banner 728x90

Tidur : Bagian Hidup Tak Terpisahkan !

Tidur : Bagian Hidup Tak Terpisahkan !

Bagaimana tidur rekan – rekan pembaca sekalian tadi malam ?

Penulis harap tidur rekan – rekan nyenyak dan nyaman, intinya bisa digunakan dengan baik sebagai kegiatan istirahat. Sebagaimana kita ketahui bersama, tidur merupakan kegiatan yang penting bagi tubuh manusia. Selain sebagai kegiatan untuk mengistirahatkan anggota tubuh dimana tidur sangat penting untuk kesehatan otak, organ dan komponen – komponen dalam tubuh kita.

Di masa pandemi Covid-19, orang – orang cenderung menjadi lebih sibuk dibandingkan dengan biasanya. Banyak waktu yang dihabiskan untuk mengurusi banyak hal dalam 1 hari ( meskipun tetap dilakukan dari rumah ).
Hal ini berdampak pada intensitas dan kualitas kegiatan tidur yang dilakukan serta mengarah kepada “ revenge bedtime procrastination ”.

Menunda tidur atau ‘ revenge bed time procrastination ‘ merupakan perilaku menunda atau mengorbankan waktu tidur untuk bersantai atau bahasa kerennya “ me time ”.
Hal ini terjadi dikarenakan seseorang kekurangan waktu untuk diri sendiri, pada pagi hingga sore hari ( karena mengerjakan kegiatan dan pekerjaan ). Sepanjang informasi yang penulis dapatkan,
‘ Revenge Bed Time Procrastination ‘ bukan merupakan istilah saintifik, melainkan suatu fenomena sosial yang terjadi di beberapa tempat.

Istilah “ Revenge Bed Time Procrastination ” muncul pertama kali dari negeri Tiongkok yang berbunyi “ baofuxing aoye ”.
Istilah ini muncul karena waktu kerja yang panjang memicu stress disertai kurangnya kesempatan untuk melakukan aktivitas personal, tepatnya waktu untuk melakukan personal enjoyment. Hal ini meliputi kegiatan menunda waktu untuk ke tempat tidur atau bersiap tidur dan menunda proses/kegiatan tidur meskipun sudah dalam posisi rebahan/berbaring ( in bed procrastination ).

Hal ini berkaitan dengan permasalahan ‘ Intention-Behaviour Gap ‘ yakni kesenjangan antara keinginan ( intensi ) dengan perilaku ( aksi sebetulnya ). Sederhananya “ pengen mah pengen, tapi…. ”.
Seseorang menginginkan sesuatu, dalam hal ini objeknya tidur, akan tetapi aksi atau tindakan yang dilakukan tidak sejalan dengan intensi awal.

Lebih jauh, terdapat beberapa rintangan yang membuat intention tidak jadi behavior atau hal yang membuat keinginan ( intensi ) tidak tercapai karena tidak dilakukan yakni :

  1. Gak jadi memulai, ini bisa terjadi karena lupa dan bisa juga karena kehilangan momentum
  2. Gak jadi nerusin, ini permasalahan konsistensi. Hal ini terjadi karena seorang individu tidak mencatat progress yang sudah dilakukan dan tidak merefleksikan/mengevaluasi tujuan.
  3. Gak jadi diselesaikan, ini terjadi karena distraksi yang terjadi selama proses kegiatan, seperti main hape yang berlebihan sa’at istirahat atau kegiatan lainnya yang mengakibatkan penundaan terhadap hal penting yang sedang dikerjakan.

Dalam hal ini, tidur menjadi objek yang menjadi tarik menarik antara keinginan dan perilaku. ‘ Sleep Foundation ‘ mencatat, sekitar 40 % orang yang mereka teliti mengalami permasalahan tidur selama pandemi. Jam kerja yang bertambah dan pembatasan yang tidak jelas antara kehidupan kerja dan kehidupan personal semakin mempersulit kondisi.

Salah satu studi dari Harvard Business School menyatakan bahwa 3,1 juta orang di 16 kota mengalami penambahan jam kerja rata – rata sebanyak 8,2 % atau tepatnya 48-an menit.
Waktu kerja yang panjang dan konektivitas yang tinggi membuat waktu istirahat dan waktu personal semakin sulit ditemukan. Alhasil, waktu untuk tidur dikorbankan untuk melakukan kegiatan personal.

Meski begitu, jangan remehkan tidur. Tidur bukan sekedar proses untuk memulihkan energi, tapi lebih jauh tidur merupakan waktu sa’at bagian – bagian otak bekerja dan bagian tubuh memperbaiki dirinya. Kurang tidur dalam jangka panjang bisa berakibat pada menurunnya kesehatan fisik dan mental.
Lebih jauh, kurang tidur dapat mengakibatkan kesulitan meregulasi emosi, sulit berkonsentrasi, berkurangnya kemampuan pemecahan masalah dan tidak berdampak baik untuk memori jangka pendek dan jangka panjang di otak.

Dapat disimpulkan idealnya memang tidak menunda tidur, karena dapat mengganggu ritme sirkadian ( sirkulasi ) tubuh serta fungsi fisiologis dan kognitif. Jadi, pastikan bilamana harus menunda tidur, maka pastikan hal tersebut karena keharusan untuk melakukan sesuatu yang benar – benar penting, bukan untuk nonton hiburan.

Terakhir, penulis tutup artikel ini dengan kutipan lirik lagu Bang Haji Rhoma Irama,
“ Begadang jangan begadang, kalau tiada artinya.
Begadang boleh saja, asal ada perlunya ! ”

Cimahi, Senin, 15 Maret 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan