banner 728x90

Alhamdulillaah ! CJI Bersama Para Pe- Wakaf Pohon Sudah Punya ” Sawah Non Virtual “

Alhamdulillaah ! CJI Bersama Para Pe- Wakaf Pohon Sudah Punya ” Sawah Non Virtual “
Sawah ‘ Pare Organik ‘ Non Virtual !

Bermodal media tanah/tanam organik seberat 2 ton, lebih dari 1.000 polybag dan jutaan bibit ‘ pare ‘ organik serta bibit cengek plus kangkung.
Itu semua hasil dana wakaf dari para peserta BPUM yang bergabung bersama CJI dalam program ” Wakaf Pohon dan Wakaf Sawah/tanah/lahan/ladang “.

Hatur nuhun ka sadayana para Muwakif ( pemberi wakaf ) !
Semoga Allooh catat apapun dan sekecil apapun berupa butiran tanah, satu biji bibit pohon dan setetes air menjadi amal sholeh yang berhasil serta manfa’at bagi seluruh alam, aamiiin !

Kenapa harus nanam ‘ pare ‘ dalam polybag ?

Banyak pertanyaan yang serumpun dengan itu.
Pro dan kontra adalah sunnatullooh sangat alamiah sebagai pelaku kehidupan di alam dunia harus melewati prosesi ini. Siapapun ia adanya, tak terkecuali.

Idealnya kita menanam pare/padi di area sawah, namun karena kita tidak ( belum ) memiliki sawah sepetak bahkan sejengkal pun, maka sebagai manusia yang hidup di perkotaan hanya bisa gunakan polybag sebagai media tanam pengganti ‘ the real ‘ sawah.
Kita memulai program ini sebagai jawaban atau solusi terakhir bagi para pengusaha ( personal maupun korporasi ) yang justru bertindak kontra ( atas nama usaha/bisnis ) membeli puluhan, ratusan, ribuan bahkan jutaan hektar ( total ) sawah dan lahan produktif untuk ( dimusnahkan ) diganti jadi per- industri -an dan pe- rumah -an dan sarana lainnya.

Kami menggunakan ungkapan baru,
” Tak Ada Sawah, Polybag Pun Jadi ! “

Lebih baik kita mulai dari detik, menit, jam dan hari ini nanam ‘ pare organik ‘ dina polybag, in ( g ) syaa Allooh suatu hari pasti panen dan bisa makan beras organik murni hasil dari keringat ( tubuh ) sendiri.
Bukan hasil dapat dari ” Bantuan Beras Tunai ” ( BBT ), namun hasil nanam sendiri.

” Yaa Allooh hidupkan semua ‘ pare ‘ dan tanaman, tumbuhan serta pohon yang kami tanam sampai berbuah/panen sehingga bisa kami makan bersama demi keutamaan kesehatan dan kekuatan tubuh kami, aamiiin. “

Negara dan bangsa Indonesia pada sa’at ini telah dan sedang memiliki lebih dari 14.006.450 hektar lahan/tanah kritis dan pengangguran.
Kami dan jutaan masyarakat, warga negara dan rakyat Indonesia tidak bisa menanam ( -i ) puluhan juta hektar tanah dan lahan tersebut karena ‘ diklaim ‘ sebagai ” Milik Pemerintah/Negara ” dan ” Milik Pribadi/Pengusaha/Perusahaan/Asing “.

Jangan salahkan kami sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang masih cinta ‘ nyaah ‘ pada Tanah, Air dan Udara Indonesia, namun kami tidak punya dana dan kekuatan apapun untuk bisa manfa’atkan tanah dan lahan yang telah Engkau amanahkan pada manusia, khususnya klan bangsa Indonesia.
Ini semua akibat kesalahan para Presiden dan pemimpin bangsa Indonesia selama negara Indonesia merdeka.

Mereka hanya bertindak dan berfikir demi dan untuk langgengkan kekuasaan keluarga dan genk ( partai dan kroni ) mereka sendiri.
Mereka sangat tega ‘ memerkosa ‘ keperawanan dan kehormatan Ibu Pertiwinya yaitu tanah sawah, ladang serta hutan dan air tanah/sungai/rawa/situ serta laut untuk memuaskan kepentingan para pengusaha lokal, regional, nasional dan asing tentunya.

Keluarga dan kroni mereka jadi mapan dan kaya raya.
Sedangkan 99 % lebih dari bangsa dan rakyat Indonesia sebagai pemilik syah saham Negara Kesatuan Republik Indonesia hidup susah, miskin dan sengsara.

Apakah ini nasib ataukah kutukan bagi bangsa Indonesia ?

Kalau kutukan bagi bangsa Indonesia, tentunya semua harus sama rata terkutuk.
Semua harus ripuh, sedih, miskin dan sengsara.
Nyatanya masih ada pemilik dan peni’mat kemapanan dan kemakmuran permanen bernama ‘ Klan Cendana ‘, ‘ Sembilan Naga beserta Anak, Mantu, Cucu dan Cicit ‘, ‘ Klan Cikeas ‘ dan ‘ Klan Asing ‘ lainnya.

Jadi, ternyata bukan sebuah kutukan,
namun hanyalah sebuah ‘ New Imperialism ‘ penjajahan gaya baru setelah hengkangnya para ‘ Old Imperialism ‘ penjajah pra NKRI merdeka.

[ next…tulisan :
Antara ” The Old Versus The New Imperialism ” ]

Bisa jadi dan saya sangat yakin bahkan ‘ainul yaqin bahwa keterpurukan dan keterjahahan 99 % warga negara, rakyat dan masyarakat pemilik syah saham NKRI ( bukan bangsa dan negara Amerika Serikat, China, Inggris, Belanda dan Rusia serta Perancis/Israel ) hanyalah nasib belaka.
Nasib adalah sebuah pengkondisian dan perbuatan sengaja atas nama kebijakan, peraturan, keputusan dan undang – undang.

Artinya sangat benar apa yang telah Allooh SWT gariskan dan putuskan bahwa
” Nasib diri/pribadi/individu/kelompok/suku/kaum/bangsa hanya bisa diubah oleh diri dan kaum/suku/bangsa itu sendiri ! “.

Siapapun orang dan pemerintah yang telah dan sedang berkata bahwa
” Kita tidak bisa hidup dan berkehidupan tanpa bantuan dan belas kasih orang dan bangsa asing ! “
adalah sejatinya sebagai orang dan pemerintah/bangsa yang anti Tuhan YME.

Orang/pemerintah/bangsa Anti Tuhan = Musuh Tuhan YME.

Semoga lewat serangan dan paparan virus corona ini membuat dan menyadarkan 99 % rahayat dan masyarakat Indonesia yang cinta NKRI bahwa ‘ keterpurukan ‘, ‘ kesengsaraan ‘, ‘ keterjajahan ‘ dan ‘ … ‘ adalah hanya lah sebuah nasib belaka.

Mari kita rebut kemerdekaan dan kemandirian atas NKRI dari 1 % para pengusaha dan pemilik otoritas di negara yang kita cintai sampai hari kiamat nanti !

Hanya diri kita sendiri yang bisa dan mampu ubah nasib bangsa dan negara Indonesia !
Bukan China, Arab, Eropa, Afrika, Asia, Australia dan Amerika Serikat !

Hanya Ke’arifan lokal Nusantara yang mampu kembalikan kejayaan dan kemakmuran Tanah, Air dan Udara Ibu Pertiwi !
Bukan Ke’arifan impor Komunis ( China & Rusia ), Khilafah ( Ikhwanul Muslimin, Wahabi, Mu’tazilah, Khowarij dan ISIS ) dan Kapitalis ( Eropa dan AS ) !

Bandung, Jum’at, 13 Agustus 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan