banner 728x90

Bincang Nyantai Dengan Komunitas ‘ Disabilitas ‘ : ” Coba Uang Itu Kasih Kita untuk Makan ! “

Bincang Nyantai Dengan Komunitas ‘ Disabilitas ‘ : ” Coba Uang Itu Kasih Kita untuk Makan ! “
Ke- abnormal -an fisik kalahkan Ke- abnormal -an fikiran !

Sudah jadi konsumsi umum dalam beberapa pekan ini bahwa pasangan suami isteri ( A Bakri & Nia Ramadani ) telah ditangkap dan menyerahkan diri karena konsumsi sabu.
Berita tentang penangkapan orang karena kasus narkoba sudah biasa, tapi yang jadi perhatian saya adalah harganya yang mahal sampe Rp 1,5 juta per paket sekali pake.

Di era pendemi Covid-19 ini siapa orangnya yang tidak terkena kebingungan, ketakutan dan kesusahan yang berujung kepanikan.
Hampir semua orang bahkan se dunia sa’at ini kompak mengalami hal ini tersebut secara komunal.
Padahal panik, stres, takut dan sedih permanen adalah musuh utama produksi antibodi.
Gagal produksi dan panen antibodi.

” Coba lihat pasangan suami isteri AB & NR, karasep n gareulis, kaya dan terkenal.
Tapi mereka ternyata tidak bahagia, maka na konsumsi sabu oge.
Berjama’ah deuih ! ” begitu obrolan saya buka setelah kami bicara tentang berbagai keterbatasan dan kondisi ( fisik ) juga hilangnya pendapatan karena pandemi Covid-19.

” Mereka katanya sudah konsumsi sabu selama 5 bulan dan harga satu paketnya Rp 1,5 juta ! ” kembali saya tekankan tentang harganya.

Mereka merespon langsung,
” Iya ! Coba uang itu kasih kita untuk makan ! “

Ya, orang yang sempurna fisik, penampilan, ilmu pengetahuan dan materi juga terkenal ternyata tidak jadi jaminan dan keharusan menjelma sebagai manusia yang lebih baik dari orang yang punya banyak keterbatasan ( miskin &/ cacat atau disabilitas ).

Fakta banyak sekali orang kaya yang tersandung kasus narkoba pada hakikatnya mereka semua punya pemikiran yang abnormal.

Pertanyaannya adalah lebih baik punya fisik abnormal, tapi punya pemikiran normal ataukah
punya fisik normal/sempurna, tapi punya pemikiran abnormal ?

Saya ingin berbagi cerita tentang bagaimana tiga orang penyandang kekurang sempurnaan fisik, ternyata lebih hebat dalam berjuang dan memperjuangkan hidup.
Ya hanya sekedar untuk bertahan hidup.

Bocoran kisah ( summary, iklan tayang lah )

Elis, cacat kaki sejak balita, penyebab kedua kakinya tiporos sehingga hilang power tumpuan kedua kakinya, harus pake tongkat…punya anak sehat, normal dan kekar.
Suami sama kondisinya.
Dari rumah ke tempat kerja setiap hari harus keluarkan uang/ongkos/transpot Rp 30 ribuan …

Dini, waktu balita bagian atas tubuhnya terbakar sampai dada, mukanya hancur sampai harus jalani puluhan kali operasi…kakanya meninggal di tempat lokasi kebaran, karena lampu petromak tiba – tiba meledak.
Tidak bisa melihat dengan jelas dan seterusnya.
Harus keluarkan uang/ongkos ke tempat kerja Rp 35 ribuan …

Resty fisik dan sekolah normal sampai SMA, namun kakinya berbentuk X masih bisa jalan…akibat salah suntik waktu masih balita.
Punya suami normal dan anak normal …

The next lah ceritanya.

Bagaimana dengan kalian yang masih punya fisik utuh dan pemikiran utuh/normal, apakah kalian hanya sia – siakan waktu dan kesempatan hanya untuk diam diam dan diam di rumah saja ?

[ nunggu semuanya hilang ?
seperti virus corona yang telah sukses sampai sa’at ini ngambil semuanya ! ]

Bandung, Selasa, 13 Juli 2021

Zaki CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan