banner 728x90

Jawara Olimpiade Layak Dapat Bonus Besar ! Utuhkah ?

Jawara Olimpiade Layak Dapat Bonus Besar ! Utuhkah ?

Olimpiade Tokyo 2020 sudah resmi berakhir. Dengan perolehan 113 medali; 39 Emas, 41 Perak dan 33 Perunggu,
Selamat kepada tim Amerika Serikat sebagai juara umum Olimpiade Tokyo 2020 !

Indonesia menempati urutan ke 55 dengan perolehan 1 Medali Emas, 1 Medali Perak dan 3 Medali Perunggu, menjadikan Indonesia kontingen paling berprestasi di level Asia Tenggara.
Salah satu yang paling menjadi perhatian adalah Cabang Olahraga Ganda Putri Bulu Tangkis Indonesia yang berhasil mencetak sejarah baru dengan meraih medali emas.

Hal ini tentu sangat membanggakan dan membahagiakan bagi bangsa Indonesia, dimana lagu Indonesia Raya bisa berkumandang di Tokyo. Hadiah, bonus dan berbagai “ reward ” berdatangan bagi para atlet peraih medali.
Jika dijumlah, yaa bisa mencapai beberapa Milyar Rupiah.

Memang, beberapa atlet dalam karirnya bisa menghasilkan sejumlah uang yang nilainya fantastis. Meski begitu, riset menunjukan dari 500 atlet papan atas, hampir 60% diantaranya tidak menganggap diri mereka stabil secara finansial.

Mengapa bisa begitu ??

Jawabannya, karena mereka ( atlet ) tidak dibayar untuk bertanding kecuali mereka memenangkan medali.

Kita mungkin sering melihat para atlet di televisi dan beranggapan menjadi atlet itu menyenangkan, bisa terkenal seperti selebriti. Ikut pertandingan, menangkan olimpiade, dapatkan medali dan anda akan terkenal serta jadi kaya.

Padahal, menjadi atlet juga tidak murah lohh…
Mereka mempunyai daftar yang panjang untuk biaya yang perlu dikeluarkan untuk latihan mereka.
Di Amerika, menjadi atlet artinya harus bertanggung jawab atas pelatih anda, termasuk menjamin mereka dibayar dengan layak. Belum lagi membayar terapis pijat dan ahli gizi.

Jadi, bagaimana para atlet ( bisa ) menghasilkan uang ?
Dan mengapa bagi atlet di Amerika jumlah tersebut masih dianggap kurang ?

Hal tersebut karena, tidak seperti di negara Singapura atau Kerajaan Inggris dimana atlet Amerika tidak dibayar untuk bertanding di Olimpiade.

Monica Askamit, salah seorang atlet Hangar dari Amerika pernah berkata :
“ Jika anda tidak mampu untuk membelinya,
dan jika anda tidak melakukannya dengan baik, ada lima sampai enam orang lain yang mengantri hanya untuk mendapatkan kesempatan. ”

Amerika adalah salah satu dari sedikit negara di masa kini dimana pemerintah tidak terlibat dalam pendanaan tim Olimpiadenya.
Meski begitu, ada tiga cara bagaimana seorang atlet di Amerika bisa menghasilkan uang.
Yang pertama adalah tunjangan. Atlet bisa mendapatkan tunjangan langsung dari Komite Olimpiade dan Paralimpiade Amerika Serikat atau dari kelompok yang menjalankan tim olahraga olimpiade yang disebut sebagai Badan Pengatur Nasional. Disini, atlet bisa mendapatkan sampai $ 4.000/bulan ditambah bonus performa/kinerja.

Seorang pendayung peraih medali emas Olimpiade memberitahu USA Today bahwa ia mendapatkan $ 2.000/bulan.
Monice Askamit, meraih perunggu di Olimpiade Rio 2016, ia mendapatkan tunjangan sebesar $ 300/bulan. Seberapa besar tunjangan yang didapat seorang atlet bergantung pada performanya di lapangan dan kemampuan mereka untuk bisa mendapatkan medali.

Inilah yang menjadi kendala bagi Badan Pengatur Nasional yakni bagaimana keseimbangan untuk mendukung para atlet yang sedang naik daun serta memastikan bagaimana atlet yang sedang berprestasi sa’at ini bisa terurus dan terawat dengan baik.

Bayangkan saja, 128 atlet Amerika bertanding di Olimpiade, bersaing untuk mendapatkan 48 medali emas. Olahraga yang populer memiliki anggaran yang besar, seperti senam, berenang dan basket.
Cabor yang minim anggaran adalah olahraga yang bersifat khusus dan kurang populer, seperti anggar dan polo air.

Selain dari tunjangan, atlet juga bisa menghasilkan uang dari sponsorship. Sebuah perusahaan menanggung sebagian dari pengeluaran atlet mereka dengan imbalan logonya ada pada seragam atlet.
Sistem sponsorship ini berbasis kinerja artinya seorang atlet harus berprestasi memenangkan sejumlah kompetisi untuk bisa mendapatkan sponsor.

Beberapa atlet cukup beruntung bisa mendapatkan sponsor individu. Sulit untuk mendapatkan sponsor bagi atlet dari olahraga yang tidak populer, seperti polo air misalnya. Hal ini dikarenakan sponsorship tidak selamanya tergantung kepada cabang olah raganya, lebih sering sponsor sejalan dengan popularitas seorang atlet.

Ketika sponsor dan merek – merek memilih atlet, maka mereka melihat daya jual atau “ marketability ” dan investasi yang akan mereka dapatkan. Jadi bagi atlet, bisa saja dipilih karena fans dan pengikut instagram yang banyak atau bisa karena performanya yang luar biasa.

Secara umum, perjanjian sponsorship diantara para atlet bisa dibilang tidak konsisten, ada yang hanya sebesar beberapa ratus dollar hingga ada yang mencapai ratusan juta dollar. Kadang, diantara para atlet, ada kesedihan tersendiri ketika si Atlet perfom dengan sangat baik, akan tetapi sang kompetitor mempunyai kesempatan sponsorship yang lebih banyak.

Well, sulit untuk bisa mendapatkan sponsor yang didambakan, Atlet harus berusaha dan mendapatkan sponsor mereka sendiri.

Terakhir, atlet bisa mendapatkan uang dari kompetisi domestik dan regional, bisa tingkat kota maupun tingkat provinsi. Biasanya kompetisi – kompetisi tersebut berhadiah uang tunai bagi pemenang.

Aaron Mallett, atlet lari dari Amerika mengatakan,
“ Ketika berkompetisi di tingkat regional dan menang, uang hadiah harus segera didistribusikan. Pertama untuk membayar tagihan, lalu ditabungkan. Saya pun harus memikirkan bahwa saya tidak boleh kalah, atau saya tidak bisa ikut bertanding di pertandingan yang lebih besar ( karena kendala ongkos ).
Jadi, selalu bertanding dengan beban itu adalah tekanan yang sangat besar. ”

Komite Olimpiade Internasional tidak memberikan hadiah uang tunai untuk atlet yang juara, akan tetapi beberapa negara melakukannya.
Amerika Serikat termasuk salah satu diantaranya. Meski begitu, hadiah uang tunai Amerika untuk atletnya masih jauh lebih rendah dibandingkan yang diberikan negara – negara lain.

Dikutip dari insider.com, Amerika Serikat memberikan US $ 37,500 untuk medali emas, US $ 22.500 untuk medali perak dan US $ 15.000 untuk perunggu. Jumlah tersebut masih belum seberapa dengan Singapura yang memberikan US $ 1.000.000 untuk medali emas, US $ 500.000 untuk medali perak dan US $ 250.000 untuk medali perunggu bagi atlet atletnya.

Selain itu, uang tunai tersebut merupakan pembayaran satu kali. Uang bonus tersebut pun hanya bisa didapat setiap 4 tahun sekali, hanya jika olimpiade diselenggarakan dan atlet tersebut meraih medali.

Uang tersebut pun nantinya dipotong pajak, belum digunakan untuk operasional seperti membayar pelatih, mengganti sepatu ( untuk tanding dan latihan ), biaya untuk gym, makanan yang sehat, pijat, obat dan jadwal konsultasi dengan dokter dan ahli gizi.
Dilansir dari US News & World Report, jika ditotal, maka rata – rata biaya yang harus dikeluarkan atlet mencapai $ 100.000.

Dengan kemajuan teknologi, sa’at ini banyak atlet yang mulai menggunakan sistem ‘ crowdfunding ‘ untuk menunjang pendapatan mereka. Salah satunya Monica Aksamit yang menggunakannya untuk mencari dana agar bisa berangkat ke Olimpiade Tokyo dan Aaron Mallet yang menggunakan Aaron’s GoFundMe.
Ini seperti kitabisa.com kalau di Indonesia. Banyak pula atlet yang sambil mengerjakan pekerjaan paruh waktu agar pemasukan dan pengeluarannya sebagai atlet bisa seimbang.

Hal ini membawa kita ke pertanyaan, apakah menjadi atlet sepadan atas hal yang didapat ?

Lauryn Williams ( pelari cepat dan ‘ bobsledder ‘ Amerika ) :
” Ya, ya, ya dan ya.
Bahkan jika itu adalah setengah dari pendapatan, saya tidak berpikir bahwa saya akan menyesal suatu sa’at telah berpartisipasi dalam olahraga. ”
Maggie Steffens ( atlet polo air Amerika ) :
“ Saya bisa memainkan olah raga yang saya senangi setiap hari, itulah kekayaan saya. ”
Aaron Mallett ( altet lari cepat Amerika ) :
“ Ini semacam menempatkan ‘ chip ‘ di bahu saya untuk bekerja lebih keras, untuk bersaing dengan yang terbaik dan bersaing dengan yang terbaik sehingga saya dapat mengeluarkan diri dari posisi ini. ”
Monica Askamit ( atlet anggar pedang Amerika ) :
“ Itulah satu – satunya pertanyaan saya selama tiga tahun ke depan, apakah saya akan terus bangkrut selama tiga tahun ?
Saya ingin kembali. Saya ingin memiliki kesempatan untuk memenangkan medali individu.
Tapi apakah hal tersebut sepadan untuk bangkrut lagi ( jika kalah ) ? ”

Silahkan anda yang menilai.

Cimahi, Selasa, 10 Agustus 2021

Rizal Ul Fikri, CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan