banner 728x90

Negara Kaya Jatuh Miskin adaĺah Siklus Kehidupan

Negara Kaya Jatuh Miskin adaĺah Siklus Kehidupan

Pernah ada cerita tentang suatu negara dan tahi burung. Ini adalah sebuah cerita tragedi kebangkrutan suatu negara yang kaya raya di masa lalu. Dahulu, negara tersebut merupakan negara kecil yang sangat kaya, bahkan sampai digelari “ World’s Richest Little Isle ” oleh National Geographic dan New York Times.
Lantas negara manakah itu ?

Negara tersebut adalah Republik Nauru, sebuah negara berbentuk pulau mungil yang terletak di Samudera Pasifik, tidak jauh dari Papua Nugini. Negara ini terletak di pulau kecil, luas wilayahnya hanya mencapai 21 km persegi, tidak jauh beda dengan luas wilayah Kota Magelang di Indonesia.
Karena keindahan alamnya yang luar biasa, pulau ini dahulu dijuluki sebagai “ The Pleasant Island ” oleh para penjelajah Eropa.

Selain memiliki keindahan alam, pulau tempat Republik Nauru juga menyimpan kekayaan alam yang luar biasa. Ini tidak seperti yang rekan – rekan pembaca pikirkan, kekayaan tersebut bukan emas, batu bara, uranium atau bahkan berlian. Tetapi, kekayaan alam Nauru adalah kandungan Guano.
Guano adalah kumpulan tahi burung yang sudah mengeras dan tertumpuk ( terkumpul ) selama jutaan tahun.

Kotoran burung yang menumpuk ini disebabkan lokasi geografis Nauru yang terletak di tengah samudera. Hal ini menjadikan Nauru menjadi lokasi transit burung – burung yang bermigrasi dalam jumlah besar melintasi samudera selama ribuan bahkan jutaan tahun.

Burung – burung tersebut singgah dan membuang kotoran di Nauru, hal ini meninggalkan kekayaan yang luar biasa buat negara Nauru. Guano yang merupakan kerak lapisan tahi burung mengandung unsur – unsur yang berharga yakni Fosfat, Nitrogen dan Potasium.

Ketiga kandungan tersebut sangat berharga sebagai bahan campuran produksi pupuk dan bubuk mesiu. Selain itu, sampai hari ini Fosfat masih digunakan dalam proses pembuatan detergen, pasta gigi, alkalin pada bumbu masakan dan beberapa obat tertentu yang memperbaiki dinding sel, tulang dan gigi.
Karena inilah Fosfat mengandung nilai ekonomi yang tinggi. Lebih jauh, Fosfat sampai hari ini ( 25 Februari 2021 ) tidak tergantikan, tidak bisa dibuat dan hanya bisa ditambang dari alam.

*Saking berharganya Guano, negara Bolivia, Peru dan Chile bahkan sempat berperang untuk memperebutkan wilayah yang mengandung [ 3 Guano ?].

Sayangnya, kekayaan alam di Nauru baru benar – benar bisa dinikmati oleh masyarakat Nauru di tahun 1968 setelah negara Nauru merdeka. Di masa – masa sebelumnya, pulau kecil ini pernah berada di bawah kekuasaan Jerman, Australia sampai pendudukan Jepang.

Sedikit catatan sejarah tentang kekayaan Guano di Nauru, pada tahun 1914 ketika masih dalam pendudukan Jerman, Nauru berhasil memproduksi 100.000 ton Fosfat.
Di masa itu, 1 ton Fosfat dihargai senilai 12,5 Dollar Australia ( AUD ), sementara biaya produksinya hanya membutuhkan 6 AUD/ton.

Sungguh luar biasa, profit marginnya mencapai 52 %. Selama setengah abad, sekitar 34 juta ton Fosfat Nauru dieksploitasi oleh pihak asing sejak 1916 – 1968.

Setelah Nauru merdeka pada tahun 1968, mereka baru benar – benar bisa menikmati kekayaan alam yang mereka miliki. Di masa itu, mereka menerima tambang raksasa dengan segala fasilitasnya.

Selain itu, Republik Nauru juga menerima pembayaran 107 juta AUD sebagai biaya ganti rugi atas kerusakan lingkungan yang terjadi karena penambangan Fosfat. Jumlah tersebut tidak ada apa – apanya dibandingkan dengan sisa cadangan Fosfat yang belum ditambang di negara tersebut.

Menurut riset yang dilakukan oleh Carl N. McDaniel dan John M. Gowdy, masih tersisa 60 – 70 juta ton Fosfat di Nauru yang bisa ditambang dan dapat menjadi sumber pendapatan ekspor negara Nauru.

Di Tahun 1976, National Geographic mengirim seorang jurnalis yang bernama Mike Holmes ke negara Nauru yang baru merdeka beberapa tahun. Dalam catatannya, Mike menulis bahwa Republik Mauru dapat memproduksi sebesar 2,2 juta ton fosfat/tahun dengan biaya produksi 60 AUD/ton.
Artinya, negara sekecil itu dapat meraup keuntungan 120 juta AUD di tahun 1976 atau setara dengan 9 triliun rupiah di tahun 2021 ( disesuaikan dengan inflasi ).

Mungkin, bagi rekan – rekan pembaca uang Rp 9 triliun tergolong kecil dan tidak ada apa – apanya jika dibandingkan dengan APBN Indonesia yang pada tahun 2020 mencapai Rp 2.739,16 triliun.
Meski begitu, perlu diketahui bahwa penduduk Nauru di tahun 1976 hanya berjumlah 7.286 jiwa.

Jadi pendapatan sebesar itu, bisa digunakan untuk mensejahterakan penduduknya. Maka, tidak heran Mike Holmes sampai menulis artikel tentang Nauru yang berjudul “ The Worlds Richest Nation – All of It ! ” dan juga artikel yang ditulis oleh jurnalis New York Times : Robert Trumbull yang berjudul “ World’s Richest Little Isle ” pada tahun 1982 untuk menggambarkan betapa kayanya negara Nauru yang diberkahi oleh kotoran burung – burung yang bermigrasi.

[ Hanya kotoran burung saja bisa membuat negara kaya raya.
Bagaimana negara Indonesia yang memiliki Emas di Freeport Papua ? ]

Dalam catatan Holmes, tergambar betapa nyamannya kehidupan rakyat Nauru di tahun 1970-an sampai tahun 1980-an. Rumah – rumah mereka sangat lengkap dengan segala fasilitas kemewahan di masa itu, mulai dari televisi, radio tape, kulkas, mesin cuci dan lain lain. Belum lagi mobil, motor dan perahu bermotor yang berjajar sepanjang pantai pulau Nauru.

Di masa itu, rakyat Nauru hanya berfokus untuk bekerja di pertambangan saja dan pemerintah menggratiskan pajak bagi masyarakatnya. Belum lagi pemerintah membagikan banyak hal gratis pada rakyatnya, mulai dari pembangunan rumah, listrik, air bersih, bahkan hingga tiket pesawat untuk seluruh rakyat Nauru.

Enak yaa, jadi rakyat Nauru di masa itu.
Yaa, bayangkan saja, GDP per capita Nauru meningkat dua kali lipat hanya dalam 10 tahun, mencapai 5.414 USD di tahun 1980.
Sebagai perbandingan, GDP per capita Singapura pada tahun 1980-an yang di masa itu sedang menggalakan pembangunan besar – besaran hanya mencapai level 5.005 USD, masih kalah oleh Nauru.

Padahal Singapura di masa itu mempunyai penduduk sekitar 2,4 juta jiwa dan sedang sangat produktif dalam proyek pembangunan skala besar. Jadi, Nauru yang mempunyai penduduk hanya 7000-an penduduk dapat menyaingi Singapura dengan ( hanya ) … tahi burung.

Seperti banyak cerita di dunia, segala hal yang baik tentu menyimpan sisi lain. Dengan kekayaan sumber daya yang melimpah dan kemakmuran tersebut, rakyat Nauru dibuat terlena. Mereka lupa dengan satu hal penting, di balik segala kelimpahan itu, mereka tidak terlatih untuk mengelola keuangan dan kekayaan mereka.

Lebih jauh, mereka juga tidak terlatih dalam menghadapi salah satu situasi ekonomi yaitu ‘ kelangkaan ’. Cepat atau lambat, Fosfat di Nauru tentu akan habis jika terus ditambang.

Apa hal buruk yang mungkin terjadi jika Fosfat di Nauru habis ditambang ?

Maka dari itu, pemerintah Nauru mulai mencari akal supaya mereka bisa mengelola cadangan kas negaranya. Pada tahun 2009, mereka akhirnya membuat suatu badan investasi nasional atau sekarang lebih dikenal dengan istilah ‘ Sovereign Wealth Fund ‘ ( SWF ) atau Badan Hukum Investasi Nasional Nauru dengan nama ‘ Nauru Phosphate Royalties Trust Act ‘ ( NPRT ).
Lembaga ini bertugas untuk mengelola dana Republik Nauru dangan menginvestasikannya ke luar negeri.

Sayangnya, di Nauru di masa itu, belom ada ahli ekonomi dan ahli keuangan maupun investasi di Nauru. Alhasil, mereka berkonsultasi dengan banyak konsultan asing untuk mengelola uang mereka.

Pada akhirnya, banyak dana mereka diinvestasikan ke aset tidak liquid, seperti real estate dan hotel di berbagai kota besar di seluruh dunia seperti Auckland, Manila, Melbourne, Honolulu, London dan beberapa kota lainnya.
Salah satu yang terkenal adalah pembangunan Nauru House, sebuah gedung pencakar langit yang sempat menjadi gedung tertinggi di Melbourne di tahun 1970-an.

Pada tahun 1976, GDP per capita Nauru terus turun, seiring dengan berkurangnya produksi Fosfat yang berhasil ditambang. Hal ini diperparah dengan pengelolaan dana NPRT yang berantakan.

Kenapa bisa terjadi seperti itu ?

Logikanya, investasi di real estate harusnya aman. Didukung dengan harga tanah yang meningkat setiap tahunnya, jadi seharusnya investasi di property merupakan ide yang baik dengan catatan dana investasinya dikelola secara profesional, budgeting yang baik dan terukur dengan prinsip kehati – hatian.

Lebih parahnya lagi, para pimpinan negara dan konsultan keuangan tersebut banyak melakukan tindak korupsi pengelolaan dana investasi. Biaya operasional membengkak tanpa alasan yang jelas, lalu pada tahun 1989 – 2004, pemerintah Nauru berganti pimpinan sampai 21 kali.

Misi penyelamatan keuangan nasional menjadi ajang untuk memperkaya diri dan hura – hura dengan menginap di seluruh hotel berbintang di seluruh dunia, terbang menggunakan pesawat kelas 1 serta mengeksekusi biaya investasi tanpa memperhitungkan biaya perawatan gedung, pajak bangunan di kota besar dan lain – lain.

[ Hal ini terjadi pada Indonesia selama era Orde Baru Soeharto ]

Pada akhirnya, di tahun 2002 Republik Nauru sampai harus berhutang sampai 239 juta USD pada ‘ GE Capital ‘ dan mulai mengalami kesulitan dalam melunasi hutang hutangnya. Aset real estate di beberapa belahan dunia tidak mudah dicairkan dalam waktu singkat.

Akhirnya aset – aset property Nauru disita oleh pengadilan. Lebih jauh, Nauru dianggap tidak mampu melunasi hutang – hutangnya pada tahun 2002. Di tahun itu pula, Nauru dianggap sebagai negara yang telah bangkrut karena gagal dalam menjalankan kewajibannya.

Parahnya lagi, penambangan Fosfat menimbulkan kerusakan lingkungan yang luar biasa pada ekosistem Nauru. Tanah – tanah di Nauru tidak lagi bisa digunakan untuk melakukan kegiatan pertanian dan perkebunan.
Pantainya juga tercemar oleh limbah sisa penambangan Fosfat, sehingga nelayan Nauru jadi kesulitan dalam menangkap ikan.

Setelah semua itu, rakyat Nauru hanya bisa bergantung dari ekspor makanan murah dari luar negeri. Makanan – makanan tersebut tidak memiliki gizi yang seimbang, seperti makanan kaleng yang kaya akan karbohidrat, gula dan bahan pengawet.

Hal ini menyebabkan banyak rakyat Nauru menderita obesitas yang parah. Negara Nauru pun beberapa kali menempati ranking teratas sebagai Negara dengan penderita obesitas terbanyak di dunia.

Sampai hari ini, gelar “ Paradise Island ” yang disematkan kepada Nauru hanya tinggal kenangan, melihat kondisi lingkungannya yang hancur akibat pertambangan. Rakyatnya miskin dan gizinya tidak seimbang pula.

Tragisnya lagi, sekarang Nauru menjadi negara ‘ Tax Heaven ‘ tempat para koruptor dan mafia memanfa’atkan hukum negara melakukan kegiatan pencucian uang.
Negara Nauru yang dulu merupakan negara kaya di masa jayanya, sekarang menjadi negara miskin dengan tingkat pengangguran mencapai 23 % dan 24 % penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan.

Dari cerita ini, kita dapat mengambil pelajaran bahwa kemampuan mengelola keuangan merupakan suatu hal yang penting yang harus dimiliki oleh suatu negara. Bukan tentang seberapa besar uang yang didapat, tetapi bagaimana mengelola keuangan yang dimiliki agar bisa menghasilkan. Sebesar apapun uang yang didapat, jika tidak dikelola dengan baik tentu akan habis juga pada akhirnya.

Selain itu, kita juga dapat mempelajari tentang pentingya kesadaran untuk memelihara keberlangsungan sumber daya untuk jangka panjang. Menjaga ekosistem bukan sekedar kesadaran ekologi saja, melainkan juga kesadaran ekonomi.

[ Negara manapun yang jadi pemenang dan bertahan hidup adalah negara yang mandiri pangan dan tidak bergantung pada ( suplai/produk ) negara asing ]

Cimahi, Jum’at, 26 Februari 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan