banner 728x90

Ternyata Ormas/OKP/Komunitas Berbadan Hukum di Jawa Barat 1000 Lebih : Semuanya Dapat Jatah Kelola Lahan/Aset Pemprov 1 Hektar

Ternyata Ormas/OKP/Komunitas Berbadan Hukum di Jawa Barat 1000 Lebih : Semuanya Dapat Jatah Kelola Lahan/Aset Pemprov 1 Hektar

Hal ini menjawab pertanyaan saya selama ini apakah kita bisa kelola lahan mangkrak dan tak terurus milik (aset) Pemprov Jawa Barat ?

Kepastian ini saya dapatkan dari salah satu sesepuh Jawa Barat Kang ‘ Wa ‘ Deden dalam obrolan nyantai.
Artinya setiap ormas/okp/komunitas yang telah memiliki badan hukum resmi (Kemenkumham) dan terdaftar di Kesbangpol Jawa Barat berjumlah lebih dari 1000.
Setiap ormas/okp/komunitas mendapat jatah pengelolaan lahan seluas 1 hektar.

Namun, pertanyaan berikutnya adalah
apakah lahan tersebut digarap oleh mereka ?

Tentu saja tidak, infonya sejak pemerintah kasih sampai hari ini, ternyata lahan tersebut tidak pernah digarap.

[ saya mikir dan bicara sendiri :
padahal kami sudah dapat 10.000 pohon dari KLHK, tapi kita sungguh sangat kesulitan mendapatkan lahan milik pemerintah.
Perjuangan kami sudah mengirimkan surat permohonan resmi pada Gubernur Aher ]

Ada masalah besar yang sedang menimpa bangsa Indonesia khususnya generasi muda yang katanya penerus estafet keberlangsungan negara Indonesia.
Bangsa Indonesia sudah kehilangan jati diri sebagai bangsa agraris dan maritim.
Mulai dari Presiden sampai sebagian besar bangsa Indonesia.

Benar dan sepakat dengan pendapat beberapa orang yang mengatakan bahwa
” Bicara petani dan dunia pertanian adalah sama dengan kemiskinan, kotor dan menderita/penderitaan. “

Apa penyebabnya ?
Sejak kapan ?

Era kebesaran dan kemulyaan bangsa Nusantara terjadi ketika seluruh penduduknya berprofesi sebagai petani ‘ agraris ‘ dan nelayan ‘ maritim ‘.
Dari sini timbul istilah bangsa Nusantara sebagai ” Bangsa Agraris dan Mariyim “.
Eksesnya adalah mengundang datangnya bangsa Eropa yang sedang terpuruk dan mengalami masa (era/zaman) kegelapan.
Mereka datang, observasi, uji coba, kerjasama dan menjajah.

Sementara lahan-lahan dikuasai oleh para raja, ratu dan bangsawan.
Mereka memberikan lahan sebagai hadiah, lahan garapan dan kerjasama kepada bangsa Eropa, sebagian dijual kepada VOC Belanda.
Akhirnya bangsa Eropa berhasil menguasai dan menjajah wilayah Nusantara.

Sejak itu kedaulatan, kemandirian dan kemerdekaan para petani dan nelayan (mayoritas mata pencaharian/profesi) hilang lenyap dan hanya berperan sebagai buruh dan jongos belaka.

Indonesia merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 telah mengubah segalanya.
Mental terjajah bangsa Indonesia mulai ternodai (bergeser).
Soekarno sebagai Presiden Pertama Republik Indonesia menjadikan sosok seorang petani mandiri asal Kabupaten Bandung Jawa Barat bernama ” Mang Aen ” atau ” Kang Aen ” atau ” Marhaen ” sebagai inspirator dan simbol kemandirian dan kedaulatan bangsa.

Mang Aen pemilik lahan/sawah, menggarap lahan sendiri dan merawat juga sendiri.
Begitu pula memanen padi sendiri.
Benar-benar Mang Aen adalah sosok yang punya kedaulatan, kemandirian dan kemerdekaan sejati.

Dalam perkembangannya peristiwa ini sebagai benih dan embrio lahirnya sebuah ideologi hasil karya monumental Soekarno bernama ” Marhaenisme “.
Sayang setelah Soekarno tiada, ideologi ‘ Marhaenisme ‘ bergeser jadi hanya sebuah gerakan.
Sudah tidak lagi jadi acuan utama supaya bangsa Indonesia ‘ wajib ‘ dan harus jadi bangsa petani ” agraris ” dan bangsa nelayan ” maritim “.

Apalagi sejak Soeharto mengambil alih kekuasaan dan menjadi Presiden Republik Indonesia, nasib dan kehidupan petani dan nelayan semakin terpuruk dan dimarjinalkan.
Sejak era Soeharto sebutan dan predikat sangat negatif (dibenci ?) melekat erat bahwa petani adalah profesi hina, kotor, rendah, menderita dan miskin.
Begitu pula sama menimpa para nelayan.

Sekolah dan perguruan tinggi (kuliah) sejak Soeharto berkuasa secara sistematis dirancang dan dipersiapkan untuk mencetak lulusan pelajar dan sarjana demi dan untuk memenuhi kebutuhan industri jasa dan finansial sebagai buruh dan karyawan (pabrik dan bank).
Selama 30 tahun lebih Soeharto telah berhasil me-revolusi dan me-evolusi mental sebagian besar bangsa Indonesia dari
mental (bangsa) agraris dan maritim menjadi mental buruh dan karyawan.

Apa akibatnya ?

Jelas,
lahan pertanian, perkebunan dan peternakan sengaja mereka tinggalkan.
Jual atau tinggalkan.

Sampai hari ini siapapun yang lulus dari sekolah dan lulus jadi sarjana, maka mereka langsung melamar jadi buruh dan karyawan instansi pemerintah
[ jadi PNS/ASN, TNI dan Polri ]
dan swasta
[ pabrik/industri, perusahaan jasa dan bank/financial/keuangan ]

Intinya adalah
Sektor ril berbasis agraris/pertanian dan maritim/kelautan diganti sektor non-ril berbasis jasa dan financial/keuangan.

Apakah pandemi Covid-19 bisa mengubah nasib bangsa Indonesia ?

Bisa,
seluruh warga negara Indonesia bahkan se dunia sejak tahun 2020 (Maret) harus dan wajib beraktifitas hanya dan cukup di rumah.
Semua sadar bahwa yang paling manusia butuhkan sa’at pandemi Covid-19 mewabah adalah kecukupan pangan.
Bahan makanan pokok yang harus dan wajib ada, supaya bisa bertahan dan melangsungkan hidup.

Sangat butuh energi besar dan kuat serta usaha yang super keras dan berat supaya bangsa Indonesia kembali ke jati diri sebagai bangsa agraris dan maritim.

Kapan, dari mana dan oleh siapa yang harus memulai ?

Hari ini bukan hanya Presiden Jokowi yang telah mencanangkan program Ketahanan Pangan, tapi seluruh menteri, gubernur, bupati dan walikota se Indonesia wajib serius mendukung percepatan terwujudnya.

Sejak kelas 1 Sekolah Dasar ( SD ) wajib hukumnya seluruh sekolah mengajarkan tentang ketahanan pangan dan mendorong supaya mereka jadi petani dan nelayan yang mandiri, berdaulat dan merdeka.
Jadikan mereka petarung, pejuang dan ‘entrepreneur’ pengusaha berbasis agraris dan maritim.

Pemerintah wajib menyediakan lahan garapan, membiayai hidup para petani dan nelayan pemula (generasi muda) sampai benar-benar mandiri.
Masyarakat mengubah ‘ mind-set ‘ pola pikir dari pemburu sektor jasa dan keuangan/financial jadi pejuang-petarung sektor agraris dan maritim.

Semoga Allooh melancarkan semuanya, aamiiin.

Bandung, Kamis, 28 Januari 2021

Zaki CJI

RebutKedaulatanKemandirianPangan

RebutKedaulatanKemandirianMaritim

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan