banner 728x90

” Tahun 2021 adalah Akhir Para Petani ! ” …, Tapi

” Tahun 2021 adalah Akhir Para Petani ! ” …, Tapi

Seorang Profesor Ahli Pertanian Organik mengatakan,
” Tahun ini ( 2021 ) adalah akhir ( dari ) para petani … “

Berdasarkan hasil penelusuran langsung di lapangan ke berbagai daerah dia menemukan fakta dan kenyataan bahwa usia para petani sekarang lebih dari 45 tahun.
Tidak ada generasi muda yang menjadi petani.

Artinya tahun ini merupakan masa matinya para petani.
Sangat menghawatirkan dan jadi ancaman bagi keberlangsungan hidup para petani dan dunia ‘ pertanahan/lahan ‘ pertanian.
Sawah dan kebun terancam hilang berganti fungsi yang lain.
Pabrik, industri, perkantoran, pasar dan mal serta permukiman ( perumahan ).

Dampak paling berbahaya adalah hilangnya lahan pertanian berakibat hilangnya sumber pangan bangsa Indonesia.
Bukan musim kekeringan dan bencana alam yang menjadi faktor penyebab hancur dan hilangnya sawah juga kebun sebagai sumber utama pangan manusia Indonesia.

Namun, hilangnya dan musnahnya para petani ( SDM ) karena sudah tidak ada lagi generasi muda ( kaum milenial ) yang tertarik dan mau jadi petani, peternak dan nelayan.
Profesi petani, peternak dan nelayan mereka anggap sebagai profesi ( pekerjaan ) hina dan ripuh.
Hanya habiskan waktu dan tenaga saja, tapi hasilnya sangat minim.

Sudah tidak ada lagi kebanggaan dan keinginan sedikitpun dari generasi muda yang serius mau jadi petani.
Mereka sudah meyakini bahwa jadi petani atau peternak atau nelayan pasti ripuh, kumal dan miskin.

Salahkah mereka sebagai generasi muda ?

Tidak sama sekali, penyebab utama hilangnya gairah dan matinya kebanggaan generasi muda khususnya para petani akan dunia pertanian adalah kebijakan penguasa orde baru ( Soeharto ) yang sungguh tidak berpihak dan membela keberadaan para petani dan dunia pertanian.
Terlalu mengagungkan pembangunan industri ( – alisasi ) dan teknologi non pertanian.

‘ The Killing ‘ hutan dan lahan sawah ( pertanian ) mulai terjadi dan secara masiv berlangsung terus sampai hari ini.
Negara dan bangsa Indonesia masuk zona bahaya dan rawan pangan berkepanjangan dan berkelanjutan.

Apalagi pada masa/era pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir
[ malah terus bertambah korban yang terpapar ]
dampak pandemi memakan waktu selama 10 tahun ke depan.
Baru memasuki tahun kedua saja sejak bulan Maret 2020 lalu, maka kondisi lintas sektor bangsa Indonesia sudah morat marit seperti ini.

Seluruh aktifitas fisik rutin terganggu hingga terhenti sama sekali.
Sekolah dan kuliah berhenti.total dimana bangunan sekolah dan kampus ( perguruan tinggi ) berubah jadi bangungan kosong tanpa kehidupan.
Masjid dan musholla pun jadi hening dan senyap, begitupun tempat ibadah agama lainnya.

WFH atau Work From Home adalah pilihan terbaik yang PNS/ASN ( birokrasi ) ambil dalam jalankan roda pemerintahan dan layanan publik.
Sektor ekonomi pun hancur luluh lantak laksana kendaraan tempur yang terkena hulu ledak nuklir, boom hancur lebur.

Geliat hidup dan bisnis hanya berada pada dunia maya dan ghaib, dunia internet yang cukup beraktifitas dari tempat duduk dan bisa sambil tiduran serta tidak usah komunikasi ( tatap muka ) langsung baik dengan orang lain termasuk dengan keluarga sendiri.

Sejatinya semenjak bulan Maret 2020 kita telah memasuki dunia kegelapan era baru yang tidak jelas dan tidak tahu kapan bakal berakhir.

[ kadang seolah cepat mau berakhir, landai dan normal kembali…namun hanya dalam hitungan detik dan menit, tiba – tiba melonjak tajam kembali ]

Salahkah para petani terkhusus generasi muda milenial kehilangan gairah dan kebanggaan pada dunia berbasis pertanian ?

Tepat sekali mereka memiliki pandangan dan rasa seperti itu, bahkan benci sekalipun.
Wajar dan seharusnya demikian.

Ya, bagaimana tidak, hari gini,
hasil panen padi dari sawah luasan per satu hektar hanya sejumlah 5 ton sampai 8 ton saja.
Artinya penghasilan para petani hanya berkisar Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan.

Cukup apa uang Rp 300 ribu atau Rp 500 ribu harus hidupi keluarga ( bapa, ibu dan anak – anak ) dengan kondisi barang serba harus beli ?

Hanya satu solusi bin jalan keluar yang ‘ wajib ‘ pemerintah ( pusat, regional/provinsi dan lokal/kota – kabupaten ) lakukan.

Yaitu
Buat, ciptakan kondisi dan keluarkan kebijakan serta diskresi untuk mengubah segala hal yang berhubungan dengan dunia pertanian dan pangan lewat percepatan.
Jadikan profesi sebagai petani, peternak dan nelayan jalan tercepat hidup kaya raya dan makmur sentausa.
Buat dan kondisikan segera para petani dan generasi muda khususnya milenial bangga dan berlomba jadi petani, peternak dan nelayan.

Bangsa Indonesia punya ahli/pakar pertanian organik.
Mereka bisa dan mampu jadikan hasil panen padi dari per satu hektar mencapai angka 40 ton gabah ( padi ).
Artinya bisa dengan sangat mudah kita hitung :

Anggap saja harga gabah/padi Rp 5.000 per kilogram,
maka
40.000 X Rp 5.000
= Rp 200.000.000 per hektar

40 ton padi/gabah, 70 % menjadi beras ( organik lagi ), maka
28.000 kilogram X Rp 20.000
= Rp 560.000.000 per hektar satu kali panen dalam se tahun.
Jadi,
Rp 560.000.000 X 2 masa panen
= Rp 1.120.000.000 per tahun

So, penghasilan rata – rata seorang petani adalah
Rp 93.333.333 per bulan.

Penghasilan profesi apa yang bisa dapatkan uang nominal sebesar Rp 93 juta lebih setiap bulan, estimasi Rp 3 juta lebih per hari ?

Hanya dengan pola dan sistem seperti ini bangsa Indonesia bakal mampu dengan cepat kembalikan raih kejayaan dan kebesaran bangsa sebagai bangsa agraris dan maritim termakmur di dunia.

100 juta lebih generasi muda bangsa Indonesia telah dan sedang nganggur tidak jelas alias suram masa depan.

Jadikan mereka sebagai para pejuang dan petarung pangan masa depan bangsa dan negara Indonesia, supaya pada tahun 2045 nanti Indonesia Emas Benar Terwujud !.

[ 100 juta orang termasuk generasi muda punya penghasilan lebih dari Rp 3 juta per bulan dan Rp 93 juta per bulan, maka bangsa dan negara Indonesia bakal punya dana sebesar :

100.000.000 petani X Rp 93.000.000 per bulan
= Rp 9.300.000.000.000.000
= Rp 9.300 triliun per bulan

Dalam satu tahun
Rp 9.300 triliun X 12 bulan
= Rp 111.600 triliun per tahun

Cukup satu tahun saja para petani bisa lunasi hutang negara yang sejak Indonesia merdeka sampai hari ini tidak pernah bisa lunas, hutang permanen ]

Bandung, Kamis, 6 Mei 2021

Zaki CJI

MuliakanTanahAirIndonesia

MuliakanPetaniPeternakNelayanIndonesia

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan