banner 728x90

Maghoot : ” Inovasi Black Soldier Fly: Peningkatan Nilai Ekonomi dan Lingkungan “

Maghoot : ” Inovasi Black Soldier Fly: Peningkatan Nilai Ekonomi dan Lingkungan “

Pengabdian dalam membagikan ilmu pengetahuan merupakan salah satu tugas mulia dari seorang akademisi. Berkaitan dengan hal tersebut, pada tanggal 16 Februari 2021, Dewan Guru Besar ( DGB ) IPB bekerjasama dengan Asosiasi Profesor Indonesia ( API ) menyelenggarakan webinar yang memberikan informasi tentang Black Soldier Fly ( BSF ) dan peluang pemanfa’atannya dalam menjawab persoalan bangsa Indonesia.
Adapun tema utama dari webinar ini berjudul
“ Inovasi Black Soldier Fly: Peningkatan Nilai Ekonomi dan Lingkungan ”.

Kegiatan diikuti oleh 600 peserta dengan berbagai latar belakang pendidikan. Webinar diawali dengan sambutan dari Prof. Evi Damanthi selaku Ketua Dewan Guru Besar IPB. Beliau menjelaskan bahwa DGB IPB merupakan salah satu organ di IPB dan beranggotakan 232 Guru Besar dengan berbagai kepakaran.
Tugas DGB adalah mengembangkan keilmuan dan memberikan sumbangsih pemikiran terkait persoalan bangsa.

Prof. Evi berharap, webinar ini dapat memberikan wawasan dan BSF dapat dibudidayakan baik dalam level sederhana maupun di level industri besar. Pemanfa’atan BSF dapat memberikan dampak ekonomi yang positif dan berkontribusi terhadap perbaikan lingkungan.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan Prof. Ari Purbayanto selaku Ketua Asosiasi Profesor Indonesia. Beliau menyatakan bahwa jumlah profesor di Indonesia mencapai 5600, mereka mumpuni dalam bidangnya masing-masing .

Diharapkan para profesor dan guru besar tersebut dapat menunjukan kiprah dan kontribusinya dalam menyelesaikan permasalahan bangsa.
Salah satunya dengan mengadakan seminar dan menyampaikan informasi ke masyarakat, sehingga negara Indonesia bisa keluar dari negara berkembang dan menjadi negara maju.

Setelah sambutan dari Ketua DGB IPB dan Ketua API, maka kegiatan dilanjutkan dengan pemaparan pembicara. Prof. Dr. Damayanti Buchori menjadi pembicara pertama.
Secara umum, beliau menjelaskan tentang tinjauan ilmiah BSF dan peluang pemanfa’atannya.

Secara Bioekologi, Prof. Damayanti menyampaikan bahwa BSF sudah ada sejak 40 juta tahun yang lalu. Secara tampilan fisik, BSF memiliki tubuh berwarna hitam dengan panjang 1,4 – 2,0 cm dan memiliki abdomen menyerupai lebah.

Ketika dewasa, BSF tidak memiliki mulut yang fungsional, karena lalat BSF dewasa hanya beraktivitas untuk kawin dan bereproduksi selama hidupnya.
Dalam bereproduksi, BSF betina memerlukan waktu 20 – 30 menit untuk bertelur dengan jumlah terlur 546 – 1505 butir. Betina BSF hanya bertelur sekali semasa hidupnya, setelah itu mati.

Hal yang penting dari BSF adalah larvanya.
Larva BSF memiliki peran di alam sebagai decomposer dan scavanger, mereka mampu memakan bahan organik yang membusuk. Hal istimewa lainnya, larva BSF mampu mengubah sejumlah besar biomasa limbah menjadi protein ( 40 % ) dan lemak ( 60 % ).

BSF tersebar di banyak bagian dunia. Meski begitu, asal muasalnya berasal dari Amerika Utara dan kemudian menyebar ke wilayah tropis dan subtropis.

Kenapa disebut Black Soldier Fly atau Lalat Tentara Hitam, karena tubuhnya warnanya hitam dan karena termasuk famili Stratiomydae yang memiliki warna dengan motif loreng tentara.

Menurut Persatuan Entomologi Indonesia belum ada nama baku bagi Black Soldier Fly ( belum masuk nama umum serangga ).
Hal ini merupakan PR untuk PEI.
Di dunia orang awam, larva BSF dikenal dengan kata Maggot. Secara Morfologi, larva BSF memiliki mulut yang luar biasa yang bisa menghancurkan apapun dan memiliki sistem pencernaan yang hanya menyisakan sebagian kecil dari berat dan volume limbah yang dikonsumsinya.

Timbul pertanyaan, apakah BSF bisa berbahaya dan bisa menjadi hama ?

Untuk menjawab hal tersebut, dikembalikan lagi dengan mendefinisikan hama.
Hama adalah serangga yang dapat menyebabkan kerugian ekonomi. Jadi, selama BSF tidak menyebabkan kerugian ekonomi, maka BSF tidak termasuk hama.

Selain itu, peran BSF adalah mengkonsumsi bangkai, bukan tanaman segar ( bukan herbivora ), maka tidak akan menjadi hama. Lebih jauh, dalam beberapa penelitian, larva BSF yang mengkonsumsi sampah organik dapat menurunkan jumlah bakteri berbahaya seperti Salmonella berkat sistem pencernaannya.

Dalam menutup pemaparannya, Prof. Damayanti menjelaskan bahwa pemanfa’atan BSF dapat untuk mengolah sampah organik dengan cepat. BSF juga merupakan salah satu sumber protein yang menjanjikan dan dapat berperan sebagai pangan alternatif di masa depan.

Pemaparan kemudian dilanjutkan oleh Prof. Agus Pakpahan. Secara umum beliau menceritakan tentang perkembangan Asosiasi BSF Indonesia.
Asosiasi BSF Indonesia merupakan suatu wadah pertukaran informasi, media komunikasi, edukasi dan penemuan terkait BSF.

Organisasi ini didirikan untuk bisa menjadi institusi yang dapat memediasi kepentingan para ‘ stake holders ‘ dalam memajukan usahanya. Selain itu, Asosiasi BSF Indonesia juga akan menjadi mitra pemerintah dalam perumusan kebijakan terkait.

Dalam pemaparannya, Prof. Agus menjelaskan bahwa dunia usaha Indonesia senang sekali mengekspor bahan mentah. Beliau memiliki hipotesa bahwa dunia usaha Indonesia belum maju karena minim inovasi. Diharapkan dengan adanya BSF dapat menjadi inovasi dalam dunia usaha Indonesia, lebih jauh dapat menjadi solusi untuk pemenuhan kebutuhan ( pangan ) masyarakat.

Selain mengundang profesor dan akademisi, webinar ini juga mengundang pengusaha yang berkecimpung di bidang yang melibatkan BSF, salah satunya adalah Budi Tanaka selaku Dirut PT Bio Cycle Indo.

Beliau banyak menjelaskan tentang perkembangan teknologi budidaya BSF di PT Bio Cycle Indo. Perusahaan tersebut berlokasi di Riau dan merupakan industri produsen pakan ternak. Dalam kegiatan operasionalnya, mereka menggunakan ‘ Pam Cornnelmil ‘ dan ‘ Crude Palm ‘ yakni limbah kelapa sawit untuk memberi makan larva BSF.

Larva BSF tersebut kemudian diolah sedemikian rupa hingga menjadi pakan ternak yang kaya protein. Produk pakan ternak yang dihasilkan PT Bio Cycle Indo sudah diekspor ke beberapa negara, utamanya negara maju seperti Jepang dan Uni Eropa.
“ Negara-negara tersebut memiliki kesadaran untuk mendapatkan protein yang bersih dan tidak merusak lingkungan, ” ujar Budi.

Ada beberapa kendala yang disampaikan oleh Budi, salah satunya adalah fakta bahwa negara Indonesia merupakan importir produk hewan yang besar, tetapi tidak mempunyai regulasi yang mendukung ekspor produk hewan.
Dampaknya pengusaha lokal Indonesia yang berkecimpung di produk hewan kesulitan menjangkau pasar ekspor karena regulasi dan standarisasi kurang mendukung.
Standarisasi yang diterapkan juga berbeda dengan negara tujuan yang membutuhkan produk hewani.

Berikut produk-produk BSF yang diproduksi oleh PT Bio Cycle Indo :

  1. Larva Utuh ( dikeringkan )
  2. Insect Oil
  3. Insect Meal ( makanan ikan berbasis larva BSF )
  4. Frass ( Pupuk Organik )

Budi menyampaikan bahwa produksi produk – produk tersebut mencapai 1000 ton/bulan. Dia menutup pemaparannya dengan menjelaskan bahwa dahulu sebelum revolusi pertanian, maka serangga merupakan aspek penting dalam rantai makanan.
Dengan berkembangnya kimia dalam pertanian dan peternakan, maka peran serangga tergantikan dengan pakan kimia yang relatif mempunyai harga yang mahal. Oleh karena itu, PT Bio Cycle Indo ingin melibatkan kembali serangga dalam rantai makanan, khususnya di level ternak.

Pemaparan terakhir diisi oleh Markus Susanto, CEO PT Maggot Indonesia Lestari. Beliau berfokus dalam Waste Management. Indonesia sebagai negara besar menghasilkan sampah yang besar.
Di tahun 2019, total sampah yang dihasilkan mencapai 67 juta ton. 60 % diantaranya merupakan sampah organik ( 40,2 juta ton ).

Sampah – sampah ini memiliki potensi untuk banyak hal, sayangnya sampah yang jumlahnya besar ini belum dikelola dengan baik. Markus menjelaskan bahwa dengan sistem pengelolaan sampah yang ada di Indonesia sa’at ini, baru berhasil mengolah sampah 10 %, itupun pemanfa’atannya belum maksimal.

Markus, bersama PT Maggot Indonesia Lestari mengelola sampah dengan memanfa’atkan BSF.
BSF dapat membantu mengolalah sampah dengan lebih cepat dan efisien.
Manfa’at yang dihasilkan pun jauh lebih menguntungkan.
Dalam kegiatan operasionalnya, PT Maggot Indonesia mengambil sampah dari berbagai sumber, meliputi pasar, hotel, peternakan, industri sampai mengumpulkan sampah organik 1 ton/hari = 30 ton/bulan.

Markus menceritakan tahapan bagaimana menggunakan larva BSF/maggot untuk mengelola sampah.

Sampah organik dikumpulkan – maggot diletakan di bio conversion modul ( dikasih sampah setiap hari ) – diletakan bibit maggot berusia 6 – 9 hari – dalam 5 hari menghasilkan fresh larva dan compost – beberapa larva dijadikan dried larva dan beberapa dikembangkan menjadi BSF dewasa.

Maggot diproduksi ( dikembang biakan ) menggunakan insectarium dan biopond.

Markus berharap Indonesia dapat menjadi leading sector dalam budidaya BSF di dunia. Lebih jauh dengan pemanfa’atan BSF dalam waste management dapat mereduksi sampah organik, membangun kekuatan ekonomi dan menghasilkan devisa.

Sungguh luar biasa manfa’at dari makhluk Tuhan yang bernama Black Soldier Fly. Semoga pengembangan dan budidaya BSF di Indonesia dapat berjalan baik.
Lebih jauh, pemanfa’atan BSF dapat dijalankan dengan baik dan didukung oleh pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan bangsa dan menyediakan kebutuhan masyarakat. Aamiiin.

Cimahi, Sabtu, 20 Februari 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan