banner 728x90

Benih Cinta ‘ Pare ‘ Tanam Tahun 2021, Panen ‘ Pare ‘ Emas 2045 !

Benih Cinta ‘ Pare ‘ Tanam Tahun 2021, Panen ‘ Pare ‘ Emas 2045 !

Pandemi Covid-19 telah sukses meluluhlantakkan multi dimensi kehidupan manusia, tak terkecuali bangsa Indonesia.
Kematian adalah target akhir serangan virus corona.

Sosial, ekonomi dan pola hidup manusia terpaksa dan dipaksa berubah apapun alasannya.
Masuk akal maupun tidak masuk akal sudah tidak penting lagi.

Pemerintah wajib bertindak cepat untuk segera menghentikan paparan virus corona.
Anggaran terbatas dan fasilitas penopang serba kurang dan tidak memadai, siap atau tidak siap, maka tindakan cepat harus segera terlaksana.

Masyarakat kena dampak luar biasa sejak bulan Maret 2020 sampsi hari ini paparan Covid-19 tidak jelas dan tidak pasti kapan berakhir.
Ekonomi ambruk adalah sebuah kepastian yang sudah tidak terbantahkan.
Seiring perubahan sosial kemasyarakatan yang harus ikut serta berubah, termasuk keberagamaan pun ikut berubah.

Sebagai manusia terkhusus bagi bangsa Indonesia kebutuhan dasar dan pokok akan pangan ( makanan dan minuman ) tentu jadi masalah utama yang harus segera pemerintah atasi.
Tentu pemerintah sa’at ini tidak mampu dan tidak sanggup untuk ngasih makan seluruh warga negara, walau hanya terbatas bagi masyarakat miskin dan tidak mampu serta orang yang paling terdampak pandemi Covid-19.

Masalah besar muncul karena lebih dari 90 % warga negara Indonesia terkena dampak pandemi Covid-19.
Bayangkan saja bagaimana pemerintah harus menyiapkan dan ngasih makan 270 juta an warga negara di tengah lilitan hutang berkelanjutan.

Hanya satu cara dan satu – satunya jalan yaitu bangsa Indonesia harus berdaulat, merdeka dan mandiri dalam pangan.
Namun masalah berat telah dan sedang menerpa bangsa Indonesia dimana pada sa’at ini masalah ‘ dunia ‘ pertanian sedang dalam kondisi sekarat atau koma.

Makanan pokok mayoritas penduduk Indonesia adalah beras yang berasal dari tanaman ‘ pare ‘ alias padi.
Bersamaan dengan ini hampir seluruh generasi muda Indonesia sudah tidak lagi mengenal dan tidak tertarik lagi pada dunia pertanian khususnya ‘ pare ‘ atau padi.

Ironis, sedih, kecewa, prihatin dan seterusnya telah menjangkiti hati dan sanubari bangsa Indonesia.

Sejak zaman penjajahan masyarakat Nusantara ( Indonesia ) hanya wajib menyemai, menanam, merawat sampai me- manen padi di ladang dan sawah.
Sedang hasilnya sebagian besar harus setor ( dipaksa ) kepada penguasa penjajah.
Hal terburuk terjadi pada era penjajahan Jepang ( hanya 3 tahun an ) dimana semua hasil panen tanpa sisa sedikit pun mereka rampok dan angkut ke negara Jepang.

Sedikit pelipur lara terjadi masa era Sukarno dimana kedudukan seorang petani termuliakan.
Lahir lah ideologi marhaenisme.

Namun, sebelum kehidupan petani nasibnya benar – benar mulia dan sejahtera, Suharto telah berhasil menghancurkan tatanan lahan pertanian.
Industrialisasi dan Swastanisasi telah mengubah jutaan ladang/lahan dan sawah tempat ‘ pare ‘ padi tumbuh beralih fungsi jadi lahan industri, perumahan/permukiman/perkantoran dan perkebunan ( sawit ) yang hanya bisa termiliki oleh pengusaha besar saja.

Sejak itu nasib dan kehidupan para petani juga nelayan terdampak paparan kemiskinan dan penderitaan.

Sejak bulan Maret 2020 semua negara di dunia terkena serangan virus corona.
Paparan pandemi Covid-19 menimbulkan dampak sungguh luar biasa.
Multi penyakit turunan berkembang dan ancaman kelaparan siap menerjang.

Pemeirintah Indonesia harus melakukan percepatan dalam dua hal :

Pertama segera tanamkan sejak dini dan sedari usia dini ( balita ) lewat kebijakan dan aturan pendidikan nasional multi level supaya seluruh anak bangsa, generasi muda tanpa kecuali perkenalkan dan ‘ wajib ‘ cinta ‘ pare ‘ atau padi.
Target utama seluruh anak bangsa pada tahun 2045 sudah terbentuk mental dan jiwanya untuk memuliakan tanaman pangan, khususnya ‘ pare ‘ atau padi.

Kedua pemerintah segera memerintahkan supaya 14.006.450 hektar lahan kritis di seluruh wilayah Indonesia wajib masyarakat tanami tanaman pangan, terutama ‘ pare ‘ atau padi dan buah – buahan.
Supaya cepat terwujud kedaulatan pangan
kemerdekaan pangan
kemandirian pangan
demi kepentingan dan kemajuan peradaban bangsa Indonesia yang berbasis ketahanan pangan.

Semoga cita – cita besar dan mulia bangsa Indonesia cepat terwujud

Aamiiin

Bandung, Minggu, 19 September 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
cjiinterd.com

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan