banner 728x90

Salahkah Bangsa ( Orang ) China Eksodus, Jadi ‘ TKA’ Indonesia ?

Salahkah Bangsa ( Orang ) China Eksodus, Jadi ‘ TKA’ Indonesia ?

Beberapa tahun yang lalu sering saya sampaikan dalam berbagai kesempatan,
” Kalau urang Sunda dan Jawa Barat tidak perduli lagi kepada lingkungan dan terutama pada dunia pertanian/pangan lebih khusus masalah Sungai Citarum dan DAS-nya …

Maka ( pilihan terakhir ) kasihkan saja pada negara China.

In ( g ) syaa Allooh hanya dalam tempo satu ( 1 ) tahun saja selesai dan tuntas ! “

[ 911.152 hektar lahan kritis ada di Jawa Barat ]

Begitu pula dengan Indonesia baik rakyat dan pemerintah,
apabila tidak serius dan tidak benar – benar perduli pada lingkungan dan sektor pertanian/pangan, maka jangan salahkan dan menyesal ketika bangsa ( negara ) China ambil alih lahan dan sektor pangan negara Indonesia.

Hari ini sudah terjadi ‘ eksodus ‘ kedatangan orang China dari Tiongkok ke wilayah Indonesia.
Mereka datang atas nama :
Tenaga Kerja Asing
dan
Wisatawan.

Salahkah bangsa China ‘ eksodus ‘ datang ke Indonesia ?

Tidak salah dan tidak melanggar aturan/hukum.

Andai bangsa Indonesia telah kembali menjadi bangsa yang kaya raya ( kembali ).
Jadi sesuatu yang lumrah dan wajar ketika kita berkeliling dunia dan jadi wisatawan mengunjungi seluruh negara yang kita kehendaki.

Negara manapun di dunia menjadi sebuah anugerah besar begitu negaranya secara rutin didatangi dan dikunjungi oleh para wisatawan kaya dari manapun asalnya.

Indonesia kini sudah memiliki 14.006.450 hektar lahan kritis yang sama sekali tidak bermanfa’at apalagi produktif di bidang pangan.
Ironis, negara Indonesia yang sangat terkenal berabad – abad sebagai negara yang subur makmur loh jinawi, hari ini puluhan juta hektar lahannya kritis dan mangkrak tak berguna.

Memang pemerintahan terdahulu sejak Soeharto berkuasa tidak menjadikan sektor pertanian dan pangan sebagai ekonomi utama, sehingga semua kebijakan yang ada sama sekali tidak berfihak dan bela para petani dan sektor pertanian/pangan.
Tidak ada pengembangan serius bidang teknologi pertanian, sehingga perguruan tinggi negeri saja sekelas Institute Pertanian Bogor banyak menelorkan para sarjana pertanian menjadi pegawai bank dan profesi lain non pertanian.

Artinya jangankan para petani tradisional yang lugu, sederhana dan otodidak ( turun menurun ) punya harapan bisa maju dan kaya dari sektor pertanian,
para intelektual ( sarjana, master dan doktor ) pertanian saja sudah tidak percaya ( putus asa ? ).
Ternyata akibat sistem pendidikan yang tersesat selama puluhan tahun, telah berhasil membuat bangsa Indonesia terutama para intelektual serta generasi muda tidak lagi menempatkan profesi petani dan sektor pertanian/pangan sebagai pilihan utama.

Para pemburu kerja dan usia produktif sudah kompak dan sepakat menempatkan profesi jadi petani sebagai juru kunci pilihan kerja ( mata pencaharian ).

Pandemi Covid-19 telah memaksa seluruh bangsa Indonesia ( juga dunia ) wajib sadar bahwa
Virus Corona tidak ada obatnya, kecuali antibodi yang hanya bisa diproduksi oleh sel darah putih ( leukosit ).
Sel darah putih ( leukosit ) sangat butuh asupan nutrisi makanan.

Simpulannya adalah bangsa Indonesia bakal selamat sentausa ketika seluruh warga negara/penduduk tanpa kecuali tercukupi asupan pangannya.

Sudah mandirikah dan sudah merdekakah sektor pangan bangsa dan negara Indonesia ?

Garam pun harus impor, bagaimana dengan beras dan yang lainnya, kapan bangsa Indonesia bisa mandiri dan merdeka pangan ?

Berapa ribu triliun pemerintah harus keluarkan anggaran supaya seluruh warga negara Indonesia tanpa kecuali tercukupi kebutuhan pangan selama 10 tahun pandemi Covid-19 ?

Dan mampukah ?

Bandung, Sabtu, 8 Mei 2021

Muhamnad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen
CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan