupuk kimia dan produk pertanian lainnya.

Seolah para petani memperoleh kemudahan tidak usah cape buat pupuk organik yang butuh waktu lama.
Mereka bisa panen sampai tiga kali dalam setahun.
Akibat dari pola tanam sejak orde baru mereka lakukan, maka tanah sawah menjadi keras dan kehilangan unsur hara tanah.
Para bakteri dan organisme penyubur tanah hilang musnah selamanya.

Kepastian yang nyata adalah para petani tetap permanen hidup susah dan menderita.
Sementara para pengusaha hidup bergelimang harta dan duit hasil dari jual bahan perusak dan penghancur lahan pertanian.

Kondisi mental dan karakter para petani pun jadi rusak karena sudah sangat terbiasa menggunakan bahan material secara instan.
Daya kreatif dan inovatif hilang lenyap.

Bangsa dan Negara Indonesia pada sa’at ini sedang menghadapi dua masalah besar yaitu
pertama sejak bulan Maret 2020 terpapar serangan virus corona yang menyasar seluruh masyarakat tanpa kecuali yang sangat menguras perhatian dan anggaran negara,
kedua bangsa Indonesia sebagai bangsa agraris sudah terpapar pandemi anti petani yang menyasar generasi muda khususnya generasi milenial.
Kedua hal ini sangat efektif dan tepat untuk memperpanjang dampak pandemi Covid-19 sampai 10 tahun ke depan,
bahkan bisa permanen memapar babgsa dan negara Indonesia.

Katakan masalah virus corona menyerang dan menyasar seluruh manusia se dunia tanpa terkecuali satu negara pun.
Namun urusan kehilangan kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan adalah mutlak urusan dan kepentingan pribadi bangsa dan negara Indonesia, karena bangsa asing tidak bisa ikut campur sedikitpun.

Presiden Jokowi dan pemerintah Indonesia atas nama negara ( bisa ) sangat mudah mencari dana pinjaman dari ‘ World Bank ‘ dan negara asing ribuan triliun untuk ( khusus ) kepentingan ketahanan pangan.
[ katakan pinjam Rp 5.000 triliun, pinjaman lunak sampai tahun 2045 ]

Tapi, hal paling berat dan jadi masalah besar adalah paparan anti jadi petani yang telah dan sedang menyerang otak dan fikiran generasi muda bangsa Indonesia.

Hal ini terdukung sempurna oleh para menteri terkait ketahanan pangan ( pertanian, lingkungan hidup dan kehutanan, pertanahan, perdagangan dan sebagainya ), gubernur, bupati dan walikota plus para pembantunya yang hanya iseng dan ‘ seremonial ‘ belaka dalam perwujudan ketahanan pangan.
Terpenting ada foto dan video telah dan sedang lakukan aktivitas dan berkegiatan.

Tak Ada Sawah, Tanah ( Di ) Polibag Pun Jadi “

Bandung, Senin, 4 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan