banner 728x90

Fashion : Kebutuhan Sandang

Fashion : Kebutuhan Sandang

Di masa sekarang, dimana dunia fashion dan mode sudah sangat berkembang, mari kita membicarakan tentang kaos. Dalam setahun transaksi penjualan dan pembelian kaos di dunia mencapai 2 miliar kaos yang menjadikannya garmen terlaris di dunia.

Lantas, bagaimana dan dimana kaos-kaos tersebut diproduksi ?
Lalu apakah dampaknya bagi lingkungan ?

Jenis pakaian ada bermacam-macam. Tetapi, pada umumnya kaos bermula dari pertanian di Amerika, Tiongkok dan atau India,
dimana biji kapas ditanam, disiram dan tumbuh untuk menghasilkan buah kapas yang halus.
Mesin-mesin otomatis dengan hati-hati memanen gumpalan-gumpalan kapas, lalu mesin pemisah biji kapas melepaskan buah-buah kapas halus dari bijinya dan serat’serat kapas dipadatkan menjadi 225 kilogram bal kapas.

Tanaman kapas membutuhkan jumlah air dan pestisida yang sangat banyak. Sebanyak 2.700 liter air dibutuhkan untuk menghasilkan satu buah kaos, jumlah yang cukup untuk mengisi 30 bak mandi.

[ Jumlah penduduk Indonesia lebih dari 271 juta jiwa.
Satu kaos saja berarti
2.700 liter air X 271.000.000
… hitung sendiri berapa miliar liter air dengan cuma-cuma telah bangsa Indonesia habiskan tanpa bisa menyediakan air setetes pun ]

Sementara itu, kapas membutuhkan lebih banyak insektisida dan pestisida dibandingkan dengan tanaman pertanian lainnya di dunia.
Polutan-polutan ini bersifat karsinogenik, membahayakan kesehatan para pekerja di lahan pertanian dan membahayakan ekosistem sekitarnya.
Beberapa kaos berbahan kapas organik yang tumbuh tanpa pestisida dan insektisida, tetapi produksinya kurang dari 1% dari 22,7 juta ton kubik produksi kapas dunia.

Setelah kapas meninggalkan lahan pertanian, pabrik-pabrik tekstil mengangkut bal-bal kapas ke tempat pemintalan ( yang biasanya terletak di Tiongkok atau India ), dimana mesin-mesin canggih mencampur, memisahkan, menyisir, menarik, meregangkan dan pada akhirnya mengepang kapas menjadi gulungan tali putih yang disebut slivers atau kerat.
Gulungan tersebut lalu dikirim ke tempat pemintalan yang mana mesin rajut yang besar merangkainya menjadi lembaran kain abu-abu kasar.
Lembaran kain tersebut lalu dipanaskan dan diberikan unsur kimiawi sampai menjadi lembut dan berwarna putih.

Setelah itu, lembaran kain dicelupkan ke dalam pemutih dan pewarna azo yang menjadi sumber warna yang tajam di 70 % tekstil yang ada. Sayangnya, beberapa unsur kimia mengandung kadmium yang dapat memicu kanker, timbal, kromium dan raksa. Komponen zat kirmia berbahaya lainnya dapat menimbulkan penyebaran kontaminasi ketika dibuang sebagai air limbah ke sungai dan lautan.

Sa’at ini, teknologi di berbagai negara sangat canggih, sehingga keseluruhan proses tanam dan produksi kain hampir tdak menggunakan tangan manusia. Namun, hal itu hanya sampai pada proses ini ( produksi kain ).

Setelah jadi, maka kain dikirimkan ke pabrik-pabrik yang mayoritas terletak di Bangladesh, Tiongkok, India atau Turki.
Jasa buruh masih dibutuhkan untuk menjahitnya menjadi kaos.

Proses tersebut merupakan pekerjaan yang terlalu rumit untuk dilakukan oleh mesin. Proses ini memiliki masalah tersendiri.
Sebagai contoh di Bangladesh yaitu negara yang lebih unggul dari Tiongkok sebagai eksportir terbesar kain katun, mempekerjakan sekitar 4,5 juta orang di industri kaos. Pada umumnya mereka memiliki masalah yaitu kemiskinan dan upah rendah.

[ Industri hanya membuat kaya para pemilik pabrik dan industri itu sendiri ]

Setelah proses manufaktur, maka semua kaos dikirim menggunakan kapal, kereta dan truk untuk dijual ke negara-negara maju.
Proses ini menjadikan kapas sebagai penghasil emisi karbon yang sangat besar. Beberapa negara memproduksi pakaian di dalam negeri, sehingga memangkas ongkos dan tingkat polusi, tetapi secara umum produksi pakaian menyumbang 10 % emisi karbon global dan jumlah tersebut terus meningkat. Semakin murahnya produksi garmen dan meningkatnya daya beli masyarakat, mendorong produksi global meningkat dari tahun 1994 ke 2014 sebesar 400 % atau sekitar 80 miliar garmen per tahun.

Pada akhirnya di rumah para konsumen, kaos memasuki salah satu fase yang paling intensif dalam siklusnya. Sebagai contoh, di Amerika rata-rata rumah tangga mencuci 400 pakaian per tahun, dimana setiap pencucian menghabiskan sekitar 40 galon air.
Mesin cuci dan pengering menyedot energi dimana pengering membutuhkan 5 – 6 kali lebih banyak energi daripada mesin cuci.

Perubahan drastis pada konsumsi pakaian selama 20 tahun terakhir, didorong oleh perusahaan-perusahaan besar dan pesatnya tren fashion telah menimbulkan beban yang berat bagi lingkungan, kesehatan para petani kapas dan menimbulkan praktik perburuhan yang patut dipertanyakan.
Hal ini juga menjadikan industri fashion menjadi penyumbang polusi terbesar kedua di dunia setelah minyak.

Meski begitu, ada hal-hal yang bisa kita lakukan. Misalnya dengan mempertimbangkan untuk membeli pakaian bekas layak pakai. Kita juga dapat mencoba untuk memilih tekstil berbahan kain organik atau daur ulang. Kita bisa mengurangi pencucian baju dan menjemurnya ( alih-alih menggunakan pengering ) untuk menghemat energi.

Daripada membuang kaos atau pakaian begitu saja, lebih baik didonasikan, didaur ulang atau menjadikannya sebagai lap. Pada akhirnya, anda akan bertanya pada diri anda sendiri, berapa kaos yang akan anda konsumsi ( gunakan ) selama hidup ? Dan dampak apa yang akan ditimbulkan pada dunia dan lingkungan ?

Cimahi, Senin, 8 Februari 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan