banner 728x90

Limbah Bunga !

Limbah Bunga !

Sebagai negara dengan mayoritas penduduk Hindu, India menghasilkan berton – ton limbah bunga setiap harinya. Hal ini berasal dari upacara dan kegiatan keagamaan yang menggunakan banyak bunga di India.
Meski begitu, kini ada salah satu perusahaan ‘ start up ‘ yang memberikan kesempatan kedua untuk bunga – bunga suci dan keramat tersebut agar bisa bermanfa’at sekali lagi.

Perusahaan tersebut adalah Phool.co, sebuah perusahaan ‘ start up ‘ yang berfokus pada bio material yang bermarkas di Kanpur, India. Perusahaan ini bekerja dengan ide unik untuk mengubah limbah bunga yang terbuang dari kuil dan menjadikannya dupa melalui tekonologi “ flower cycling ”.

Perusahaan ini mengumpulkan kurang lebih 12 ton limbah bunga dari berbagai kuil di India dan mentransformasikannya menjadi dupa buatan tangan ( handmade ). Namun, bisakah perusahaan ‘ start up ‘ ini memberikan dampak terhadap permasalahan limbah bunga di India ?

Semuanya dimulai dari pasar grosir yang ramai, salah satunya seperti di Shivalaya.
Pedagang bunga mengambil bunga yang akan mereka jual dan menjualnya di luar kawasan kuil. Dikarenakan bunga – bunga ini digunakan dalam ritual keagamaan, maka bunga – bunga ini dianggap sebagai barang keramat dan tidak bisa dibuang sembarangan ke tempat sampah.

Setiap hari, lebih dari 1.000 ton bunga berakhir di Sungai Gangga. Banyak diantara bunga – bunga tersebut memiliki kandungan kimia berbahaya seperti Arsenic, Timbal, Cadmium dan juga pestisida.

“ Saya sudah melihat orang – orang di India meletakan bunga di sungai sepanjang hidup saya. Meski begitu, belum pernah ada yang memikirkan limbah dari kuil sebagai salah satu sumber pencemaran lingkungan, ” ujar Angkit Agarwal, Founder Phool.co.

Maka dari itu, Angkit mendirikan Phool, yang dalam bahasa Hindu artinya bunga. Para pegawai Phool.co mengangkut sampah dari kuil di sekitar Kanpur, berkeliling menggunakan kendaraan pengangkut dan berhenti di 19 titik dalam satu hari. Setelah itu, mereka membawa limbah bunga tersebut ke pabrik pengolahan milik Phool.co, dimana para pekerja menimbang dan memisahkan bunga – bunga tersebut dari sampah benang, kain dan plastik.

Para pekerja hanya mengambil kelopak bunga untuk dupa dan mengelompokannya berdasarkan warna.
Mereka menyimpan tunas dan batang untuk diolah menjadi kompos yang dijual sebagai produk terpisah. Setelah itu, mereka menggelar kelopak bunga untuk dijemur dan dikeringkan di atas terpal besar.

Ketika sudah kering, para pekerja menggiling kelopak – kelopak bunga tersebut menjadi bubuk. Setelah itu bubuk tersebut dicampur dengan air dan minyak esensial, diaduk menggunakan tangan sampai menghasilkan tekstur seperti tanah liat.

Campuran tersebut lalu digulung menggunakan tangan. Para pekerja mencelupkan jari mereka ke bubuk bunga sembari menggulung campuran tersebut untuk membuat ketebalan yang rata. Setelah itu, batangan – batangan dupa tersebut dikeringkan, sebelum dicelupkan kembali ke minyak esensial. Lalu mereka dijemur dan dikeringkan satu kali lagi sebelum dikemas.

Para pekerja di Phool.co dapat memproduksi 400 batang dupa ( menyerupai lidi ) setiap jam. Angkit menamakan kegiatan ini sebagai “ flower cycling ”.
Ia mengklaim bahwa produk dupa yang ia dan Phool.co hasilkan lebih bersih dibandingkan produk dupa lain yang beredar di pasaran.

“ Biasanya, dupa dibuat dari batu bara. Pembakaran batu bara melepaskan senyawa sulfurdioksida yang berbahaya dan mengeluarkan banyak xylene ( dimetilbenzena ) yang berbahaya bagi kesehatan manusia, ” ujar Angkit.

Pada awalnya, teman – teman dan sanak keluarga Angkit meragukan bisnis ini. Ketika Angkit memutuskan untuk berhenti bekerja sebagai ahli otomasi mesin di suatu perusahaan dan memutuskan untuk menggarap limbah bunga dari kuil, ia dicemooh dan diprediksi akan jatuh miskin oleh teman – teman dan sanak keluarganya.

[ Seperti biasa ide atau gagasan yang ‘ out of the box ‘ senantiasa dicemooh orang ]

Ia pun harus melobi orang – orang dan tokoh agama di kuil untuk mengizinkannya mengolah limbah bunga dari kuil. Mereka bukan orang – orang yang mudah untuk diyakinkan.

Dalam suatu kutipan “ Arti ” agama Hindu yang berbunyi “ Tera tujhko arpan, ” yang artinya apa yang menjadi milik para dewa akan kembali menjadi milik para dewa.
Hal inilah yang menjadi landasan Angkit dalam meyakinkan para tokoh agama di kuil.

“ Bunga – bunga ini bukan milik saya dan bukan milik anda, bunga – bunga ini milik para dewa, ” ujar Angkit.

Selain itu, Angkit dan perusahaan rintisannya menggunakan bunga – bunga tersebut untuk diolah menjadi dupa, yang mana fungsinya adalah digunakan untuk kegiatan ibadah, sembahyang untuk menyembah para dewa.

Sa’at ini, Angkit masih mengulik cara – cara baru untuk mendaur ulang limbah bunga. Ia melakukan riset lab untuk mengembangkan produk baru, utamanya untuk membuat produk alternatif sebagai pengganti Styrofoam yang ramah lingkungan dan mudah terurai.
Sayangnya, produk – produk tersebut masih dalam tahap uji coba dan belum siap untuk dijual.

Meski begitu, limbah bunga hanya 16 % ( jadi ) polusi yang mencemari Sungai Gangga. Bahan kimia berbahaya, drainase saluran pembuangan terbuka dan sampah, langsung menuju ke sungai. Ini merupakan ancaman yang serius dan berbahaya bagi lebih dari 400 juta orang yang bergantung pada Sungai Gangga untuk minum.

Meskipun upaya terbaik sudah diupayakan untuk menyelamatkan Sungai Gangga, namun masih ada perjalanan panjang untuk memulihkannya, termasuk menyelesaikan permasalahan hulu Sungai ini di pengunungan es Himalaya.

Angkit menyadari bahwa ia dan usahanya tidak bisa membersihkan Sungai Gangga sendirian. Meski begitu, dengan usahanya, ia optimis dapat memberikan kesadaran terkait permasalahan lingkungan.

Ia berencana untuk meningkatkan lagi usahanya dan mengembangkan usahanya. Ia menargetkan untuk bisa mengolah 50 ton limbah bunga di 5 lokasi di India dan mempekerjakan 1.000 orang.

Cimahi, Senin, 1 Maret 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan