banner 728x90

Narsis ! Haruskah ?

Narsis ! Haruskah ?

Jauh sebelum selfie pertama, orang Yunani Kuno dan Romawi Kuno sudah memiliki cerita ( mitos ) tentang seseorang yang terlalu terobsesi dengan bayangannya sendiri.
Dalam suatu cerita, dikisahkan Narcissus, pemuda tampan yang menjelajahi dunia untuk mencari kekasih.

Setelah menolak seorang dewi bernama Echo, dia melihat sekilas bayangannya di sungai dan jatuh cinta kepada bayangannya. Tidak dapat mengendalikan dirinya ( kekaguman atas bayangan dirinya ), Narcissus tenggelam.
Sebuah bunga tumbuh di tempat ia meninggal dan hingga hari ini, kita mengenal bunga tersebut sebagai bunga Narcissus.

Cerita ini menangkap ide dasar narsisme, keterlibatan diri yang ditinggikan dan kadang kala merugikan. Tetapi ini bukan sekedar tipe kepribadian yang muncul di artikel majalah. Sebenarnya ini adalah sekumpulan sifat yang digolongkan dan dipelajari psikolog.

Narsisme dalam ranah psikologi didefinisikan sebagai citra diri yang terlalu tinggi dan muluk. Dalam tingkatan yang berbeda, narsisis ( pengidap narsisme ) berpikir bahwa mereka lebih tampan, lebih pintar dan lebih penting dari orang lain serta mereka merasa pantas untuk mendapatkan perlakuan khusus.

Psikolog mengklasifikasikan 2 jenis narsisme sebagai bentuk kepribadian yakni Narsisme Grandiose dan Narsisme Vulnerable.
Selain itu, ada juga gangguan kepribadian narsistik, bentuk yang lebih ekstrim dari narsisme.

Narsisme Grandiose adalah jenis yang paling terkenal, ditandai dengan extroversion, dominansi dan mencari perhatian.
Narsisis grandiose memburu perhatian dan kekuasaan, kadang sebagai politikus, selebriti atau pemimpin organisasi kebudayaan.

Tidak semua orang yang mengejar posisi kekuasaan ini adalah narsistik. Ada pula yang melakukannya untuk alasan yang positif, seperti memaksimalkan potensi atau untuk membantu hidup seseorang menjadi lebih baik ( pengabdian ).
Meski begitu, orang narsistik mencari kekuasaan untuk status dan perhatian yang menyertainya.

Sementara itu, Narsisme Vulnerable bisa lebih tenang dan pendiam. Mereka memiliki rasa kepemilikan yang kuat, namun dengan mudah merasa terancam jika diremehkan.
Pada kedua kasus ini, sisi gelap narsisme muncul dalam jangka panjang. Narsisis cenderung bertindak egois, sehingga pemimpin yang narsistik bisa membuat keputusan yang berisiko atau tidak etis. Selain itu, pasangan yang narsistik bisa saja tidak jujur atau tidak setia.

Sa’at pandangan optimis dalam diri mereka tertantang, maka mereka bisa menjadi marah dan agresif. Hal ini seperti penyakit yang penderitanya merasa sangat baik, namun orang di sekelilingnya menjadi menderita.

Dalam kasus ekstrem, perilaku ini diklasifikasikan sebagai gangguan psikologis yang disebut ‘ Narcissistic Personality Disorder ‘ atau gangguan kepribadian narsistik.
Hal ini mempengaruhi 1 – 2 % populasi manusia, utamanya pada laki – laki.

Ini merupakan diagnosis yang diperuntukkan untuk orang dewasa. Kaum muda, utamanya anak – anak jadi bisa sangat egois, tetapi ini bisa saja hanya bagian dari perkembangan yang normal.

Edisi ke lima dari ‘ American Psychiatric Association’s Diagnostic and Statistical Manual ‘ menjelaskan beberapa sifat yang terkait dnegan gangguan kepribadian narsistik. Hal ini meliputi pandangan yang muluk tentang diri mereka sendiri, permasalahan dengan empati, perasaan merasa berhak dan kebutuhan akan kekaguman dan perhatian.
Hal utama yang membuat sifat ini menjadi gangguan kepribadian adalah mereka mengambil alih hak orang lain dan menyebabkan masalah yang signifikan.

Coba bayangkan, bukannya menyayangi dan peduli kepada pasangan atau anak – anak anda, namun anda menggunakan mereka sebagai sumber perhatian dan kekaguman.
Atau bayangkan bukannya mencari kritik yang membangun atas kinerja anda, tetapi anda malah memberitahu semua pihak yang mencoba membantu bahwa mereka salah.

Jadi, apa yang menyebabkan narsisme ?

Studi pada orang kembar menunjukan bahwa jawabannya terletak pada komponen genetik yang kuat, meskipun kita tidak tahu gen mana yang terlibat. Selain itu, lingkungan tempat tinggal dan dibesarkan juga merupakan faktor yang penting.

Orang tua yang terlalu memanjakan anaknya bisa menyebabkan perkembangan narsisme grandiose.
Sedangkan orang tua yang yang dingin dan suka mengendalikan anaknya menyebabkan narsisme vulnerable.

Narsisme sering juga dijumpai dalam budaya yang menghargai individualistis dan promosi diri ( self promotion ).
Di Amerika Serikat, narsisme sebagai bentuk kepribadian telah meningkat sejak tahun 1970 an. Fokus masyarakat pada tahun 1960 an adalah memberi jalan untuk gerakan menghargai diri sendiri dan kebangkitan materialisme.

Baru – baru ini, social media telah melipatgandakan kesempatan bagi seseorang untuk melakukan promosi diri. Meski begitu, belum ada bukti yang jelas dan signifikan bahwa social media menyebabkan narsisme. Sebaliknya, hal itu memberikan narsisis sarana untuk mencari status dan perhatian sosial.

Jadi, bisakah narsisis memperbaiki sifat – sifat negatif itu ?

Ya, bisa. Hal apapun yang mendorong refleksi jujur terhadap perilaku mereka sendiri dan peduli pada orang lain seperti psikoterapi atau menyebarkan kasih sayang terhadap orang lain bisa membantu.
Kesulitannya bisa jadi sangat menantang bagi orang dengan gangguan kepribadian narsistik untuk terus memperbaiki diri. Bagi seorang narsisis, refleksi diri itu sulit dilakukan dari sudut yang tidak menyenangkan.

Cimahi, Sabtu, 27 Maret 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan