banner 728x90

” Nanam Padi, Rumput Pun Ikut Tumbuh ! “… Asal Lulus Weh !

” Nanam Padi, Rumput Pun Ikut Tumbuh ! “… Asal Lulus Weh !
Nanam ‘ Pare ‘ Padi, Rumput pun tumbuh !

Tak terasa sejak tanggal 31 Juli 2021 pertama merendam sejumlah ‘ pare ‘ untuk bibit perdana penanaman tangkal pare organik dalam polybag.
Pada hari ini ternyata para ‘ pare ‘ padi tersebut sudah pada bertumbuh.
Ada percampuran emosi, tepatnya perasaan yang bercampur aduk antara harapan berselang kekhawatiran berbumbu rasa cemas serta takut para ‘ pare ‘ padi tersebut tidak tumbuh berkembang sempurna.

Setelah usia penanaman mencapai bilangan sebulan, maka mereka pun bertumbuhan, tentu saja lewat penyiraman setiap sa’at agar dapat kepastian semua ‘ pare ‘ padi hidup.
Musim kemarau mengharuskan saya bersama beberapa orang saja dari komunitas ibu – ibu lanjut usia yang rutin nyiram dan merawat seluruh padi yang sudah tertanam.

[ biaya harian pemeliharaan merawat pohon/tumbuhan/pare/padi menurut kebiasaan katanya Rp 50 ribu per hari…ya lumayan lah berarti biaya perawatan telah habiskan biaya Rp 50.000 X 30 hari = Rp 1,5 juta ]

Saya bersyukur karena program wakaf ‘ pohon ‘ dan ‘ sawah ‘ lewat pencairan dana BPUM yang telah CJI gagas telah berhasil ( bisa ) beli media tanam/tanah organik, bibit ‘ pare ‘ organik dan cengek serta kangkung.

[ lebih dari 80 % peserta program dengan sengaja mengundurkan diri dan mengingkari/mengkhianati perjanjian ]

Apapun yang terjadi dan hambatan serta rintangan yang telah datang menyerang tidak mampu hentikan program penanaman ‘ pare ‘ padi dalam polybag.
Hal ini terjadi akibat dari puluhan orang yang telah batalkan program tersebut, ternyata efek dan akibatnya sangat besar sehingga kami tidak mampu dan bisa nyewa lahan untuk penanaman pohon dalam skala besar.
” Tidak ada rotan, akar pun jadi “,
kami terapkan sehingga muncul istilah baru
” Tidak ada sawah, polybag pun jadi ! “.

Dari 10 orang saja yang setia mewakafkan sebagian dananya untuk kepentingan penanaman ‘ pare ‘ tersebut, maka jadilah 300 an polybag berisi tangkal ‘ pare ‘ padi.
Pertumbuhan mereka sangat beragam.
Sebagian besar sudah mencapai tinggi 40 centimeter dan sebagian kecil madih hitungan satu jengkal.

Kebahagiaan menyambangi perasaan kami, terutama yang setiap hari terlibat penyiraman ( hanya 3 orang saja yang aktif secara rutin ), perasaan lelah dan maksakeun telah terbayar begitu lihat para ‘ pare ‘ tersebut tumbuh meninggi.

Satu hal yang kami yakini yaitu setiap helai daun ‘ pare ‘ padi yang produksi oksigen, maka nilai pahala oksigen otomatis tercatat atas nama para pewakaf dana selama semua pohon hidup.
Inilah kebahagiaan sesungguhnya yang tidak pernah bisa ternilai dan terhargakan.

Ok, akhirnya pagi ini Guru Besar ‘ Pare ‘ organik nge-chat saya menanyakan nasib para ‘ pare ‘ padi yang telah kami tanam.

Alhamdulillaah, pucuk dicinta ulam pun tiba,
sudah niat kuat mau bawa sampel beberapa pohon untuk saya konsultasikan sebelumnya ( seminggu yang lalu ), akhirnya kesampaian juga.
Kami janjian, sekitar pukul 10.00 saya meluncur ke rumah Kang Eddie dan ketemu, tak lupa bawa dua polybag berisi tangkal ‘ pare ‘ tentunya.

Setelah berbincang beberapa sa’at, saya pun langsung bawa dua polybag tersebut sambil menanyakan beberapa hal langsung kepada ahlinya.
Pertama saya butuh kepastian apakah tanaman yang tumbuh di polybag itu benar – benar ‘ pare ‘ padi atau hanya rumput dan ilalang ( ? ).

Dia periksa tanaman tersebut dan terbukti bahwa kecurigaan saya selama ini terbukti sudah,
benar, ternyata rumput pun tumbuh bahkan lebih subur dari ‘ pare ‘ nya sendiri.

Kedua kami berbincang tentang masa depan tangkal ‘ pare ‘ tersebut.
Ketika para ‘ pare ‘ padi tersebut pada ‘ bunting ‘ dan tata cara penanggulangannya.

Terakhir, tentunya saya bertanya kepadanya tentang penilaian atau hasil jerih payah kami selama ini,
mulai dari merendam, membibitkan, menanam, nyiram dan merawatnya ( ? )

Alhamdulillaah jawabannya,
” lumayanlah, sudah cukup bagus untuk bisa tumbuh sebesar ( setinggi ) ini ! “

Hampir semua orang yang pernah menjadi siswa, pelajar dan mahasiswa pasti mengenal istilah ini
[ saking tahu dan sadar kemampuan diri sendiri ]

” Yah, nu penting lulus we lah ! “

Bandung, Rabu, 22 September 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

NuPentingLulusWeh!

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan