banner 728x90

The Great Depression

The Great Depression

Tercatat di tanggal 25 Agustus 2021 tepat artikel ini ditulis, kondisi negara Indonesia dan banyak negara lain di dunia masih berjuang dalam melawan dan menangani dampak dari pandemi Covid 19. Pandemi ini sudah berjalan selama 2 tahun lebih dan memengaruhi banyak aspek dalam kehidupan manusia di dunia, meliputi sektor kesehatan, keuangan, pendidikan dan aspek aspek lainnya.

Dalam sejarah, salah satu pandemi hebat dan berdampak sedunia adalah flu Spanyol. Pandemi tersebut terjadi pada tahun 1918 – 1920. Dampaknya sangat parah, di masa itu flu Spanyol menginfeksi hingga 500 juta manusia di dunia, serta membunuh 17-50 juta manusia. Jumlah kematian tersebut jauh lebih besar dibandingkan dengan korban jiwa Perang Dunia I. Hal yang perlu dicatat bahwa pandemi flu Spanyol juga membawa dampak yang signifikan ke sektor keuangan, yakni mengakibatkan kontraksi ekonomi yang membuat perekonomian dunia munurun hingga -5%.

Pasca pandemi flu Spanyol, beberapa negara seperti Amerika mulai berupaya secara agresif untuk memlihkan ekonomi dan di masa itu pula Amerika sedang membenahi perekonomiannya pasca perang. Waktu itu, bank sentral Amerika membuat kebijakan pelonggaran moneter, termasuk menurunkan suku bunga untuk membangkitkan ekonomi.

Sesuai teori dunia keuangan, penurunan suku bunga acuan membuat pebisnis bersemangat untuk melakukan inovasi dan ekspansi. Hal tersebut mendorong aktivitas ekonomi, teknologi hingga revolusi budaya. Era ini dikenal sebagai “The Roaring Twenties”.

Bangkitnya perekonomian setelah Perang Dunia I melahirkan revolusi industri jilid 2, atau revolusi industri 2.0 di awal abad ke 20. Di masa itu, banyak pebisnis yang mulai menggunakan teknik Henry Ford, yaitu “assembly line”, suatu teknik untuk bisa memproduksi produk teknologi secara massal dengan waktu yang cepat dan berkualitas.

Dampaknya, setelah 1921, banyak produk teknologi yang bermunculan seperti kulkas, mesin cuci, vacoom cleaner dan lain sebagainya. Produk produk tersebut laku keras di pasaran karena benar benar membantu kegiatan dan kehidupan manusia.

Kehadiran produk elektronik di masa itu, membuat masyarakat Amerika mempunyai lebih banyak waktu luang. Hal ini memicu tumbuhnya industri hiburan, sebab banyak masyarakat Amerika yang mencari hiburan untuk mengisi waktu luangnya. Adapun beberapa industri hiburan yang muncul di masa itu antara lain radio, olahraga, musik jazz hingga film Hollywood.

Pada era The Roaring Twenties ini, Amerika memainkan peran yang besar pada sektor perekonomian. 85% mobil yang ada di dunia di masa itu merupakan kendaraan yang diproduksi di Amerika, pun juga 40% hasil industri manufaktur di dunia juga berasal dari Amerika.

Dengan kondisi tersebut, perekonomian Amerika meroket selama periode 1920-1929. Berdasarkan catatan presentase California State University, Northidge, pertumbuhan GDP Amerika meningkat 42,06% selama 1920-1929, dari US$ 687,7 miliar menjadi US$ 977 miliar.

Dengan kondisi perekonomian yang sangat baik, bak di Amerika sangat royal memberikan kredit ke siapapun, baik individu maupun institusi. Masyarakat Amerika pun menyambut baik dan memanfaatkan fasilitas kredit bank tersebut untuk kebutuhan konsumtif, seperti membeli barang mewah dan elektronik yang sedang tren di masa itu.

Ada pula yang menggunakan kredit bank untuk membeli saham perusahaan terbuka di bursa saham. Pembelian saham sangat berhubungan dengan tren ekonomi yang membuat harga saham meroket. Selama 1922-1920, indeks saham gabungan Dow Jones Industrial Average naik 500%. Hal ini membuat banyak orang yang menggunakan kredit bank dengan harapan mencari untung di pasar saham hingga memlebihi beban bunga dari pinjaman bank tersebut.

Kondisi pasar saham yang mengalami tren naik atau penguatan membuat bank sampai ikut ikutan membeli saham untuk bisa mencatatkan keuntungan. Uang yang digunakan oleh bank untuk membeli saham berasal dari dana pihak ketiga, yakni tabungan nasabah mereka.

Lonjakan harga saham pada era The Roaring Twenties ini membuat harga saham menjadi sangat mahal dibandingkan dengan nilai wajar perusahaannya. Memasuki 1929, banyak investor yang menyadari bahwa harga saham sudah terlalu tinggi jika dibandingkan dengan aset maupun laba bersih emiten tersebut. Hal ini membuat beberapa investor mulai melakukan aksi jual hingga puncaknya pada 24 Oktober 1929 yang sering disebut “The Black Thursday.”

Lima hari kemudian, pasar saham AS mencatatkan penurunan sebesar 12% pada 29-29 Oktober 1929. Kedua hari ini sering disebut “The Black Monday” dan “The Black Tuesday”. Banyak investor dan pemain saham di AS yang membeli saham menggunakan dana pinjaman dari bank. Bahkan, bank juga ikut membeli saham menggunakan tabungan nasabahnya. Namun, pasar saham turun drastis sehingga banyak investor dan pemain saham yang mengalami kerugian.

Investor yang membeli saham dengan kredit bank kesulitan untuk membayar pinjamannya. Alhasil, investor saham tersebut menjadi debitur dengan status kredit macet di bank. Lalu, kondisi likuiditas bank juga mengetat akibat kredit macet, ditambah bank yang menggunakan dana simpanan nasabahnya untuk beli saham, yang bukannya untung malah merugi.

Hasilnya, sistem keuangan AS kacau balau. Masyarakat panik dan melakukan penarikan uang di bank yang likuiditasnya sudah sangat ketat. Dengan likuiditas yang ketat, bank tidak bisa memenuhi keinginan penarikan uang tabungan di masyarakat. Kondisi ini memperparah perekonomian AS karena perputaran uang terhambat.
Di tengah keseruan “The Roaring Twenties”, ada masalah besar yang terlupakan pasca perang dunia pertama, yaitu kondisi pasar pertanian yang kelebihan pasokan. Penyebab utamanya adalah kondisi pasca perang membuat permintaan produk pertanian menurun drastis. Saat perang, kapasitas produksi pertanian digenjot agar bisa memenuhi kebutuhan perang dunia I.

Setelah perang usai, permintaan sektor pertanian turun drastis. Alhasil, pasokan produk pertanian menumpuk di gudang. Hal ini menyebabkan petani terpaksa menual dengan harga murah atau “jual rugi” agar pasokan di gudang bisa habis.

Lebih jauh, pasokan yang tidak laku terjual, meski sudah dijual dengan harga murah, terpaksa dibagikan gratis sampai dibakar. Hal ini sangat berpengaruh pada keuangan sektor pertanian dan peternakan. Mereka mengalami kerugian besar dengan pasokan yang melimpah. Aksi para petani yang berhenti produksi membuat pasokan produk ke perkotaan juga terhenti. Kondisi ini memperburuk situasi ekonomi yang sedang kacau, ditambah dengan ancaman bencana kelaparan di seluruh Amerika.

Maka dari itu, 1929 menjadi titik awal “The Great Depression”, yakni krisis ekonomi terparah di dunia. Ekonomi Amerika yang sedang meroket langsung tumbang hingga mengalami deflasi spiral dan resesi luar biasa hingga disebut sebagai depresi. Tingkat pengangguran AS juga meningkat drastis ke level 25%. Artinya, 1 dari 4 orang di Amerika tidak mempunyai pekerjaan. Krisis ini tidak hanya dirasakan Amerika, tetapi juga dirasakan Eropa. Ekspansi korporasi Amerika ke negara lain membuat krisis ekonomi menjalar ke Eropa.

Jadi, begitulah asal muasal terjadinya krisis ekonomi terparah di dunia yang dikenal dengan “The Great Depression”.

Cimahi, 25 Agustus 2021
Rizal Ul Fikri, CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan