banner 728x90

Kapan Manusia Mati ? Bersamaan Jatah Rizqi/Rizki Habis !

Kapan Manusia Mati ? Bersamaan Jatah Rizqi/Rizki Habis !

Seorang manusia pasti mati, tidak bergantung usia atau umur.
Pun sangat tidak bergantung jenis kelamin, ras, suku bangsa dan status atau strata sosial.

Ada seorang manusia yang mati ketika berada dalam kandungan, alam rahim.
Ada pula yang mati persis baru usia satu hari, satu minggu, satu bulan, satu tahun, sepuluh/dua puluh/tiga puluh/empat puluh/lima puluh/enam puluh/tujuh puluh tahun atau pas nyampe seratus tahun.
Bahkan ada beberapa orang yang baru mati setelah usia mencapai dua ratus tahun atau lebih.

Hanya penyebab kematian saja yang berbeda.

Jadi, sebenarnya apakah seorang manusia bisa dan berhak meng- ubah atau memperpanjang ( memperpendek ? ) jatah matinya ?

Tak seorangpun tahu dan tak ada satupun cara untuk melakukan hal itu.
Mati atau kematian saja tidak ada satu teori pun yang bisa jelaskan secara pasti, hanya dugaan dan praduga saja.
Belum ada seorang ‘ janin ‘ atau ‘ bayi ‘ atau ‘ anak ‘ atau ‘ remaja ‘ atau ‘ dewasa ‘ sampai ‘ lanjut usia ‘ yang telah mati, kemudian hidup ‘ normal ‘ kembali.

Bagi orang Islam dan orang yang percaya bahwa jatah ( usia/durasi ) mati/kematian hanya Allooh yang kuasa, maka
Islam mengajarkan dan menginformasikan seseorang mati bersamaan habisnya jatah rizqi/rizki seorang manusia.
Berarti sudah sangat jelas bahwa sudah tidak ada tawar menawar lagi.
Ya, sudah, terima saja apa adanya.

Apakah ada ( pengecualian ) sesuatu yang dapat memperpanjang umur/usia hidup seseorang ?

Rosululllooh Muhammad SAW dengan jelas dan tegas mengatakan ” ada “.

Sudah terbahas matinya seorang manusia karena habis jatah rizqi/rizkinya.
Artinya ada hubungan yang sangat erat antara ( habis ) rizqi/rizki dengan ( tiba ) mati.
Jadi harus kita cari apa solusi supaya rizqi/rizki tidak habis dan umur/usia panjang ( mati tertangguhkan ).

Rosululllooh Muhammad SAW bersabda,
” Barangsiapa yang ingin dilapangkan/diluaskan/dilimpahruahkan rizqi/rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka perpanjanglah/sambunglah/perbanyaklah silaturahim. “
( H.R. Bukhori )

So, sekarang terjawab sudah, ternyata silaturahim adalah jalan terbaik untuk memperbanyak/melapangkan rizqi/rizki dan memperpanjang usia/umur.

Silaturahim atau berjejaring atau berhubungan baik antara :

Pertama manusia dengan manusia, antar sesama suku dan bangsa maupun lintas suku dan bangsa,
karena manusia hanya bisa berbagi rizqi/rizki ( tidak bisa berbagi umur/usia ) maka kita hanya bisa berbagi bahan pangan dan sebagainya.

[ Bangsa Nusantara tidak pernah menjadikan ‘ pare ‘ padi dan beras sebagai komoditas jual beli.
Hanya untuk konsumsi pribadi dan keluarga serta berbagi dengan sesama.
Jadi lah bangsa mulia dan besar/agung. ]

Kedua manusia dengan makhluk hidup ( binatang/hewan, tumbuhan/pohon/tanaman, tanah dan air ) serta alam lingkungan.
Manusia menanam, merawat dan memuliakan tanaman/pepohonan/tetumbuhan.
Manusia menernakan dan merawat hewan/binatang.

Hari ini bangsa Indonesia sudah masuk dan terjerumus sebagai manusia yang telah dan sedang ‘ memotong ‘ dan ‘ memutus ‘ ( tali ) saturahim antar keduanya.
Pemerintah sengaja menzholimi ‘ rakyat ‘ yang dipimpinnya.
Rakyat pun sengaja membangkang dan meng- kadali pemerintah resmi yang memimpinnya.

Pemerintah dan Rakyat secara bersama – sama merusak dan menghancurkan tanah, air dan udara/atmosfir dengan alasan demi dan untuk pembangunan dan perbaikan hidup.
Katanya, supaya kehidupan sosial dan ekonomi jadi lebih baik.

Nyatanya dan fakta sejarah
usia/umur ‘ kebesaran ‘ dan ‘ kemuliaan ‘ dan ‘ kemakmuran ‘ bangsa
Nusantara dan Indonesia telah dan sedang mati.

Bisakah ‘ rizqi/rizki ‘ lapang/banyak bangsa Indonesia dan ‘ usia/umur ‘ panjang bangsa Indonesia kembali ?

Ketika,
setiap orang bangsa Indonesia tanpa kecuali ( kembali ) menanam sebutir biji dalam tanah
[ sawah/ladang/kebun/lahan bagi yang punya dan polibag/pot/wadah/bejana bagi yang tidak punya ]
setiap hari menyirami dengan air serta merawatnya sampai berbuah dan panen.

Bersamaan,
pemerintah dan rakyat/rahayat ( kembali ) me- mulia -kan tanah, air dan udara/atmosfir Negara Kesatuan Republik Indonesia tanpa kecuali.
[ Mulia kan lah 14.006.450 hektar lahan kritis se Indonesia dan
911.152 hektar lahan kritis se Jawa Barat ]

Usia panjang dan Rizqi/rizki lapang/banyak segera memapar setiap individu dan seluruh bangsa Indonesia.

[ teu boga tanah/sawah/lahan/ladang, melak tangkal ‘ pare ‘ weh dina polibag ]

Bandung, Minggu, 3 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan