banner 728x90

Transfusi Kebahagiaan, Bisakah ?

Transfusi Kebahagiaan, Bisakah ?

Coba bayangkan jika otak kita bisa dimasukkan atau dihubungkan ke dalam sebuah mesin. Mesin tersebut membawa kita ke dalam suatu kondisi yang memberikan kebahagiaan yang kekal seumur hidup.

Jika anda diberikan kesempatan seperti itu, maukah anda mencobanya ?

Itulah pertanyaan yang diajukan filsuf Robert Nozick melalui sebuah eksperimen yang dinamakan “ The Experience Machine ”. Eksperimen ini membuat kita memasuki dunia dimana para saintis telah merancang mesin yang dapat melakukan simulasi dunia nyata yang menjamin pengalaman penuh kesenangan tanpa kesakitan.

Syaratnya ?

Anda harus melupakan realitas, akan tetapi perbedaannya tidak akan terasa. Mesin ini akan membuat pengalaman yang dirasakan sa’at menggunakannya sulit dibedakan dari realitas. Kehidupan yang penuh suka duka, akan digantikan dengan kebahagiaan tanpa batas.
Terdengar menarik bukan ?

Hal tersebut memang terdengar menarik, akan tetapi mungkin tidak seideal itu. Eksperimen ini sebenarnya dibuat untuk menyangkal suatu gagasan filsafat yang dinamakan hedonisme.
Menurut para hedonis, memaksimalkan potensi kesenangan merupakan hal yang terpenting dalam hidup, karena kesenangan adalah hal terbaik yang dapat dicapai dalam hidup.

Bagi seorang hedonis, hal terbaik yang dapat dipilih seseorang adalah dengan mendapatkan sebanyak mungkin kesenangan dalam hidup, tanpa perlu merasakan kesakitan. Kesenangan berlimpah tanpa batas dan tanpa kesakitan menghasilkan kesenangan maksimal dan inilah skenario yang ditawarkan oleh ‘ The Experience Machine ‘.
Jika hedonisme sudah menjadi pilihan hidup, maka mencoba mesin ini tidak akan terasa sulit.

Meski begitu, bagaimana jika ternyata hidup itu menawarkan sesuatu yang luar biasa dan lebih dari kesenangan ?

Hal inilah yang ingin diperlihatkan oleh Nozick melalui Mesin Pengalamannya.
Meskipun mesin ini menjanjikan kesenangan maksimal, dirinya sendiri mempunyai alasan untuk tidak mencobanya, sama seperti orang lain yang tertarik dengan mesin ini.

Jadi, kenapa kita tidak ingin memilih masa depan yang penuh dengan kesenangan melalui mesin ini ?

Coba bayangkan skenario ini, sebut saja Budi dan Ani menjalin hubungan cinta yang bahagia. Dalam hubungan ini, Ani merasakan kebahagiaan yang belum pernah dirasakan seumur hidupnya.
Ternyata oh ternyata, tanpa Ani sadari, ternyata Budi juga mencintai Yani, adik Ani. Budi ternyata sering mengirimi surat cinta dan bertemu diam – diam selama berhubungan dengan Ani. Jika Ani sampai tahu, maka hubungannya dengan Budi dan Yani akan hancur. Pengalaman ini akan sangat traumatis baginya, hingga ia tidak akan jatuh cinta lagi.

Berhubung Ani tidak tahu terkait hubungan perselingkuhan ini, kaum hedonis berpendapat bahwa Ani tidak perlu tahu, agar Ani bisa terus merasa bahagia. Selama Ani tidak mengetahui hubungan ini, maka hidupnya akan terus berbahagia sebagaimana kondisinya sa’at ini.

Lantas, apa untungnya bagi Ani mengetahui tentang kenyataan yang sebenarnya ?

Sekarang coba bayangkan jika anda adalah Ani, apakah anda lebih suka mengetahui yang sebenarnya ?
Jika jawaban anda adalah Ya, maka pilihan itu akan menurunkan jumlah kesenangan anda.
Artinya, kemungkinan anda percaya bahwa ada hal dalam hidup yang lebih berharga dari sekadar kesenangan. Bisa jadi hal itu adalah kebenaran, pengetahuan, hubungan yang alami dengan orang lain atau hal lain.
Hal tersebut mungkin lebih berharga bagi anda dibandingkan dengan kesenangan.

Tanpa tahu kejadian yang sebenarnya, maka Ani benar – benar hidup dalam Mesin Pengalaman -nya sendiri, dunia penuh kebahagiaan yang bukan berdasarkan realitas.
Cerita cinta segitiga ini adalah contoh ekstrem, meski begitu, hal ini adalah cerminan keputusan yang kita buat dalam hidup.

Jadi, ketika anda memutuskan suatu keputusan untuk Ani atau untuk diri anda sendiri, mengapa realitas tetap harus diperhitungkan ? Apakah ada nilai penting dalam realitas, baik yang menyenangkan maupun yang menyakitkan ?
Adakah anda merasa berharga, ketika mengalami kesenangan dan kesakitan dalam hidup ini ?

Eksperimen Nozick mungkin tidak menyediakan jawabannya, akan tetapi setidaknya membuat kita merenungkan tentang hidup, yang meskipun tidak sempurna, tapi jauh lebih berharga dari sekadar kebahagiaan yang semu.

Cimahi, Senin, 16 Agustus 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan