banner 728x90

Mongolia : Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi Di Dunia Era Pandemi Covid-19 Kalahkan China, Inggris, Perancis, Rusia dan Amerika Serikat !

Mongolia : Pertumbuhan Ekonomi Tertinggi Di Dunia Era Pandemi Covid-19 Kalahkan China, Inggris, Perancis, Rusia dan Amerika Serikat !

Mongolia merupakan bangsa yang besar. Dahulu, di bawah kepemimpinan Genghis Khan, Kekaisaran Mongol berhasil menaklukan Tiongkok, Daulah Islamiyyah, Rusia dan Eropa.
Mereka merupakan bangsa peternak, agraris murni. Sayangnya, hari ini nama Negara Mongolia tenggelam di tataran dunia dan eksistensinya juga ditenggelamkan, utamanya oleh tetangganya yakni Tiongkok/China.

Sepanjang sejarah, Mongolia dan Tiongkok memiliki hubungan yang rumit. Dahulu Tiongkok mendirikan Tembok Besar China untuk melindungi negerinya dan menahan serangan dari kaum nomaden Utara, salah satunya Bangsa Mongol. Pada tahun 1271, Mongol di bawah Kubilai Khan, keturunan Genghis Khan, mendirikan Dinasti Yuan dan menaklukan seluruh Tiongkok pada 1279.

[ Jadi fakta sejarah membuktikan bahwa sesungguhnya Bangsa Mongol telah berhasil mengalahkan dan menguasai seluruh China/Tiongkok ]

Pada 1368, Tiongkok di bawah Dinasti Ming berhasil menggulingkan dinasti Yuan dan mengusir bangsa Mongol dari Tiongkok.
Di bawah kepemimpinan Dinasti Ming lah Tembok Besar China diperkuat. Periode tersebut ditandai dengan serangan bertubi-tubi bangsa Mongol ke Tiongkok.

Sejarah berlanjut, Dinasti Ming digulingkan pada 1644 oleh pemberontakan petani di bawah Li Zicheng yang mendirikan Dinasti Shun yang berumur pendek yang segera digantikan oleh Dinasti Qing.

Setelah jatuhnya Dinasti Qing pada thaun 1911, maka Republik Tiongkok didirikan dan Mongolia mendeklarasikan kemerdekaannya setelah lebih dari 200 tahun di bawah kekuasaan Dinasti Qing. Selama periode ini, pemerintah Beiyang sebagai penerus dinasti Qing mengklaim Mongolia sebagai wialyah Tiongkok.

[ Republik Rakyat Tiongkok disebut RRT dan Republik Rakyat Mongolia disebut RRM ]

Akibatnya, Mongolia meminta dukungan Rusia untuk mengklaim kemerdekaannya.
Pada tahun 1919, pasukan Tiongkok ( RRT ) dipimpin oleh Jederal Xu Shuzheng maju ke Mongolia dan membatalkan kemerdekaannya.

Pada 1921, pasukan Tiongkok ( RRT ) diusir oleh pasukan Rusia Putih dibawah pimpinan Baron Roman von Ungern – Strernberg.
Beberapa bulan kemudian, pasukan tersebut diusir oleh Tentara Merah Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia dan pasukan Mongol pro Soviet.

Pada 1924, Kemerdekaan Republik Rakyat Mongolia diproklamasikan. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, maka Republik Tiongkok ( RRT) yang dipimpin oleh Kuomintang dipaksa secara resmi menerima kemerdekaan Mongolia di bawah tekanan Soviet.

Terlepas dari catatan sejarah dan politik luar negeri beserta hubungan internasional yang rumit dengan Tiongkok, Mongolia memiliki prospek ekonomi yang cerah pada tahun 2021. Padahal tahun-tahun ini merupakan masa yang sulit bagi banyak negara di dunia, tetapi menurut IMF, Mongolia mencatatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 6% di tahun 2021.

[ Data Global Growth Tracker mencatat pertumbuhan ekonomi Mongolia pada era pandemi Covid-19 tahun 2020 mencapai 10,7 %, tertinggi di dunia ]

Mungkinkah karena sumber pendapatan ekonominya didominasi sektor peternakan dan pertanian ?

Mongolia sangat mengandalkan sektor peternakan dan pertanian. Menurut data fari FAO ; hampir 90 % lahan di Mongolia digunakan untuk penggembalaan dan pertanian, 9,6 % merupakan hutan dan 0,9 % tertutup air. Kurang dari 1 % lahan di Mongolia yang tidak memiliki penggunaan yang efektif.
Lahan subur dan tanaman pernanen mencakup 1,3 juta hektar dan padang rumput permanen mencakup 117,1 juta hektar.

Bisa jadi Mongolia mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif mencapai 6 % karena sektor pertanian dan peternakan. Kedua sektor tersebut menyerap banyak tenaga kerja. Selain itu, sektor pertanian dan peternakan juga sangat penting untuk ketahanan pangan yang kondisinya sangat krusial di masa pandemi seperti ini.

[ Data Global Growth Tracker : Amerika Serikat 0,5 %, China -6,8 %, Prancis -5,2 %, Inggris -1,8 %, dan Belanda -0,6 %
( – = negatif )
Indonesia 3 % dan Jepang 2,2 % ]

Dengan angka yang tidak jauh, Indonesia juga mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang positif mencapai 6,1 % (IMF). Apakah mungkin hal ini juga terjadi karena bangsa Indonesia merupakan negara Agraris ?

Bisa iya dan bisa tidak, karena Indonesia mengandalkan banyak sektor untuk sistem perekonomiannya yang tidak hanya berfokus pada pertanian dan peternakan saja.

Terkait dengan hal tersebut, kondisi sektor pertanian dan peternakan cukup memprihatinkan di Indonesia.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik ( BPS ) pada tahun 2020 ada sekitar 33,4 juta petani yang bergerak di semua komoditas sektor pertanian. Jumlah tersebut menurun jika dibandingkan dengan jumalh petani pada 2019 yang mencapai 34,58 juta.
Minat generasi muda ke dunia pertanian cukup rendah bahkan sangat memprihatinkan.

Entah mengapa, generasi muda di Indonesia memandang dunia pertanian seperti melihat hantu.
Dunia pertanian dianggap menyeramkan, penuh dengan kesulitan, tidak ada jaminan kekayaan dan merepotkan.

Hal ini diperparah dengan peristiwa G 30 S PKI.
Tragedi tersebut mem’framming’ bahwa petani = PKI. Hal ini disebabkan pendukung dan mayoritas anggota PKI merupakan petani.
Ada banyak ketakutan tidak tertulis, utamanya dari pandangan masyarakat secara umum terhadap dunia pertanian dan peternakan yang mempengaruhi generasi muda ( malas ) untuk terjun ke dunia pertanian dan peternakan.

Bagaimana keadaan ke depan ?

Para ahli masih belum bisa menentukan kapan pandemi Covid-19 akan berakhir. Ketahanan pangan akan menjadi hal yang sangat krusial di masa-masa sulit ke depan. Ketahanan pangan sangat bergantung kepada sektor pertanian, peternakan dan perikanan.

[ Mongolia mempunyai ketahanan pangan yang kuat ]

Bagaimana peran generasi muda ke depannya ?

Semoga lekas sadar dan muncul keberanian untuk terjun ke sektor pertanian, peternakan dan atau perikanan di tengah kondisi dunia yang tidak menentu.

Cimahi, Minggu, 7 Februari 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan