banner 728x90

Penerbangan Jarak Jauh Tanpa Transit Terancam Serangan Covid-19 !

Penerbangan Jarak Jauh Tanpa Transit Terancam Serangan Covid-19 !

Pada bulan Oktober 2019, David Slotnick, seorang reporter transportasi mengikuti penerbangan uji coba yang diselenggarakan oleh maskapai penerbangan Qantas Airways. Penerbangan ini bukan penerbangan biasa ( cukup istimewa ) karena merupakan penerbangan 20 jam tanpa transit dari kota New York ( AS ) ke kota Sydney ( Australia ).

Penerbangan ini merupakan suatu eksperimen uji coba untuk melihat bagaimana pengaruh penerbangan yang super panjang nan jauh terhadap kondisi para penumpang, kru dan pilot. Meski begitu, apakah memungkinkan untuk menjadikan penerbangan super panjang seperti ini sebagai penerbangan komersial biasa ?
Serta, apakah para penumpang mau untuk terbang dan berada di udara selama itu ?
Tanpa istirahat ( transit ) ?

Pada umumnya, jika anda melakukan penerbangan dari New York ke Sidney, anda pasti akan singgah atau transit yang akan menambah durasi lama waktu perjalanan dan menambah efek ‘ jet lag ‘ pada penumpang.
Atas dasar itu, maskapai penerbangan sedang mencari tahu rute dan metode penerbangan yang lebih nyaman untuk para penumpangnya.

Sejauh ini Qantas sudah melakukan 2 penerbangan uji coba; dari New York ke Sydney dan dari London ke Sydney. Masing – masing penerbangan tersebut rata – rata menghabiskan waktu 19 jam 30 menit dan kedua penerbangan tersebut memecahkan rekor dunia sebagai penerbangan berpenumpang terpanjang di dunia.

Kedua penerbangan ini menggunakan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner. Penerbangan ini hanya berisikan 40 penumpang dan 10 kru penerbangan. Hal ini dikarenakan secara teknis, pesawat tidak akan mampu menempuh jarak sepanjang itu jika dalam kondisi pesawat penuh, maka mereka akan kehabisan bahan bakar.

Sean Golding, Kapten dari maskapai Qantas menyampaikan,
“ Kami mempunyai 2 kru dan 4 pilot. Kami membagi mereka menjadi tim A dan tim B. Kami bekerja secara bergantian dalam hitungan waktu tertentu untuk memastikan pilot dan kru memiliki istirahat yang cukup. “

Dalam penerbangan uji coba tersebut, pilot memberikan sampel urin setiap 4 jam sekali untuk melihat dan mengetes kadar melatonin. Mereka juga dilengkapi dengan jam yang berfungsi untuk mengukur dan memantau aktivitas organ dalam tubuh, monitor cahaya dan ‘ headset EEG ‘ yang berfungsi untuk mengukur tingkat kewaspadaan mereka.

Jika dalam penerbangan jarak jauh biasa, pesawat akan tetap menggunakan zona waktu New York selama penerbangan. Hal ini biasanya membuat penumpang sulit menyesuaikan diri dengan zona waktu baru ketika anda tiba di tujuan.
Pada penerbangan kali ini, pesawat dan para penumpangnya beralih ke waktu Sydney dengan segera, karena tidak melakukan transit atau singgah sementara. Hal ini juga menjadi bagian yang diuji dalam eksperimen penerbangan ini untuk meminimalisir kondisi ‘ jet lag ‘ pada penumpang.

Marry Carrol, Professor Penelitian Medis di University of Sydney mengatakan bahwa dalam penerbangan uji coba New York – Sydney, lampu pada kabin dan makanan yang disajikan dapat diatur sedemikian rupa agar membuat para penumpang tetap terjaga selama penerbangan atau membuat mereka untuk tidur.
Marry mengharapkan dalam uji coba ini para penumpang tidak merasa kelelahan dan bisa nyaman ketika turun dari pesawat dalam zona waktu Sydney.

Selama penerbangan, para penumpang diharuskan mengikuti jadwal kegiatan yang telah diatur oleh maskapai penerbangan, termasuk jadwal tidur.
Di malam hari, lampu pada kabin dibuat terang benderang, banyak penumpang yang berjalan – jalan dan mengambil gambar. Untuk menjaga agar para penumpang tetap terjaga, para kru mendorong para penumpang agar bangkit dari kursi dan berjalan – jalan kecil hingga waktu untuk makan siang.

Di waktu makan siang, makanan yang disajikan mempunyai cita rasa yang kuat, mengandung cabai, paprika dan rempah – rempah untuk membuat para penumpang tetap terjaga. Dalam penerbangan ini, tidak disajikan alkohol, karena alkohol membuat orang mengantuk.

Setelah makan siang, para penumpang diharapkan agar tetap terjaga sampai 4 jam ke depan, hingga ke waktu makan malam. Beberapa penumpang memilih untuk menonton film, sementara yang lain memilih untuk tetap bergerak dengan melakukan peregangan, squat bahkan menari.

Ketika waktu makan malam, para penumpang diberikan makan malam yang berisikan makanan berat untuk membuat mereka mengantuk. Sementara itu, para kru menyiapkan kursi untuk dijadikan sebagai tempat tidur. Setelah waktu makan, lampu pada kabin dibuat redup dan para penumpang yang sudah sejak tadi terjaga menjadi mengantuk dan tidur.

Di pagi hari ( zona waktu Sydney ), lampu dinyalakan perlahan sejalan dengan cahaya matahari terbit di Sydney. Di masa itu pula, para penumpang melakukan sarapan.
Para penumpang tiba di Sydney pada pukul 7.43 A.M. zona waktu Sydney, 19 jam 16 menit sejak lepas landas dari New York.

Para penumpang mengaku, meskipun melewati 15 zona waktu yang berbeda dari New York ke Sydney, mereka tidak merasakan ‘ jet lag ‘. Hingga hari ini, Qantas belum merilis data biometrik pada pilot, tetapi para pilot mengaku merasa kondisi mereka baik setelah penerbangan.
20 jam di udara, jika dilakukan dengan pelayanan yang tepat ternyata dapat membantu tubuh lebih cepat menyesuaikan diri dengan zona waktu tempat tujuan dibandingkan dengan penerbangan yang melakukan transit.

Hingga saat ini, Qantas masih belum mau menjadikan penerbangan uji coba sebagai “ regular service ” hingga tahun 2023. Penerbangan uji coba New York – Sydney menggunakan pesawat Boeing 787-9 Dreamliner.
Meski begitu, Qantas ternyata lebih memilih Airbus A350-1000 untuk rute – rute mendatang. Sebelum penerbangan uji coba ini dan penerbangan rute mendatang benar – benar ada, maka Qantas harus mampu meyakinkan investor bahwa hal ini akan menghasilkan banyak uang, serta memastikan bahwa para penumpang benar – benar menginginkan penerbangan tersebut. Setelah itu, Qantas pun perlu meyakinkan para stake holders dan pengambil kebijakan bahwa para kru dan pilot dapat bekerja dengan baik dan penerbangan jarak jauh seperti ini benar – benar aman.

Hingga hari ini, Singapore Airlines memegang rekor penerbangan komersial terpanjang di dunia, 19 jam penerbangan dari Newark, New Jersey ke Singapore City, Singapur. Dengan rencana “ project sunrise ”, Qantas semakin dekat untuk merealisasikan penerbangan uji coba tersebut dan mengambil alih rekor milik Singapore Airlines.

Tidak lama setelah penerbangan Qantas dari New York City ke Sydney, pesawat Qantas dengan rute penerbangan London – Sydney tiba dengan catatan waktu 19 jam 19 menit, memecahkan rekor lainnya dalam dunia penerbangan.

Alan Joyce, CEO dari Qantas menyampaikan bahwa ini semua bukan perihal rekor dunia dan sebagainya.
“ Fokus kami adalah bagaimana menciptakan penerbangan jarak jauh, tanpa transit yang nyaman bagi penumpang, itulah yang kami kejar”, ujar Alan.

Yaa, mari kita tunggu bagaimana kelanjutan dari perkembangan penerbangan jarak jauh, sebab di tengah pandemi dunia penerbangan mengalami hantaman keras sebagai dampak dari pandemi Covid 19. Menarik untuk ditunggu.

Cimahi, 21 Juli 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan