banner 728x90

Curhatan Seorang Ibu : Anak – Anaknya Hanya Membebani !

Curhatan Seorang Ibu : Anak – Anaknya Hanya Membebani !

Akhirnya keluar juga unek – unek yang selama ini dengan sengaja Sang Ibu pendam.
Barangkali sudah tidak kuat lagi menahan dan menyembunyikan beban yang dalam dua bulan terakhir.

” Saya sudah janji ini adalah hal yang terakhir ! “
begitu awal curhat pembuka yang terlontar.
Ini awalan yang berlanjut pada penayangan episode berikutnya.

Sang Ibu mempunyai beberapa orang anak.
Kecuali anak cikalnya yang mapan materi sebagai seorang PNS/ASN, namun sisa anaknya yang lain bisa dikatakan pas – pasan bahkan cenderung ‘ ripuh ‘.

” Anak ku ( salah satunya ) katanya minjem uang dari rentenir ( lintah darat ) sebesar Rp 10 juta. “,
” Akhirnya Saya antar dia ( anaknya ) pinjem ke salah satu koperasi dengan cicilan Rp 1.150.000 per bulan. “
begitu lanjutnya.

Pada cicilan pertama, anaknya lancar membayar.
Namun pada cicilan kedua sudah memasuki sepertiga akhir bulan jangankan bayar cicilan, hanya untuk menerima telphone dari Sang Ibu saja tidak bisa, mati alias tidak aktif.

Pengurus koperasi datang untuk menagih pada Sang Ibu.
Jelas sekali Sang Ibu begitu terpukul dan malu khususnya pada para pengurus koperasi tersebut, karena selama ini tidak pernah sekalipun meminjam pada koperasi.

” Ibu, selama ini baru pertama sekali koperasi meminjamkan uang sampai Rp 10 juta ! “
Si Pengurus jelaskan sambil menagih cicilan kedua.

Sang Ibu terkenal atas kedisiplinan dan tidak pernah sekalipun nunggak dalam cicilan pembayaran apapun, apalagi hutang.
Tapi si Anak termasuk ‘ kurang ajar ‘ juga, sudah Sang Ibu bantu dan jaminkan nama baiknya, eh malah berani mengkhianati Sang Ibu.
Padahal salah satu kakak kandungnya dari awal sangat tidak percaya pada komitmen dan keseriusan adiknya untuk bayar cicilan.
[ bahkan dia sangat tidak setuju Sang Ibu membantu untuk berhutang, namun sangat sayang peristiwa itu dia ketahui setelah transaksi terjadi dan pencairan ]

Sungguh malang nasib Sang Ibu di masa tuanya.
Seharusnya Beliau menikmati masa tuanya, walau tidak dengan bergelimang harta dan materi, tapi minimal berlimpah kedamaian dan ketenangan.

Semoga siapapun yang baca kisah ini, walau tidak saling kenal, minimal jadi bahan pembelajaran yang berharga.
Katakan masih dalam kondisi kurang atau pun tidak mapan materi, belum lulus kuliah dan atau tidak punya kerjaan serta penghasilan.
Minimal jangan pernah sekalipun mengeluarkan kesusahan/kesulitan/kesedihan/masalah apalagi membebani dan menyusahkan Ibu kita kapanpun dan dimanapun, aamiiin.

” Ibu kita bukan orang sempurna.
Bagaimanapun keadaan dan kondisi Ibu kita, Beliau adalah jembatan seorang anak ( bisa ) masuk syurga ! “

Bandung, Sabtu, 21 Agustus 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan