banner 728x90

Tahun 1945 Kejayaan Padi Nusantara Runtuh !

Tahun 1945 Kejayaan Padi Nusantara Runtuh !

Padi sebelum Kemerdekaan Republik Indonesia menjadi ‘ Tanaman Mulia ‘ bagi bangsa Nusantara.
Faktanya pemuliaan bangsa Nusantara pada padi atau ‘ pare ‘ mencapai puncaknya sampai pensejajaran dengan kelas Dewa/Dewi.
Dewi Sri
adalah gelar yang melekat erat pada tanaman padi selama ratusan tahun.

Perlakuan dan penghormatan bangsa Nusantara terhadap tanaman padi ini begitu tinggi, sehingga setiap tahapan sejak proses pembibitan, penanaman sampai pemanenan pasti melewati prosesi ritual.
Bahkan berlanjut pada pasca panen.

Ini sisa dari penghormatan pada beras yang telah matang yaitu nasi.
” Awas ulah ngaremeh ! “
merupakan peninggalan budaya penghormatan tinggi akan keberadaan bahan pangan yang berasal dari padi tersebut.

Padi dan produk turunannya berupa beras dan nasi selalu di- personifikasi -kan sebagai makhluk hidup yaitu Dewi Sri.
Dampak perlakuan ini sungguh luar biasa pada pemuliaan padi.
Sejak zaman kerajaan sampai datangnya para penjajah dan penjarah dunia ( bangsa Eropa dan Asia/Jepang ), padi tidak pernah jadi komoditas bisnis akan tetapi menempati tempat terhormat sebagai nara sumber utama dan pokok pangan bangsa Nusantara/Indonesia.

Hampir di setiap sudut ruang dapur bangsa Nusantara selalu ada tempat khusus untuk me- muja ( sebagai penghormatan ).
” Goah ” adalah salah satu dari berbagai istilah yang ada di bumi Nusantara khususnya di Tatar Sunda.
Tempat khusus untuk menyimpan beras.

” Leuit ” adalah tempat khusus untuk menyimpan padi pasca panen.
Berfungsi sebagai gudang dan lumbung untuk menjaga dan menjamin ketahanan pangan sampai beberapa tahun ke depan.

Bangsa Nusantara sangat dunia kenal sebagai kawasan dan daerah yang subur makmur dan kaya raya.
Namun dunia hanya mengenal kekayaan para penjajah dan penjarah ( kolonialis ) hanya berasal dari keberagaman rempah – rempah dan hasil bumi.
Padi tidak pernah tercatat sebagai bagian dari itu.

Itulah bukti kebesaran dan kejayaan bangsa Nusantara yang sangat meninggikan derajat dan kehormatan padi.
Sehingga sungguh sangat tidak layak sekali menjadikan padi sebagai komoditas jual beli.
Tidak layak dan sebuah penghinaan ketika siapapun berkategorikan padi sebagai barang dagangan.

Padi dan fasilitas pendukungnya mendapat tempat terhormat sampai penjajah Belanda saja sangat menghormati dan menjaga sawah supaya tidak rusak dalam kondisi perang sekalipun.

Jepang adalah bangsa penjajah/kolonialis dan penjarah terakhir bangsa dan wilayah Nusantara.
Jarahan Jepang menghabiskan seluruh hasil kekayaan alam bangsa Nusantara, tak terkecuali padi.
Bangsa Nusantara hanya bisa dan boleh membibitkan, menanam dan memanen padi. Namun hasil panennya semua diambil, dijarah dan dirampok untuk dibawa ke negara Jepang tanpa sisa.

Besar kemungkinan kekuatan dan ‘ kesaktian ‘ yang keluar dari tanaman padi ini hilang sejak Jepang merusak dan menghancurkan ‘ kemuliaan ‘ padi ( walau hanya 3 tahun an ).
Pasti bangsa Nusantara sudah kehilangan gairah nanam padi karena seluruh hasilnya langsung dirampok Jepang. Sehingga sejak itu bangsa Nusantara masuk pada kondisi kejiwaan asal melak dan asal ngurus.

Sukarno mencoba mengembalikan ‘ kemuliaan ‘ dan ketinggian kehormatan padi.
Sosok ” Mang Aen ” telah menginspirasi seorang Sukarno menelorkan ‘ ideologi ‘ yang legendaris atas pemuliaan petani dan dunia pertanian, marhaenisme.
Sayang hal ini hanya berlangsung sampai 10 tahun saja sejak 1945 sampai 1955 dan puncaknya berlangsung even terakbar sepanjang sejarah yaitu Konperensi Asia Afrika.

Konflik politik dan kekuasaan semakin menguat dan keras pasca KAA 1955 tersebut.
Akhirnya pemuliaan terhadap dunia petani dan pertanian lewat gerakan ideologi marhaenisme kehilangan ritme dan semangat.
1965 terjadi puncak perseteruan dan konflik politik ( antara nasionalis, agamis dan komunis ) plus perstikaian antara sipil ( Sukarno ) dengan faksi TNI/militer.

Sejarah berkata lain,
seharusnya pasca runtuhnya Sukarno, maka yang seharusnya muncul jadi pengganti dan penerus adalah Jenderal Ahmad Yani.
Namun lewat ‘ rekayasa pembunuhan ‘ bernama Gerakan 30 September yang telah menelan korban para Jenderal dan ratusan ribu anggota Partai Komunis Indonesia ( PKI ) telah menghantarkan Suharto jadi Presiden Republik Indonesia.

Sejarah mencatat bahwasanya kebijakan politik Suharto telah sukses gemilang menghancurkan ‘ kemuliaan dan kehormatan ‘ dunia padi, para petani dan lahan ‘ sawah ‘.
‘ Industrialisasi ‘ dan ‘ Swastanisasi ‘ telah memaksa lahan dan ladang serta sawah pertanian beralih fungsi jadi kawasan industri, perkantoran, permukiman dan bisnis.

Swasembada pangan, lumbung padi, lumbung pangan dan ketahanan pangan senantiasa melekat pada era berkuasanya Suharto, namun nasib dan kehidupan para petani dan dunia pertanian semakin ambruk.

Jepang tidak pernah mengambil kepemilikan tanah dan sawah, hanya hasilnya saja yang mereka rampok habis.

Era Suharto, kepemilikan sawah/ladang terpaksa para petani/pemilik jual atas nama butuh dan tekanan dari para penguasa demi kepentingan para pengusaha ( industri dan swasta ).
Dalam proses pengelolaan dan perawatan padi pun sangat bergantung pada pupuk kimia produk pabrik para pengusaha.
Hasilnya sangat merugikan karena sangat ‘ boros ‘ tenaga, biaya dan akibat terburuk adalah hancur dan rusaknya lahan sawah dan ladang akibat pemakaian pupuk pabrik secara berkelanjutan dan berkesinambungan.

Itulah latar belakang kenapa nasib kehidupan para petani dan kondisi lahan sawah rusak binasa.
Hari ini sungguh sangat sulit mencari generasi muda produktif yang rela dan mau jadi petani.
Manusia berusia 30/40 tahun ke atas saja yang masih mau garap lahan sawah dan dunia pertanian.

Mind set, paradigma dan pola fikir yang sudah jadi keyakinan generasi muda khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya,
” Petani itu miskin, cape, kotor, biaya besar dan hasilnya rugi ! “

Sungguh berat dan susah bagi Presiden Joko Widodo untuk mengembalikan ‘ kemuliaan & kehormatan padi ‘ ( juga siapapun presidennya ), apalagi mengembalikan kejayaan ‘ nasib ‘ para petani dan mengembalikan lahan industri dan lahan kritis milik swasta ( lokal dan asing ) jadi milik negara dan lahan pertanian.

Syarat utama adalah memuliakan padi dan menjadikan padi sebagai sumber kehidupan dan kekuatan bangsa Indonesia.

[ beberapa ‘ Kabuyutan ‘ di Tatar Sunda masih memuliakan padi, sehingga sangat melarang keras warganya memperjualbelikan padi ]

Semoga pemerintah era Jokowi bisa dan mampu menjadikan padi sebagai sumber kekuatan fisik, otot dan otak seluruh bangsa Indonesia.
Agar kemuliaan, kebesaran, kekuatan, kemandirian, kedaulatan dan kejayaan kembali bangsa Indonesia miliki tanpa kecuali.

Semoga,
Aamiin

Bandung, Kamis, 23 September 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan