banner 728x90

Hutan Aokigahara : Jukai !

Hutan Aokigahara : Jukai !

Pada tanggal 9 Januari 2021, saya secara tidak sengaja menonton film yang berjudul ‘ The Forest ’ yang tayang di salah satu saluran televisi swasta.
The Forest merupakan film bergenre horor dari Amerika Serikat yang tayang pada tahun 2016. Film ini disutradarai oleh Jason Zada dan dibintangi oleh Natalie Dormer dan Taylor Kinney.
Film ini mengambil latar tempat di Jepang, utamanya di Hutan Aokigahara ( Hutan tempat bunuh diri di Jepang ).

Secara umum, film ini menceritakan tentang Sara Price, yang diperankan oleh Natalie Dormer, seorang warga negara Amerika yang pergi ke Jepang untuk mencari adiknya yang hilang dan tersesat di hutan Aokigahara.

Adik Sara yakni Jess Price diceritakan sebagai seorang guru Bahasa Inggris yang mengajar di Jepang. Perlu diketahui bahwa dalam film tersebut, Jess Price merupakan saudari kembar identik dari Sara Price, jadi mereka semacam mempunyai ikatan emosional khusus yang hanya dimengerti oleh orang kembar. Mereka berpisah dan tinggal berjauhan karena satu dan lain hal.

Hingga suatu waktu, Sara ditelepon oleh kepolisian Jepang yang menyatakan bahwa Jess Price dinyatakan hilang dan penampakan fisik terakhirnya menunjukan bahwa ia menuju Hutan Aokigahara.
Jika dalam 48 jam, Jess tidak ditemukan, maka pencarian akan dihentikan dan Jess dianggap meninggal. Sara yang panik langsung melakukan perjalanan ke Jepang sa’at itu juga untuk mencari adiknya.

Kenapa Jess pergi ke Aokigahara ?

Jess, diketahui mempunyai kehidupan yang tidak karuan dan sering terkena masalah. Dalam beberapa bagian cerita, Jess menderita depresi dan stress berat. Maka dari itu dia mengasingkan diri ke Jepang untuk mencari suasana baru dan memperbaiki hidupnya.
Apa mau dikata, Jepang belum mampu merubah karakternya dan meredakan stressnya. Alih alih, Jepang menawarkan solusi lain baginya yakni Hutan Aokigahara.

Perlu diketahui bahwa Hutan Aokigahara merupakan hutan yang dikenal sebagai hutan bunuh diri. Banyak orang yang memasuki hutan tersebut dengan niatan untuk tidak kembali (keluar) atau bahasa lainnya “ one way ticket. ”

Hal ini sejalan dengan angka bunuh diri tinggi di Jepang, yang termasuk negara maju. Di tahun 2008 saja, data orang yang melakukan bunuh diri mencapai angka 2.645 kasus. Aokigahara menjadi terkenal karena menjadi tempat bunuh diri yang populer.

Hal ini bisa terjadi karena dua faktor yakni sejarah serta legenda lokal dan pop culture dari suatu karya sastra.
Pada zaman dahulu, hutan tersebut merupakan tempat orang Jepang melakukan “ Ubasute ”. Sa’at makanan langka, keluarga di Jepang akan membawa wanita tua, anggota keluarga yang buta atau sakit ke hutan dan meninggalkan mereka untuk mati.

Selain itu, faktor lainnya terdapat dalam buku yang berjudul “ Tower of Wave’s “, novel yang ditulis oleh Seicho Matsumoto. Cerita ini menampilkan tentang tokoh utama wanita, berparas cantik yang dilanda cinta dan patah hati. Tokoh wanita tersebut pada akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya di hutan Aokigahara.

Lalu, dalam buku “ The Complete Manual of Suicide ” karya Wataru Tsurumi, tertulis bahwa Hutan Aokigahara merupakan tempat yang sempurna untuk mati.

Hutan Aokigahara merupakan bagian dari Gunung Fuji dan memiliki luasan 35 km persegi. Orang Jepang percaya bahwa banyak roh bergentayangan di sana. Hantu dan roh yang bergentayangan di sana dikenal dengan sebutan
“ yurei ”.

Banyak yang berpendapat bahwa Yurei berbeda dengan hantu. Yurei merupakan realita palsu yang digunakan oleh hutan untuk memperdayai orang yang sedang bersedih dan ketakutan. Oleh sebab itu, jika berkunjung ke Gunung Fuji, tepatnya jika di area hutan Aokigahara, maka sangat dianjurkan untuk tidak keluar dari jalur utama.

Nama lain dari Hutan Aokigahara adalai “ Jukai ”. Jukai artinya Samudra Pohon.
Jika kita melihat ke bawah dari Gunung Fuji, hutan tersebut terlihat sangat luas bagaikan lautan. Tanah di bawahnya tidak rata, dipenuhi gua-gua kecil dan akar-akar berlapis lumut di atas lahar kering Gunung Fuji yang pernah mengalir di sana.

Tanah di Aokigahara memiliki kandungan zat besi yang tinggi, sehingga sinyal GPS dan telepon seluler, bahkan kompas tidak bisa digunakan di sana.
Jadi, anda tidak dapat memanggil bantuan jika tersesat disana. Untuk mengakali hal ini, maka beberapa orang menggunakan pita perekat (tape) atau tali untuk menandai jalan.

Terdapat Gua Es di bagian bawah hutan Aokigahara. Gua tersebut tidak pernah terjelajahi sepenuhnya. Banyak orang percaya bahwa goa tersebut merupakan jalan menuju Dunia Kematian.

Terlepas dari kengerian, legenda dan keagungan Gunung Fuji dan Aokigahara. Film The Forest cukup berhasil menceritakan kisah horor dengan latar tempat Hutan Aokigahara. Dalam pengambilan gambar ditunjukan pemandangan yang indah dari Hutan Aokigahara, namun tetap menyimpan kengerian tersendiri.

Di lautan pohon, tersesat bukan pilihan. Film ini mengajarkan agar kita senantiasa menjaga kesehatan emosional kita agar tidak terjerumus ke dalam tindak bunuh diri, sebab hidup anda sangat berharga bagi orang lain.

[ mungkin salah satu penyebab hutan Aokigahara terjaga kelestariannya adalah karena disematkan kisah/cerita horor kepadanya.
Indonesia dikenal istilah ‘ sanget ‘ angker ]

Cimahi, Kamis, 4 Februari 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan