banner 728x90

Wajibkah Nanam Padi ? Kenapa harus nanam ‘ Pare ‘ Padi ?

Wajibkah Nanam Padi ? Kenapa harus nanam ‘ Pare ‘ Padi ?

” Padi tertanam dan hidup, maka ‘ rumput ‘ dan ‘ alang – alang ‘ pun tumbuh ! “

[ Takdir Ilahi dan ke- pasti -an hakiki,
14.006.450 hektar lahan kritis tertanam ‘ rumput ‘ dan ‘ ilalang ‘,
tidak akan ada satupun pohon padi yang tumbuh ]

Inilah salah satu keistimewaan begitu seseorang ( petani ) menanam ‘ pare ‘ alias padi.
Padi adalah tanaman khas penghasil beras sebagai bahan pangan utama mayoritas dan sebagian besar penduduk Indonesia.
Tanpa padi otomatis tidak ada beras.

Begitu padi tumpur dan punah, maka beras sintetis pasti menggantikannya.
Para ‘Ulama di Indonesia sejak dahulu era pra Kemerdekaan telah mendasarkan Zakat pada hitungan ( jumlah atau hasil ) panen padi.
Hal ini sangat berefek strategis dan signifikan pada pembudidayaan dan eksistensi tanaman padi.

Penjajah/imperialis Belanda sangat faham hal ini, sehingga mereka melakukan tindakan paling ‘ ekstrim ‘ dan kejam.
Yaitu sawah dan padi seolah mereka jaga dan rawat serta difasilitasi dengan irigasi, namun hasil panennya mereka sengaja cekik dengan penerapan pajak ( bumi ) yang sangat tinggi.
Jadilah para petani sebagai buruh di tanah ( rumah ) sendiri.
Cape – cape ngurus, nanam dan pelihara padi, namun hasilnya VOC Belanda yang menikmati.

Itulah cikal bakal bangsa Indonesia tidak menyukai jadi petani.

Imperialis Jepang lebih sadis dan biadab,
seluruh petani dan bangsa Indonesia ( pra merdeka )
mereka paksa nanam padi dan pangan lainnya di tanah mereka sendiri, namun seluruh hasilnya tanpa sisa sedikitpun Jepang ambil dan rampok dibawa ke negara mereka.
Semakin ‘ bencilah ‘ kaum petani untuk bertani.

Hari ini bangsa Indonesia sudah dan sedang mengalami masalah besar.
Setelah para imperialis/penjajah sukses besar memiskinkan dan memarjinalkan kehidupan para petani serta kebijakan politik dan ekonomi Suharto selama 32 tahun mem- paripurna -kan penderitaan para petani beserta nasib sawahnya, maka hari ini Indonesia sedang alami ‘ sakaratul pangan ‘.

Di seluruh Indonesia sa’at para petani sudah berusia di atas 40 tahun.
Sangat sulit sekali menemukan generasi muda apalagi kaum milenial yang jadi petani.
Krisis pangan telah dan sedang mengancam keberlangsungan hidup dan kehidupan bangsa Indonesia hari ini dan esok serta masa depan.

Tanpa kedaulatan sawah dan padi, maka kedaulatan dan kemandirian pangan hanyalah ‘ harapan palsu ‘ dan ‘ impian virtual ‘ belaka.
Bila pada tahun 2021 ini pemerintah pusat dan daerah tidak melakukan tindakan dan kebijakan yang progresiv evolusioner ( percepatan revitalisasi sawah dan padi ), maka pasti terjadi tahun 2045 bangsa dan negara Indonesia menjelma jadi bangsa buruh dan jongos permanen.

Relakah para Lurah/Kepala Desa, Camat, Bupati dan Walikota, Gubernur, Menteri, Jenderal ( TNI.Polri ) dan Presiden Indonesia mulai tahun 2022 kehilangan seluruh sawah dan ladang beralih jadi milik pengusaha dan bangsa asing ( kembali ) sebagai pengantar hancurnya kedaulatan, kemandirian, kemerdekaan dan ketahanan pangan bangsa Indonesia secara berkelanjutan ?

Bandung, Selasa, 14 September 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

Beli&RebutSawahLadangIndonesia

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan