banner 728x90

Ibuprofen : Obat Artritis/Radang Sendi !

Ibuprofen : Obat Artritis/Radang Sendi !

Pernahakah terfikir, apa yang terjadi pada obat pereda nyeri, misalnya ibuprofen ketika anda menelannya ?

Obat – obat yang anda konsumsi dan meluncur melalui tenggorokan anda yang dapat mengobati sakit kepala, sakit perut, mual, hingga sakit punggung. Pernahkah terpikir bagaimana obat tersebut bisa sampai ke tempat yang tepat (daerah operasionalnya) ?

Jawabannya adalah, …
ia menumpang dalam aliran darah, berputar – putar dalam tubuh, berlomba – lomba untuk menjalankan tugasnya sebelum tertangkap oleh organ – organ dan molekul yang menetralkan dan membuang zat asing dari tubuh.

Proses ini dimulai dari sistem pencernaan kita. Anggap saja anda mengonsumsi obat ( tablet ) ibuprofen untuk keluhan nyeri pada pergelangan kaki. Dalam beberapa menit setelah ditelan, tablet tersebut mulai hancur karena cairan asam HCL di dalam lambung.

Ibuprofen yang terlarut ini berpindah menuju usus halus, lalu menembus dinding usus menuju ke dalam jaringan pembuluh darah. Pembuluh – pembuluh darah ini bermuara ke pembuluh darah vena yang membawa darah dan apapun yang ada di dalamnya menuju hati ( liver ).

Langkah berikutnya adalah membuatnya berhasil melalui hati ( liver ). Sa’at darah dan molekul obat di dalamnya menyusuri pembuluh darah di hati, maka enzim – enzim dalam tubuh bereaksi dengan molekul – molekul ibuprofen untuk menetralkannya. Molekul – molekul ibuprofen yang hancur ( dinetralkan ) disebut sebagai metabolit. Hal ini tidak lagi efektif sebagai obat pereda rasa sakit.

Dalam tahapan ini, banyak dari bagian ibuprofen yang berhasil melalui ( melewati ) hati tanpa kerusakan. Obat tersebut melanjutkan perjalanan untuk keluar dari hati, menuju vena dan masuk ke dalam sistem sirkulasi tubuh. Setengah jam setelah anda menelan tablet tersebut, sebagian dosis obat tersebut telah berhasil sampai ke dalam sirkulasi darah.
Lingkaran aliran darah ini mengalir ke setiap anggota tubuh dan organ, meliputi jantung, otak, ginjal dan kembali menuju hati.

Ketika molekul ibuprofen menemukan sebuah lokasi di mana respons nyeri tubuh sedang meningkat, mereka terikat ke molekul target spesifik yang termasuk ke dalam reaksi rasa sakit itu. Obat pereda nyeri seperti ibuprofen menghalangi tubuh kita dalam memproduksi senyawa yang membantu tubuh mengirim sinyal – sinyal nyeri.

Semakin bertambahnya molekul obat, efek pereda rasa nyeri meningkat, mencapai titik maksimum dalam waktu satu sampai dua jam. Setelah itu, tubuh mulai membuang molekul ibuprofen secara efisien, dimana dosis obat dalam darah jumlahnya menjadi setengahnya setiap dua jam.

Ketika molekul ibuprofen melepaskan diri dari target – target mereka, maka aliran darah secara sistemik membawa mereka keluar untuk mengembalikan mereka ke hati dan sebagian kecil lainnya dari jumlah total obat yang dikonsumsi diubah menjadi metabolit yang pada akhirnya tersaring keluar oleh ginjal melalui air seni.

Siklus aliran dari hati ke seluruh tubuh dan ginjal terus berlanjut dalam kecepatan sekitar satu siklus darah per menit dengan beberapa obat ternetralisir dan tersaring keluar dalam setiap siklus. Langkah – langkah dasar ini berlaku sama bagi obat apapun yang anda konsumsi secara oral ( ditelan, dikonsumsi melalui mulut). Akan tetapi, terkait kecepatan dan jumlah obat yang bisa masuk ke aliran darah sangat bervariasi, tergantung dari jenis obat, orang dan cara obat tersebut masuk ke dalam tubuh.

Instruksi dosis pada label obat bisa menjadi petunjuk. Meski begitu, dosis tersebut adalah merupakan rata – rata berdasarkan suatu sampel populasi yang tidak mewakili setiap konsumen.
Jadi, menentukan dosis yang tepat merupakan hal yang penting. Jika terlalu rendah, maka obat yang dikonsumsi tidak akan manjur. Jika dosis terlalu tinggi, obat dan metabolitnya dapat menjadi racun bagi tubuh.
Hal ini berlaku untuk obat apapun.

Salah satu kelompok pasien yang paling sulit untuk menentukan dosis yang tepat adalah anak – anak. Hal ini karena tubuh dan cara mereka memproses obat relatif cepat berubah. Sebagai contoh, level dari enzim – enzim hati yang menetralisir obat sangat berfluktuasi sa’at bayi dan masa kanak – kanak.

Hal tersebut hanya satu dari banyak faktor rumit lainnya. Faktor genetik, usia, pola makan, penyakit dan bahkan kehamilan memengaruhi efisiensi tubuh untuk memproses obat.

Mungkin, suatu hari nanti, tes DNA dapat menentukan dosis obat yang tepat bagi seseorang, obat pun dibuat khusus sesuai efisiensi hati dan faktor – faktor lainnya. Namun, hingga sa’at ini, cara terbaik adalah dengan membaca label, berkonsultasi dengan dokter dan apoteker serta meminumnya dalam jumlah dan waktu yang disarankan.

Cimahi, Jumat, 16 Juli 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan