banner 728x90

Bandung Sudah Mulai Macet Lagi : Menggeliat !

Bandung Sudah Mulai Macet Lagi : Menggeliat !

Beberapa ruas jalan di seputar Bandung Raya dalam satu dua hari ini mulai kembali macet.
Antrian kendaraan roda dua dan empat sudah mulai memenuhi jalanan.

Apakah pertanda pandemi Covid-19 mulai mereda dan kegiatan ekonomi mulai berputar dan bergerak ( kembali ) ?

Ya, kita hanya berharap dan semoga semuanya cepat kembali ke alam ‘ normal ‘ setelah sejak bulan Mei 2020 bangsa Indonesia memasuki alam ‘ abnormal ‘ yaitu alam kehidupan yang sarat dan penuh ketidakpastian.
Hidup laksana dalam dunia khayal dan mimpi, tapi sungguh nyata karena hidup dalam kondisi sadar dan terjaga bukan tidur apalagi sakaw ( pengaruh obat terlarang/narkoba ).

Tidak ada seorangpun yang menduga bahwa kehidupan ‘ nyata ‘ dengan mudahnya terkalahkan oleh kehidupan berbasis ‘ maya/khayal ‘ yang lebih populer dengan gelar ‘ digital atau online atau daring ‘.
Hanya karena serangan virus corona, maka seluruh manusia di kolong langit ini harus tunduk dan patuh serta ta’at mengganti seluruh aktivitas ril harian dengan cukup hidup beraktivitas dalam dunia gadget yang maya.

Bayangkan saja sejak bulan Maret 2020 sampai Agustus 2021 kerja, sekolah, kuliah, olah raga, wisata, nikah sampai kegiatan sosial serta keagamaan ‘ ibadah ‘ harus puas dengan cukup dari rumah saja.

[ Benar sekali sabda Rosulullooh Muhammad SAW bahwa ” Baitiii Jannatii ! ” berma’na rumah ku adalah sorga bagi ku ! ]

Benar terjadi dan terwujud ‘ the rumahnisasi ‘ kehidupan.
Semua hanya bisa dilakukan dan dikendalikan ( cukup ) dari rumah saja.

Ada ekses terbesar dari pola hidup serba dari rumah ini yaitu banyak para pekerja/karyawan/buruh/pegawai terkena dampak di- rumah -kan.
Berhenti sementara, semi sampai total.

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara berubah total peruntukannya tak kurang dari 50 % dari total APBN harus terpakai untuk penanggulangan pandemi Covid-19.
Belum lagi biaya sangat besar sudah menanti untuk penanggulangan dampak pandemi Covid-19.

[ Marie Pangestu salah satu pejabat di ‘ World Bank ‘ mengatakan bahwa dampak pandemi Covid-19 itu memakan waktu 10 tahun. 2021 sampai 2031 ]

Cepat selesai maupun lambat selesai yang pasti sedang menanti adalah
krisis pangan dan kelaparan sedang siap menerjang dan memapar siapapun manusia yang ada di muka bumi.

Jadi,
hal terburuk yang dapat menyebabkan orang mati kapanpun dan dimanapun serta lintas gender dan usia itu ternyata bukan serangan dan paparan virus corona, tetapi pembunuh dan pemusnah masal manusia era tahun 2021 – 2022 adalah kelaparan dan krisis pangan dan air.

Bagaimana kesiapan Urang Sunda Jawa Barat dan Bangsa Indonesia ?

Sungguh tidak siap sama sekali.
Urang Sunda Jawa Barat telah menyia – nyiakan kesempatan terbaik dan terprogres sepanjang sejarah yaitu Program Percepatan Revitalisasi Sungai Citarum lewat senjata pamungkas Perpres No 15 Tahun 2018 telah gagal dan tidak mampu ( gabungan ) Pemprov Jabar dibawah komando Gubernur Ridwal Kamil dan Kodam 3 Siliwangi dibawah komando Pangdam dan Polda Jabar dibawah komando Kapolda beserta Kajati Jabar laksanakan.
Gubernur, Pangdam, Kapolda dan Kajati telah berhasil menggagalkan percepatan.
Semua berjalan lamban, santai, lemot geboy, tidak ada gerakan ‘ progresiv revolusioner ‘.
Ceuk Urang Sunda mah ‘ cabrek ‘, haben nagen, teu gedag ‘ limbah beracun ‘ jeung teu nanceb ‘ jutaan pohon ‘ di Lemah Cai Citarum.

Sejak Maret 2018 sampai Agustus 2021 tidak ada satupun pabrik/industri pembuang limbah berapun dan perusak ‘ Lemah Cai ‘ Citarum ditutup permanen.
Pun tidak ada satupun pemilik pabrik/industri yang dipenjara masuk bui dan didenda miliaran rupiah.

Pohon, bibit pohon apapun jenisnya tidak ada ‘ jutaan pohon ‘ ditanam dan tertanam hidup dan tinggi tumbuh di sepanjang bantaran Sungai Citarum dan DAS-nya.
Semua hanya retorika belaka.

Para Pelaku Pendidikan ” Dasar, Menengah dan Tinggi ” No Action

Tak ada seorang Kepala SD pun baik negeri dan swasta yang nyuruh apalagi me- wajib -kan seluruh pelajar/siswa SD bawa dan nanam pohon.
Pun tak ada seorang Kepala SMP dan SMA/K negeri dan swasta yang me- wajib -kan setiap siswa/anak didik membawa dan menanam pohon dimanapun serta wajib menyiram serta merawatnya sampai benar – benar hidup dan tumbuh besar.

Dunia Pendidikan Tinggi lebih parah lagi, bukan hanya Menteri Pendidikan Tinggi yang abstain, tak seorang Rektor/Ketua Perguruan Tinggi yang me- wajib -kan setiap mahasiswa baru bawa minimal satu pohon keras ( endemik ) dan satu pohon buah – buahan serta serahkan uang perawatan sebesar Rp 100.000 per orang untuk bayar perawat dan penyiram pohon sampai pohon itu hidup dan tumbuh sehat serta kuat.
Para aktivis mahasiswa juga tidak ada satu pun yang melakukan gerakan ‘ progresiv evolusioner ‘ menganbil alih tanah dan lahan kritis milik negara dan swasta untuk supaya bisa siapapun tanam serta pasti hidup sampai ratusan tahun ke depan.

Sempurna sudah semua kegagalan pemuliaan tanaman/pohon/tumbuhan demi ketahanan pangan.
14.006.450 hektar lahan kritis tinggal hitungan dan deretan angka.
In ( g ) syaa Allooh tahun 2021 – 2022 bertambah luasannya.

Mungkin pandemi Covid-19 pada tahun 2021 mereda, tapi tak ada satu pun gerakan masiv yang bisa kembalikan Tanah dan Air Indonesia jadi mulia.
Dampak pandemi Covid-19 bagi rahayat/rakyat manusia Sunda Jawa Barat dan Indonesia bukan hanya cukup sampai 10 tahun saja, namun yang pasti tahun 2021/2022 masuk era krisis pangan dan kelaparan.

” Krisis Tanah, Air, Udara/Oksigen dan Pangan adalah Wajib bagi Negara dan Bangsa Indonesia ! “

Bandung, Minggu, 5 September 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

KrisisPanganEra[Awal]SuhartoKembaliMemaparNKRI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan