banner 728x90

2045 : Bangsa Sunda Penduduk Endemik Jawa Barat Jadi Produsen ‘ Jawara ‘ Pemimpin Negara Indonesia !

2045 : Bangsa Sunda Penduduk Endemik Jawa Barat Jadi Produsen ‘ Jawara ‘ Pemimpin Negara Indonesia !

Kenapa Bangsa Sunda pada tahun 2045 begitu pesat berkembang ?

Pada tahun 2025 ( dua puluh tahun sebelumnya ) suku bangsa yang mendiami wilayah provinsi Jawa Barat adalah mayoritas Suku ( Bangsa ) Sunda.
Cikal bakal Bangsa Sunda.

Ada persoalan pelik dan dilematis yang menggerogoti kehidupan Suku Sunda tersebut.
Fakta sejarah membuktikan bahwa nenek moyang Suku Sunda ternyata pernah menjadi penguasa dunia baik di wilayah timur yang sekarang disebut Nusantara, maupun wilayah lempeng Sunda yang membentang dari Asia sampai Afrika ( Madagaskar ).
Namun seiring perkembangan zaman dan persaingan hidup yang semakin sengit antar sesama keluarga maupun dengan kekuatan/kelompok lain, maka secara alamiah ( natural ) dan sistemik kebesaran dan keagungan Bangsa Sunda mengalami kemunduran.

Setelah terpapar perpecahan dan peperangan, maka musnahlah kebesaran dan kekuatan Bangsa Sunda.
Para pelancong dari Eropa menemukan wilayah Nusantara nan subur makmur loh jinawi.
Akhirnya nafsu dan ambisi menguasai menghinggapi mereka.
Jadilah mereka serius untuk bisa menguasai/menjajah seluruh wilayah Nusantara.

Era Ke- Merdeka -an

Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia selama 21 tahun.
10 tahun periode awal dia berhasil menelorkan ‘ ideologi Marhaenisme ‘ sebuah ajaran yang begitu sangat ‘ mulia ‘ -kan para petani, termasuk buruh.
Anti penjajahan dan liberalisme.
10 tahun periode kedua ( setelah tahun 1955 ) dia terjebak pada kubangan ‘ pengkultusan presiden seumur hidup ‘ yang menjadi nara sumber kejatuhannya.

Sejak Soeharto berkuasa, maka mulailah penderitaan nasib para petani menerpa dan jadi penyakit kronis sampai hari ini.
Tanah dan air mulai dia berikan pengelolaannya pada para pengusaha dan orang/bangsa asing lewat kebijakan Penanaman Modal Asing.
Hilanglah kemandirian dan kedaulatan bangsa dan negara Indonesia atas nama pembangunan berlabel ‘ swastanisasi ‘ dan ‘ industrialisasi ‘.
Sawah, hutan dan sungai mulai rusak sampai hari ini.

Sungai Citarum adalah sungai terbesar dan terparah mengalami kerusakan hingga detik ini.
Sungai Citarum bergelar
” Sungai Terkotor Se Dunia “

Pemberian gelar ini pun sungguh keren sekali karena lahir dari Gedung Perserikatan Bangsa Bangsa di New York, Amerika Serikat.

Kenapa hanya nama Sungai Citarum yang jadi ‘ The Top ‘, bukan Sungai/Bengawan Solo ?

Because,
Sungai Citarum telah nyata berkontribusi sangat besar pada negara Indonesia.
Sumbangan materi daripada Sungai Citarum sungguh sangat besar pada NKRI.

Air Sungai Citarum telah menggerakkan tiga Pembangkit Listrik : Jatiluhur – Saguling dan Cirata sebagai penghasil listrik yang menerangi Pulau Jawa, Bali dan Madura.
Artinya seluruh pabrik, industri dan kantor pemerintah serta swasta bisa beroperasi karena listrik hasil dari Air Sungai Citarum.

Air Sungai Citarum secara langsung dipake oleh 80 % warga masyarakat ( penduduk ) DKI Jakarta.
Seharusnya pemerintah DKI Jakarta siapapun Gubernurnya sadar diri dan bersyukur kepada Sungai Citarum.
Sangat wajar Gubernur dan Pemprov DKI Jakarta menganggarkan sampai 30 % dari APBD untuk perawatan, pemeliharaan dan pemuliaan Sungai Citarum dari hulu, tengah sampai hilir.
[ andai APBD DKI Jakarta sampai 100 triliun, maka cukup 30 triliun per tahun khusus untuk ‘ pemuliaan ‘ Sungai Citarum dan DAS-nya ]

Apa hubungan Sungai Citarum dengan ‘ Ketahanan Pangan ‘ negara Indonesia ?

Sawah yang berada sepanjang bantaran Sungai Citarum itu seluas lebih dari satu juta ( sejuta ) hektar.
Sejarah telah menorehkan catatan bahwa Sawah yang terdapat di bantaran Sungai Citarum terutama Karawang pernah menjadi Lumbung Padi Nasional.

Hari ini luasan sawah di Karawang sudah kritis jauh berkurang.
Jauh di bawah 500.000 hektar.
Hamparan sawah di Karawang sekarang sudah berubah wujud jadi industri/pabrik, perkantoran dan mangkrak siap menunggu para pembeli dan investor.

Ini semua akibat kebijakan yang telah Soeharto buat tentang ‘ Penananan Modal Asing ‘ lewat merek dagang swastanisasi dan industrialisasi.

Sekarang orang Karawang saja sudah banyak yang miskin dan kelaparan.
Boro – boro bisa jadi lumbung padi dan pangan untuk bangsa Indonesia.

Adakah pemerintah pusat dan daerah yang peduli terhadap kondisi ril yang telah, sedang dan akan terjadi pada nasib Sungai Citarum : Air, Bantaran dan Sawah sepanjang DAS-nya ?

Secara pribadi atau personal mungkin ada.
Namun, secara kelembagaan formal dan resmi sampai detik ini tidak ada.

Kecuali,
Presiden Jokowi pada tanggal 14 Maret 2018 ( diundangksn 15 Maret 2018 ) membuat kebijakan sangat fenomenal yang pertama terjadi di dan untuk Jawa Barat yaitu
Peraturan Presiden No 15 Tahun 2018 tentang
Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum disingkat PPPK DAS Citarum.

Sayang, kebijakan Presiden Jokowi tidak paralel dengan kebijakan Gubernur Jawa Barat, apalagi dengan kebijakan Kota dan Kabupaten yang terlihat langsung dengan Daerah Aliran Sungai Citarum.

Kata Percepatan hilang lenyap dalam kebijakan pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Percepatan PPK DAS Citarum berubah jadi
PPK DAS Citarum, maka saya sangat khawatir kebijakan Kota dan Kabupaten menjadi
PK DAS Citarum
artinya ‘ Peninjauan Kembali ‘ alias pembatalan Perpres No 15 Tahun 2018.

Fakta sampai hari ini
Percepatan Revitalisasi Sungai Citarum tidak terjadi.
Air Sungai Citarum tetap masih jadi tempat pembuangan sampah dan limbah dari perorangan dan industri/pabrik.
Jutaan pohon tetap tidak tertanam di bantaran Sungai Citarum.

Alhamdulillaah
Allooh SWT telah menurunkan Virus Corona yang telah sukses melakukan percepatan serangan pada manusia di dunia, termasuk di Indonesia.

Semoga bangsa Indonesia, lebih khusus manusia yang tinggal di Jawa Barat siapapun dan atas nama suku bangsa apapun wajib cepat sadar bahwa
masalah Sungai Citarum adalah masalah peradaban bukan hanya Suku Bangsa Sunda namun masalah Peradaban Bangsa Indonesia.

Apakah benar bangsa Indonesia mau dan siap wujudkan NKRI tahun 2045 sebagai Bangsa Indonesia Emas ?

Cepat,
Percepat,
Sungai Citarum dan DAS-nya jadikan Emas dari sekarang !

[ Mari kita berpacu cepat dengan Pandemi Covid-19 ]

Bandung, Minggu, 6 Juni 2021

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

PercepatanPemuliaanSungaiCitarum

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan