banner 728x90

Dongeng Enteng Ti Cisanti

Dongeng Enteng Ti Cisanti

Konon

Setelah virus corona melanda dunia dan menjadi pandemi Covid-19 serta memapar Indonesia sejak awal tahun 2020 tepatnya mulai bulan Maret, maka dampak yang timbul karenanya sampai tahun 2031 kemudian.
Sungguh menimbulkan kerontokan ( layu ) dan kematian pada banyak profesi, mata pencaharian serta dunia usaha yang telah berpuluh tahun jadi pegangan hidup masyarakat.

Pepatah lama mengatakan,
” Mati Satu Tumbuh Seribu ! “
Barangkali hal ini yang telah dan sedang memapar ( khususnya ) bangsa Indonesia.
Puluhan bahkan ratusan jenis usaha sektor ril rontok dan ( terpaksa dan dipaksa ) hilang dan musnah.
Namun berbarengan dengan itu, maka tumbuh lah subur bak rumput di musim penghujan, ribuan jenis usaha baru bahkan jutaan muncul yang sama sekali baru dan belum pernah ada dalam sejarah.

Akibat manusia pada sa’at pandemi Covid-19 di seluruh dunia terpaksa dan dipaksa untuk meninggalkan kegiatan rutin fisik baik hanya sekedar keluar dari rumah apalagi atas nama tuntutan pekerjaan dan profesi, maka secara serempak dan kompak seluruh manusia wajib menghentikan aktifitas fisik di luar rumah tanpa kecuali.
Multi aktifitas otomatis berhenti.

Aktifitas rutin ‘ sekolah dan kuliah ‘ libur permanen dimana tidak ada lagi kegiatan belajar mengajar di sekolah dan kampus.
Semuanya harus terapkan ” School From Home “.

Begitupun para pekerja baik pegawai swasta atau mandiri/wirausaha termasuk Pegawai Negeri Sipil ( PNS) atau Aparatur Sipil Negara ( ASN ) wajib terapkan
” Work From Home “.

[ Ada yang ganjal fikiran saya bagaimana kalau perang maksudnya negara yang telah dan sedang perang fisik terapkan aturan perang baru yaitu ‘ War From Home ‘, sigana seru nya siga maen perang dina game online ]

Tak terkecuali rumah ibadah pun wajib terapkan ‘ libur ibadah sementara ‘ :

Mekkah tempat ibadah utama dan kiblat utama seluruh Ummat Islam se dunia tutup total.
Tak ada satupun warga negara non ber- KTP ( penduduk asli ) Arab Saudi boleh datang ke Ka’bah dan Masjidil Harom, Mekkah dan Madinah.

Begitu pula Gereja, Kuil dan semua tempat ibadah ummat beragama wajib tutup.

Khususnya bagi Ummat Islam sebenarnya kejadian ini sangat luar biasa bermanfa’at terutama bagi keutuhan dan revitalisasi ibadah Ummat Islam.
Karena sudah puluhan tahun sejak keruntuhan kejayaan dan kebesaran daulah Islamiyyah sampai hari ini praktis Ummat Islam kehilangan warisan utamanya yaitu sebagai agama yang rahmatan lil ‘aalamiiin,
jadi berkah dan solusi bagi perbaikan dan kemajuan alam semesta.

Hal ini terjadi karena Ummat Islam terlalu lama menginggalknan keluarga dan rumah sendiri.
Virus Corona telah memaksa khususnya Ummat Islam untuk ‘ cicing di imah ‘ kembali dan diam di rumah.

Ceuk Urang Sunda ( baheula ) mah,
” Rek dahar atawa teu dahar ngariung weh ngumpul ! “,
” Bengkung ngariung, bongkok ngaronyok ! “

Sesuai perintah Allooh :
” Quu anfusakum wa ahliikum naaron ! “
” Jagalah diri kalian ( imun -kan ) dan keluargamu dari api neraka ! “

Benarkah peribahasa atau ungkapan ini ?

Urang Sunda zaman baheula hampir seluruhnya adalah berprofesi dan hidup sebagai petani, peladang dan nelayan.
Semuanya hanya bergantung pada Sumber Kekayaan Alam, bukan bergantung pada negara dan perusahaan.
Sehingga apapun yang terjadi datang musibah dan bencana bahkan pandemi pun sungguh tidak ada persoalan, ceuk orang asing mah ‘ easy going ‘ weh, ya biasa – biasa saja.

Hal ini bisa terjadi karena masyarakat Urang Sunda serba mapan pangan dan kebutuhan logistik lainnya, sehingga mampu bertahan hidup.
Kemandirian, kedaulatan dan ketahanan pangan sudah menjadi ‘ imun ‘ bagi diri dan keluarganya.
Begitu diri dan keluarganya mapan, maka otomatis masyarakat pun kuat dan tahan pandemi apapun.

Setelah Urang Sunda khususnya dan bangsa Indonesia umumnya kehilangan segalanya terutama kedaulatan dan kemandirian pangannya, maka seringan apapun penyakit apalagi berjuluk ‘ pandemi ‘, terutama Covid-19 pengaruhnya tentu lebih dahsyat lagi, tentu bisa menimbulkan ‘ kepanikan ‘ luar biasa yang berujung tercerabutnya nyawa dari tubuh, mati.

Jadi peribahasa Urang Sunda itu bukan salah, tapi harus dibuat ungkapan baru atau ‘ new order ‘ lah
sebab Urang daerah Cisanti saja yang alam aslinya ( ciptaan Allooh ) sangat asri sejuk dan subur karena banyak sumber mata air karena keserakahan para penguasa dan pengusaha sejak zaman kerajaan, penjajahan/imperialism sampai hari telah dan sedang menjadi kawasan gersang dan rusak permanen, kritis.
Hutan gundul dan bukit – bukitnya botak.

Jutaan, ratusan juta bahkan miliaran pohon harus disemai, dibibitkan, ditanam dan dipelihara sampai besar dan hidup untuk bisa kembalikan keasrian kawasan Cisanti supaya jadi ‘ hejo ngemploh deui ‘ Sawarga Dunia.

Tentu hari ini tidak ada satupun orang dan fihak yang mau dipersalahkan dan bertanggung jawab atas rusaknya tatanan ekosistem kawasan Cisanti.
Pengusaha dan penguasa tentu saja tidak akan pernah mau jadi tertuduh apalagi tersangka rusaknya dan hancurnya kawasan Cisanti.

Yang paling murah dan meriah adalah menyalahkan dan meng- kambing hitam -kan masyarakat ‘ miskin ‘ yang berada pada zona keterpurukan dan abdi/buruh/jongos para tuan.
Ya, keterpaksaan dan tidak ada pilihan lain selain merusak dan menjarah lahan merupakan argumen sederhana dan jadi pembenaran atas segala kerusakan dan pengrusakan yang terjadi.

Apapun masalahnya, sama seperti iklan ( ‘ teh sostro ‘ )
… yang untung adalah ‘ tetap ‘ para pejabat, penguasa dan sangat tentu pengusaha.

Para pejabat, penguasa dan pengusaha wajib kembali kepada ‘ keluarga besar ‘ warga Urang Cisanti supaya semua warga tanpa kecuali punya ‘ imun ‘ kekebalan dan ketahanan fisik dan pangan serta logistik yang kuat, mandiri dan berdaulat.

Tanah, Air dan ‘ Oksigen ‘ Udara kawasan Cisanti wajib kembali asri supaya menjadi nara sumber ‘ imun ‘ kekebalan seluruh warga masyarakat dan warga negara Indonesia.

Sungguh sangat berat dan sangat mahal biaya untuk kembalikan dan wujudkan itu senua.
Pemerintah pusat, provinsi dan lokal/daerah wajib keluarkan serta gelontorkan ribuan triliun rupiah, minimal 1.400 T, entah dari manapun sumbernya.

[ kalau plus kegiatan korup, ya harus nyampe angka 2.000 T supaya para koruptor puas dan nyaman ]

Bandung, Minggu, 15 Agustus 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

DaulatkanMerdekakanKawasanCisanti

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan