banner 728x90

Korea Utara Krisis Pangan Akibat ” Topan Taifun ” … Indonesia Krisis Pangan Akibat ” Topan Presiden Pro Taipan ” !

Korea Utara Krisis Pangan Akibat ” Topan Taifun ” … Indonesia Krisis Pangan Akibat ” Topan Presiden Pro Taipan ” !

” Kondisi pangan masyarakat sekarang sangatlah gawat mengingat sektor agrikultur gagal memenuhi produksi akibat kerusakan pasca taifun tahun lalu, ” ujar Kim Jong Un pemimpin tertinggi Korea Utara pada bulan Juni 2021.
[ Presiden Kim Jong Un bicara jujur ]

Indonesia ;
Pemimpin tertinggi Indonesia Sukarno sangat anti penjajah/imperialis dan asing/Eropa – Amerika Serikat lewat ‘ Nasionalisasi ‘.
” Inggris kita linggis, Amerika kita setrika ! “

Presiden Suharto sejak sukses gulingkan Sukarno tahun 1967, membuat kebijakan yang sangat pro asing dan pengusaha Cina lewat ‘ Industrialisasi ‘ dan ‘ Swastanisasi ‘.
Jasa Amerika Serikat ( CIA ) terbayar gratis dapat Freeport ber- MoU paling rahasia dan terlarang sepanjang sejarah NKRI.
Para ‘ Taipan ‘ Cina mendapat jatah kelola 90 % ekonomi Indonesia, walau tidak boleh terjun dan terlarang di politik, dengan dukungan dana APBN dan hutang.
Hingga sa’at ini Tanah dan Air wilayah Indonesia berada dalam kekuasaan dan penguasaan beverage gelintir pengusaha ‘ konglomerat ‘ Cina.
Jutaan hektar ada pada kuasa mereka.

[ Negara Indonesia hanya dapat dan miliki data punya 14.006.450 hektar lahan kritis yang tidak bermanfa’at ]

Presiden Gus Dur adalah pemimpin tertinggi Indonesia pertama yang berani ‘ nekad ‘ minta 15 % keuntungan untuk NKRI.
Sangat jelas Amerika Serikat sangat marah sekali dan Gus Dur ‘ wajib ‘ nerima akibatnya yaitu serangan mematikan dan me- lengser -kan lewat serangan berjama’ah Megawati/Wapres/Ketua Umum PDIP, Amien Rais/Ketua MPR RI/Ketua Umum PAN/Ketua Umum Muhammadiyah, Akbar Tanjung/Ketua DPR RI/Ketua Umum Partai Golkar, Anggota DPR RI dan Bimantoro/Kapolri plus bantuan para ‘ Konglomerat Hitam ‘ serta media.
Lengkap sudah penyerangan itu, Gus Dur tumbang di tengah jalan.

Megawati naik tahta, jargon bela ‘ wong cilik ‘ dalam praktek bela ‘ wong licik ‘.
Tak kurang 11 para ‘ Konglomerat Hitam ‘ yang Presiden ‘ Gus Dur ‘ K.H. Abdurrahman Wahid tangkap lewat Jaksa Agung Baharuddin Lopa sengaja Megawati lepas bebaskan sampai sa’at ini.
Kembali Indonesia berada pada cengkraman para pengusaha hitam yang sejak Suharto berkuasa bisa kuasai 90 % ekonomi Indonesia.

SBY selama 10 tahun berkuasa telah sukses gemilang me- mapan -kan keluarga dan kroni terdekatnya.
Suharto menelorkan trah ‘ Cendana ‘, sedangkan SBY menetaskan trah ‘ Cikeas ‘.
Harta kekayaan mereka naik dan mapan sejahtera.
Sa’at ini sedang berebut harta warisan khususnya Partai Demokrat.

Jadi catatan sejarah NKRI telah jelas mencatat
” Siapapun Presiden yang berani meng- usik dan meng- ganggu para ( mantan ) penjajah/imperialis Eropa dan Amerika Serikatwajib tumbang secepatnya ! “
Presiden Sukarno dan K.H. Abdurrahman ‘ Gus Dur ‘ Wahid adalah tumbal nyata.

Hari ini pun Presiden Jokowi sudah bisa dan mampu ambil alih 51 % saham kepemilikan PT Freeport dan tentu saja Amerika Serikat ‘ wajib ‘ pertahankan dan keras berusaha lewat multi jalan serta strategi agar Jokowi gagal dan tumbang lewat pasukan ‘ tim horee ‘ yang telah sukses bergabung dengan Istana.

Hanya Allooh saja yang punya dan wajib Berkehendak dan Berkuasa atas segalanya.
Semuanya bermuara pada tekad dan niyat kuat bangsa Indonesia,

Apakah nyaman dan aman dalam posisi serta kondisi ter- jajah dalam segala sektor kehidupan atau kah mau ngikut jejak langkah ” Presiden Sukarno dan Gud Dur ” yang anti imperialisme/penjajahan dengan multi gaya ?

Satu hal yang sedang pasti terjadi :

Apapapun program Jokowi tentang percepatan Revitalisasi dan ‘ Recovery ‘ pemulihan kerusakan Tanah, Air dan Udara/Dirgantara lingkungan tentu berjalan terseok – seok dan tersendat bahkan sampai tumbang karena jegalan dan hambatan atas nama kebijakan para Menterinya, Gubernurnya, Bupati dan Walikotanya atas nama permen/pergub/perbup dan perwal.

[ salah satu nyata memapar Program Revitalisasi Sungai Citarum : Pepres Percepatan Revitalisasi Sungai Citarum dan DAS-nya lewat Perpres No 15 Tahun 2018 disingkat PPPK DAS Citarum hanya Gubernur Jawa Barat tindak lanjuti sebatas PPK DAS Citarum tanpa Percepatan ]

Lebih dari 7 juta mahasiswa calon penerus dan pemimpin masa depan NKRI, pada hari ini lebih sibuk dan ngabisin waktu hidup dan beraktifitas di dunia maya dan internet.
Pandemi Covid-19 adalah sebuah pembenaran supaya hidup nyaman dan aman secara virtual dan digital seolah telah jadi bagi hidup tak terpisahkan selamanya.

[ mau ada NKRI atau pun tidak ada engga jadi masalah, siapapun pemilik dan penguasa Tanah, Air dan Udara Indonesia.
Terpenting masih ada hp/gadget dan internet plus pulsa atau kuota … cekap ]

Bangsa Indonesia apalagi pemerintah Indonesia
[ pengendali utamanya merupakan para pemilik partai dan pengusaha lokal dan asing ]
tentu saja tidak akan pernah berani lakukan dan ngikut jejak ‘ berani ‘ langkah nyata negara China, Korea Utara, Arab Saudi, Bangladesh, Tajikistan, Pakistan, Kongo dan Vietnam yang telah melarang dan meng- haram -kan warga negara mereka gunakan jejaring sosial Facebook, Twitter, Viber, Skype, Line, WhatsApp, SMS dan YouTube.

Tanah,
Air,
Udara atau Dirgantara
Indonesia
telah dan sedang menuju ‘ pemusnahan ‘.

Akankah kita ( yang masih waras ) dan bangsa Indonesia ( yang masih punya darah ‘ merah putih ‘ ) biarkan dan diam serta hanya mampu bergerak dan gerakkan jempol tangan sekedar mijit tombol digital hp/gadget dan bermain virtual dalam kehidupan maya ?

Tahun 2024 hanya sebentar kan datang,
Presiden Joko Widodo pun berakhir sudah.
Apakah nanti 2024 bangsa Indonesia masih mampu dan berani ‘ mimpi besar ‘ untuk wujudkan kemandirian pangan berdaulat ‘ menuju Indonesia Emas Tahun 2045 ?

Weak Up !

Bangun !

Hudang Euy !

Bandung, Sabtu, 28 Agustus 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

TakAdaSatupunNegaraMajuKarenaInternetDigital

PuluhanNegaraHancurKarenaInternet&Hoaks

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan