banner 728x90

Nasib Pa Tani : Antara Era Kerajaan, VOC Belanda ‘ Imperialis ‘, Jepang, NKRI ‘ Sukarno – Suharto ‘ dan Reformasi

Nasib Pa Tani : Antara Era Kerajaan, VOC Belanda ‘ Imperialis ‘, Jepang, NKRI ‘ Sukarno – Suharto ‘ dan Reformasi

Pa Tani alias petani zaman penguasa kerajaan membayar upeti.

Pa Tani zaman penguasa imperialis Belanda ( VOC & Hindia Belanda ) pun membayar pajak.

Pa Tani zaman penguasa imperialis plus perampok Jepang tidak bayar upeti maupun pajak, namun Nasib Pa Tani : Antara Era Kerajaan, VOC Belanda ‘ Imperialis ‘, Jepang, NKRI ‘ Sukarno – Suharto ‘ dan Reformasi hasil panen pertanian dibawa tanpa sisa ke negara Jepang, rampok sejati.

Pada era ini sangat jelas garis pemisahnya yaitu
Para Raja, Para Imperialis/Kolonialis/Penjajah sebagai penguasa.
Para Pa Tani dan rahayat/rakyat sebagai manusia jelata yang di- kuasa -i.

Artinya para Pa Tani tidak punya hak untuk melawan dan berontak, apalagi menuntut kesetaraan.
Resiko nyawa melayang ketika berani dan nekad berontak atau melawan.

Era NKRI menjadi penguasa sentral atas pewaris tunggal Nusantara.
Para Pa Tani wajib bayar pajak.
[ para penjajah/imperialis menggunakan hasil pajak hanya demi dan untuk kepentikan para penjajah ]

Hasil pajak era NKRI masuk kas negara.
Para Presiden NKRI sebagai penguasa resmi negara menggunakan hasil pajak demi dan untuk membangun negara.
Nasib para Pa Tani menjadi bahan politisasi para penguasa.
Presiden Sukarno berprinsip netral, tidak pro blok Barat dan blok Timur, non blok.
[ Konperensi Asia Afrika adalah bukti nyata dari pengamalan prinsip non blok ]

Presiden Suharto sangat jelas pro Amerika Serikat.
Anti komunis Uni Soviet.
[ Amerika Serikat ( blok Barat ) VS Uni Soviet ( blok Timur ), perang dingin ]
Lahan dan tanah negara bisa berpindah tangan pada para jenderal, elit politik dan para pengusaha etnis Cina serta asing.
Sedang nasib para Pa Tani tetap tidak bergeming sebagai objek penderira.

Era Presiden Habibie lebih pro blok Barat karena dia merupakan anak emas dan warga kehormatan Jerman.
Teknologi kedirgantaraan lebih penting dan utama dari teknologi pertanian.
Nasib para Pa Tani tetap ‘ ripuh ‘ dan menderita.

Lima tahun Era Reformasi berbagi :
Presiden K.H. Abdurrahman Wahid ‘ Gus Dur ‘ sangat pro rahayat/rakyat dan masyarakat kecil dan miskin.
Sudah tidak ada lagi sekat antara Presiden dengan Rahayat/Rakyat.
Sinergitas para politisi [ Amien Rais Ketua MPR RI, Akbar Tanjung Ketua DPR RI, Bimantoro Kepala Polisi RI, Megawati Ketua Umum PDIP/Wakil Presiden dan para anggota DPR RI plus sokongan Amerika ‘ Freeport ‘ Serikat ]
dengan para pengusaha jahat sukses besar meng- gusur Presiden Gus Dur.
Tanpa proses pengadilan.
Rekayasa dan dagelan politik berhasil dan memuaskan para pengkhianat bangsa dan negara.

Sidang Istimewa ‘ inkonstitusional ‘ tergelar dan jadi catatan buruk fenomenal para pemain dan aktor politik Indonesia sepanjang sejarah.

Presiden Megawati telah berhasil kembali jadikan Istana Presiden sakral dan tidak tersentuh rahayat/rakyat dan masyarakat kecil dan miskin.
Kedekatan dan keakraban serta menyatunya antara seorang Presiden dengan Rahayat/Rakyat hilang sudah.
Sekat dan pembatas resmi dan formal kembali terpasang.
Kembali nasib para Pa Tani, Nelayan dan masyarakat kecil yang miskin menjadi objek ‘ penderita ‘ para penguasa.
Para pengusaha hitam dan jahat yang telah Presiden Gus Dur tangkap lewat Jaksa Agung Baharuddin Lopa, kembali Presiden Megawati lepaskan tanpa syarat.
[ muncul istilah,
” Bukan membela wong cilik, tapi membela wong licik ! ” ]

Nasib para Pa Tani tidak pernah berganti, hanya para Presiden saja yang permanen berganti, pernahkan baik ( walau hanya sejenak ) nasib para Pa Tani dan Nelayan ?

Alhamdulillaah walau hanya sebentar saja, begitu Gus Dur K.H. Abdurrahman Wahid resmi menjadi Presiden ‘ Terpilih MPR RI ‘, maka para Pa Tani untuk yang pertama dan terakhir ( ? ) mengalami nasib baik.
Hidup mereka aman, nyaman dan dapat meni’mati hasil dari jerih payah bercocok tanam.

Hal ini terjadi karena dua hal :
Pertama kebijakan Presiden Gus Dur, K.H. Abdurrahman Wahid, yang sangat pro dan bela kepada nasib para Pa Tani dan nelayan serta rahayat/rakyat kecil dan miskin.
[ khususnya era Suharto ‘ Orde Baru ‘ sangat pro dan bela para pengusaha dan asing ]

Kedua Presiden Gus Dur sangat tepat dan cocok mengangkat Prof. Dr. Bungaran Saragih sebagai Menteri Pertanian.
Dia rival utama Prof. Dr. B.J. Habibie.
[ Habibie pemuja teknologi dirgantara VS Bungaran Saragih pemuja teknologi pertanian ]
Habibie merupakan anak emas Presiden Suharto, sedangkan Bungaran Saragih sangat dibenci Suharto.
Dia berani mengkritik langsung Suharto.
Jadi sangat jelas bagaimana pembelaan dan kebijakan yang dia buat.
Wajar para Pa Tani dan nelayan bisa hidup bahagia dan sejahtera ( sesa’at ).

Sayang nasib Presiden Gus Dur yang sangat pro dan bela rahayat/rakyat dan masyarakat miskin Indonesia harus berakhir di tangan para ‘ pengkhianat rakyat dan negara ‘ lewat drama dan rekayasa politik kotor dan jahat demi melanggengkan kepentingan dan kekuasaan mereka yang terganggu serta terancam sejak Gus Dur jadi Presiden.
Mereka berhasil menggusur dan menggulingkan Presiden ‘ Gus Dur ‘ pembela rahayat/rakyat dan masyarakat kecil, miskin dan termarjinalkan.

Seiring tergusurnya Presiden Gus Dur bersamaan pula nasib ‘ sejenak/sesa’at ‘ baik para Pa Tani dan Nelayan tergusur untuk selamanya.

Apakah Presiden Joko Widodo yang berasal dari keluarga ( pernah ) miskin dan terpuruk bisa kembali mampu men- jadi -kan nasib baik dan sejahtera para Pa Tani dan Nelayan ?

Hanya Presiden Jokowi dan Menteri Pertanian yang bisa dan mampu jawab pertanyaan di atas.

[ pertanyaan yang sama tertuju pula untuk para anggota DPR RI dan DPD RI dan MPR RI ]

Semoga kecepatan dan percepatan paparan serangan virus corona yang sangat berdampak besar pada pola hidup dan kehidupan bangsa Indonesia menyadarkan kembali pola fikir dan pola gerak kerja para penguasa, para pemain/aktor politik dan para pengusaha.

Dampak pandemi Covid-19 hanya bisa terkalahkan oleh kesejahteraan kolektif bangsa Indonesia.

Cirinya adalah percepatan terwujudnya kedaulatan dan kemandirian pangan.

Bandung, Jum’at, 1 Oktober 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

PaTaniMelak&MakanPanganSendiri

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan