banner 728x90

95 Tahun Menuju Era Ke-Emas-an 100 Tahun

95 Tahun Menuju Era Ke-Emas-an 100 Tahun

Kemarin, 31 Januari 2020 tepat 95 tahun organisasi Islam terbesar di Indonesia berdiri, bahkan terbesar se dunia.
Yakni Nahdlatul ‘Ulama.

Sebagai organisasi Islam terbesar di Indonesia dengan basis keanggotaan sebanyak 90 juta orang di seluruh tanah air. Organisasi yang didirikan oleh Kyai asal Kabupaten Jombang Jawa Timur diantaranya K.H. Hasyim Asy’ari, K.H. Abdul Wahab Chasbullah dan K.H. Bisri Syamsuri ini kini sudah berkembang cukup pesat.

Namun, dibalik 95 tahun berdirinya Nahdlotul ‘Ulama tentu harus kita telisik cerita sejarahnya sebagai ilmu pengetahuan yang tak akan pernah terpisahkan dari sejarah.

Berikut sejarahnya !

Setibanya di Tebuireng santri As’ad ( K.H.R. As’ad Syamsul Arifin Situbondo) menyampaikan tasbih yang dikalungkan oleh dirinya dan mempersilahkan K.H. Muhammad Hasyim Asy’ari untuk mengambilnya sendiri dari leher As’ad.
Bukan bermaksud tidak ingin mengambilkannya untuk Kiai Hasyim Asy’ari, melainkan As’ad tidak ingin menyentuh tasbih sebagai amanah dari K.H. Cholil Bangkalan kepada K.H. Hasyim Asy’ari.

Sebab itu, tasbih tidak tersentuh sedikit pun oleh tangan As’ad selama berjalan kaki dari Bangkalan ke Tebuireng.
Setelah tasbih diambil, Kiai Hasyim Asy’Ari bertanya kepada As’ad :
” Apakah ada pesan lain lagi dari Bangkalan ? ”

Kontan As’ad hanya menjawab :
” Ya Jabbar, Ya Qahhar, ” du’a Asmaul Husna tersebut diulang oleh As’ad hingga tiga kali sesuai pesan Sang Guru.

Setelah mendengar lantunan itu, Kiai Hasyim Asy’ari kemudian berkata :
” Allooh SWT telah memperbolehkan kita untuk mendirikan jam’iyyah. “

Riwayat tersebut merupakan salah satu tanda atau petunjuk diantara sejumlah petunjuk berdirinya Nahdlotul ‘Ulama (NU).
Akhir tahun 1925 santri As’ad kembali diutus Mbah Cholil untuk mengantarkan seuntai tasbih lengkap dengan bacaan Asmaul Husna ( Ya Jabbar, Ya Qahhar. Berarti menyebut nama Tuhan Yang Maha Perkasa) ke tempat yang sama dan ditujukan kepada orang sama yaitu Mbah Hasyim.

Petunjuk sebelumnya, pada akhir tahun 1924 santri As’ad diminta oleh Mbah Cholil untuk mengantarkan sebuah tongkat ke Tebuireng. Penyampaian tongkat tersebut disertai seperangkat ayat Al-Qur’an Surat Thoha ayat 17 – 23 yang menceritakan Mukjizat Nabi Musa AS.

Awalnya, K.H. Abdul Wahab Chasbullah ( 1888-1971 ) sekitar tahun 1924 menggagas pendirian Jam’iyyah yang langsung disampaikan kepada Kiai Hasyim Asy’ari untuk meminta persetujuan. Namun, Kiai Hasyim tidak lantas menyetujui terlebih dahulu sebelum ia melakukan sholat Istikhoroh untuk meminta petunjuk kepada Allooh SWT.

Sikap bijaksana dan kehati-hatian Kiai Hasyim dalam menyambut permintaan Kiai Wahab juga dilandasi oleh berbagai hal, diantaranya posisi Kiai Hasyim sa’at itu lebih dikenal sebagai Bapak Umat Islam Indonesia ( Jawa ).
Kiai Hasyim juga menjadi tempat meminta nasihat bagi para tokoh pergerakan nasional. Peran kebangsaan yang luas dari Kiai Hasyim Asy’ari itu membuat ide untuk mendirikan sebuah organisasi harus dikaji secara mendalam.

Hasil dari Istikhoroh Kiai Hasyim Asy’ari dikisahkan oleh K.H. As’ad Syamsul Arifin. Kiai As’ad mengungkapkan bahwa hasil petunjuk dari Istikharah Kiai Hasyim Asy’ari justru tidak jatuh di tangannya untuk mengambil keputusan, melainkan diterima oleh K.H. Cholil Bangkalan, yang juga guru Mbah Hasyim dan Mbah Wahab.

Dari petunjuk tersebut, Kiai As’ad yang ketika itu menjadi santri Mbah Cholil berperan sebagai mediator antara Mbah Cholil dan Mbah Hasyim. Ada dua petunjuk yang harus dilaksanakan oleh Kiai As’ad sebagai penghubung atau washilah untuk menyampaikan amanah Mbah Cholil kepada Mbah Hasyim.

Dari proses lahir dan batin yang cukup panjang tersebut menggambarkan bahwa lika-liku lahirnya N.U. tidak banyak bertumpu pada perangkat formal sebagaimana lazimnya pembentukan ( sebuah ) organisasi. N.U. lahir berdasarkan petunjuk Allooh SWT.
Terlihat di sini, fungsi ide dan gagasan tidak terlihat mendominasi. Faktor penentu adalah konfirmasi kepada Allooh SWT melalui ikhtiar lahir dan batin.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa berdirinya NU merupakan rangkaian panjang dari sejumlah perjuangan. Karena berdirinya N.U. merupakan respons dari berbagai problem keagamaan, peneguhan mazhab, serta alasan-alasan kebangsaan dan sosial-masyarakat.

Digawangi oleh K.H. Wahab Chasbullah, sebelumnya para Kiai pesantren telah mendirikan organisasi pergerakan Nahdlotul Wathon atau Kebangkitan Tanah Air pada 1916 serta Nahdlotut Tujjar atau Kebangkitan Saudagar pada 1918.

Embrio lahirnya NU juga berangkat dari sejarah pembentukan Komite Hijaz. Problem keagamaan global yang dihadapi para ‘Ulama pesantren ialah ketika Dinasti Sa’ud di Arab Saudi ingin membongkar makam Nabi Muhammad SAW karena menjadi tujuan ziarah seluruh Muslim di dunia yang dianggap bid’ah.
Selain itu, Raja Sa’ud juga ingin menerapkan kebijakan untuk menolak praktik bermadzhab di wilayah kekuasaannya. Karena ia hanya ingin menerapkan Wahabi sebagai madzhab resmi kerajaan.
Rencana kebijakan tersebut lantas dibawa ke Muktamar Dunia Islam ( Muktamar ‘Alam Islami ) di Makkah.

Bagi ‘Ulama pesantren, sentimen anti-madzhab yang cenderung puritan dengan berupaya memberangus tradisi dan budaya yang berkembang di dunia Islam menjadi ancaman bagi kemajuan peradaban Islam itu sendiri.
Choirul Anam ( 2010 ) mencatat bahwa K.H. Abdul Wahab Chasbullah bertindak cepat ketika Umat Islam yang tergabung dalam Centraal Comite Al-Islam ( CCI ) — dibentuk tahun 1921 — yang kemudian bertransformasi menjadi Centraal Comite Chilafat ( CCC ) — dibentuk tahun 1925 — akan mengirimkan delegasi ke Muktamar Dunia Islam di Makkah tahun 1926.

Sebelumnya, CCC menyelenggarakan Kongres Al-Islam keempat pada 21 – 27 Agustus 1925 di Yogyakarta. Dalam forum ini, Kiai Wahab secara cepat menyampaikan pendapatnya menanggapi akan diselenggarakannya Muktamar Dunia Islam.
Usul Kiai Wahab antara lain : “ Delegasi CCC yang akan dikirim ke Muktamar Islam di Makkah harus mendesak Raja Ibnu Sa’ud untuk melindungi kebebasan bermazhab.
Sistem bermazhab yang selama ini berjalan di tanah Hijaz harus tetap dipertahankan dan diberikan kebebasan ”.

Kiai Wahab beberapa kali melakukan pendekatan kepada para tokoh CCC yaitu W. Wondoamiseno, K.H. Mas Mansur dan H.O.S. Tjokroamonoto juga Ahmad Soorkatti.
Namun, diplomasi Kiai Wahab terkait Risalah yang berusaha disampaikannya kepada Raja Ibnu Sa’ud selalu berakhir dengan kekecewaan karena sikap tidak kooperatif dari para kelompok modernis tersebut.

[ ssmpai sa’at ini pun sikap-sikap orang modernis sama persis ]

Hal ini membuat Kiai Wahab akhirnya melakukan langkah strategis dengan membentuk panitia tersendiri yang kemudian dikenal dengan Komite Hijaz pada Januari 1926. Pembentukan Komite Hijaz yang akan dikirim ke Muktamar Dunia Islam ini telah mendapat restu K.H. Hasyim Asy’ari.
Perhitungan sudah matang dan izin dari K.H. Hasyim Asy’ari pun telah dikantongi. Maka pada 31 Januari 1926, Komite Hijaz mengundang ‘Ulama terkemuka untuk mengadakan pembicaraan mengenai utusan yang akan dikirim ke Muktamar di Mekkah.

Para ‘Ulama dipimpin K.H. Hasyim Asy’ari datang ke Kertopaten, Surabaya dan sepakat menunjuk K.H. Raden Asnawi Kudus sebagai delegasi Komite Hijaz.
Namun setelah K.H. Raden Asnawi terpilih, timbul pertanyaan siapa atau institusi apa yang berhak mengirim Kiai Asnawi ?

Maka lahirlah Jam’iyah Nahdlotul ‘Ulama ( nama ini atas usul K.H. Mas Alwi bin Abdul Aziz ) pada 16 Rajab 1344 H yang bertepatan dengan 31 Januari 1926 M.
Riwayat-riwayat tersebut berkelindan satu sama lain yaitu ikhtiar lahir dan batin. Peristiwa sejarah itu juga membuktikan bahwa N.U. lahir tidak hanya untuk merespons kondisi rakyat yang sedang terjajah, problem keagamaan dan problem sosial di tanah air, tetapi juga menegakkan warisan-warisan kebudayaan dan peradaban Islam yang telah diperjuangkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabatnya.

Tepat pada 31 Januari 2020, Nahdlotul ‘Ulama berusia 94 tahun dalam hitungan tahun Masehi. Sedangkan pada 16 Rajab 1441 mendatang, N.U. menginjak umur 97 tahun. Selama hampir satu abad tersebut, N.U. sejak awal kelahirannya hingga sa’at ini telah berhasil memberikan sumbangsih terhadap kehidupan beragama yang ramah di tengah kemajemukan bangsa Indonesia.
Setiap tahun, Harlah N.U. diperingati dua kali, 31 Januari dan 16 Rajab.

Bandung, Selasa, 2 Februari 2021

Manda CJI

Sumber: https://www.nu.or.id/post/read/116035/sejarah-singkat-berdirinya-nahdlatul-ulama

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan