banner 728x90

Air Sungai Citarum VerSus Pandemi Covid-19

Air Sungai Citarum VerSus Pandemi Covid-19

Ada apakah dengan Air Sungai Citarum dan Pandemi Covid-19 ?

Air Sungai Citarum adalah bukti nyata makhluk ciptaan Allooh SWT ini sungguh memang multi fungsi bagi kehidupan makhluk hidup khususnya manusia.
Lebih spesifik bagi manusia yang mendiami seluruh bantaran aliran Sungai Citarum, warga dan penduduk tiga provinsi : Jawa Barat – DKI Jakarta – Banten dan tiga pulau : Jawa, Madura dan Bali.

Air Sungai Citarum punya dwi fungsi plus yaitu

  1. Sumber energi pembangkit listrik tenaga air ( PLTA : Saguling, Cirata dan Saguling ) yang menerangi dan mengaliri listrik se Jawa – Madura dan Bali.
  2. Sumber Air Minum sekisar 80 % penduduk DKI Jakarta.

Plus Air Sungai Citarum menjadi sumber kehidupan tanaman pangan ( jutaan hektar sawah dan kebon ) dan pohon sepanjang bantaran Daerah Aliran Sungai Citarum.

Masyarakat dan para pemilik pabrik/industri sampai sa’at ini telah, sedang dan akan senantiasa merusak, mencemari/melimbahi dan membinasakan Air Sungai Citarum dan seluruh DAS-nya.
Jadilah Sungai Citarum bergelar sebagai Sungai Terkotor Se Dunia.

Adakah hubungan Sungai Citarum dengan virus corona ?

Secara langsung sigana tidak ada hubungan sedikitpun antara keduanya. Sebelum lebih jauh, mari kita lihat perjalanan kedua makhluk hidup ini.

Tahun 2017 mulai

Saya bersama anggota CJI telah berhasil memperoleh 10.000 pohon ( jati 200 dan jambu biji merah & sirsak 9.800 ) dari Kementerian LHK dengan kerja keras tentunya.
Harus bawa kendaraan sendiri dan diangkut sendiri.

Hambatan datang bukan hanya dari kalangan sendiri, tapi yang lebih dahsyat justru dari pihak pemerintah ;

  1. Gubernur Jawa Barat Aher tidak pernah ngasih izin kepada CJI untuk bisa tanami area bekas TPAS Leuwi Gajah.
  2. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar Anang dan pejabat pengelola Sampah Regional ( BPSR ) Jabar pun tidak pernah bantu kasih izin.
  3. Kodam 3 Siliwangi ( sebelum Kang Doni Monardo ) juga menolak secara resmi untuk kasih izin Stadion Siliwangi dipake kumpul bersama para pelajar dan mahasiswa berbagi pohon.
  4. Pemkot Bandung dan Cimahi tidak mendukung penuh.
    Waktu pelaksanaan tidak ada satupun anggota PNS/ASN dari Kota Bandung yang hadir dan dari pemkot Cimahi ada beberapa orang.
    Lokasi pelaksanaan sederhana di Lapang Taman Pramuka Kota Bandung.
  5. Anggota Polsek Cihapit sempat mempersulit izin.

Hal luar biasa terjadi yaitu tiga ( 3 ) orang anggota dari Tim Komunikasi Presiden atau TKP dari Istana hadir, namun sayang Ketua TKP Kang Sukardi Rinakit tidak bisa hadir karena sedang bertugas di daerah lain.

Simpulannnya adalah begitu pemerintah pusat khususnya TKP sangat mendukung program penanaman pohon CJI ini, tetapi pemerintah daerah Provinsi Jawa Barat dan Kota Bandung – Cimahi sungguh tidak mendukung sedikitpun.

Allooh berkehendak lain :

Masalah Sungai Citarum menjadi ajang penarikan uang dan keuntungan oleh beberapa pihak yang berwenang selama puluhan tahun.
Puluhan triliun rupiah telah dan sedang pemerintah gelontorkan baik yang bersumber dari APBN, APBD dan CSR maupun dari asing dan dunia.
Berbagai nama program pun silih berganti bak ajang kontestasi politik.

Satu hal yang pasti yaitu Air Sungai Citarum tetap hitam legam berbau beracun.
Pun seluruh DAS-nya rusak parah.

Akhirnya gelar sebagai Sungai Terkotor Se Dunia tersemat permanen pada Sungai Citarum.
Lengkap sudah penderitaan Sungai terbesar di Jawa Barat dan Banten ini.

Inilah cikal bakal dan pemantik utama lahirnya Program Citarum Harum yang dikomandani oleh Kang Doni Monardo sebagai tim tempur teritorial ‘ panaratasan ‘ perbaikan kembali Sungai Citarum.
Pro dan kontra terjadi, pun anggota TNI.Polri ada yang ikhlas terjun juga ada yang terpaksa.
ASN/PNS lebih parah lagi karena banyak yang ‘ hare – hare ‘ tidak peduli bahkan sering menghambat sampai sa’at ini.

Allooh Maha Berkehendak, maka walau Presiden Jokowi telah membuat Perpres No 15 Tahun 2018 sebagai payung hukum permanen atas gerakan Progran Citarum Harum, namun ternyata tidak serta merta membuat perbaikan Air Sungai Citarum dan DAS-nya cepar terjadi.
Para aparat pejabat Pemprov Jabar dan Kota/Kabupaten masih bermain dan berkutat pada kepentingan sendiri dan politik.

Fakta lain banyak para pemimpin baik dari unsur sipil, TNI dan Polri yang terjun langsung di Satgas PPPK ( minus percepatan ) tidak punya ruh sejati, hanya sekilas sekedar jalankan tugas ( penunjukan ? ) saja.

Virus Corona pun Allooh turunkan untuk mempercepat perbaikan pada semua sektor dan lini kehidupan.
Dana dan Anggaran sangat besar harus dan wajib pemerintah gelontorkan
Lebih dari setengah ( > 50 % ) APBN dan APBD untuk tanggulangi Covid-19, pandemi dan dampaknya.

Semua kalang kabut,
uang tidak punya, ketahanan pangan tidak ada dan kerusakan alam serta lingkungan terus terjaga bahkan meningkat.

Gerakan kecil CJI untuk terus berusaha dan berkontribusi bagi masyarakat dan lingkungan lewat program ketahanan pohon dan pangan semoga jadi titik ledak terwujudnya ketahanan air, oksigen ( udara bersih ) dan pangan dimanapun adanya,
aamiiin.

Apakah kita baru sadar setelah pohon hilang, Air Sungai Citarum hilang dan nyawa kita/keluarga/saudara/tetangga hilang ?

Bandung, Minggu, 27 Juni 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan