banner 728x90

Botak : Apakah Tanda Seseorang Pintar atau Rontok ?

Botak : Apakah Tanda Seseorang Pintar atau Rontok ?

Coba perhatikan, Deddy Corbuzier, Teten Masduki, Jeff Bezos dan Michael Jordan.
Mereka semua mempunyai suatu kesamaan yang mencolok, sama seperti banyak tokoh sejarah dan tokoh fiksi.
Yap, mereka botak. Beberapa merupakan botak pilihan mereka sendiri.

Selama berabad-abad, kepala manusia (yang botak), terutama pada bagian jidat atau orang sunda menyebutnya sebagai
“ tarang ” merupakan sesuatu yang menyimbolkan intelegensi. Meski begitu, tetap saja banyak orang botak yang menginginkan rambutnya kembali (tumbuh).

Ilmuan telah lama bertanya tanya,
“ Mengapa beberapa orang kehilangan rambutnya, serta bagaimana caranya untuk mengembalikannya ? ”

Orang-orang yang tidak botak memiliki 100.000 – 150.000 helai rambut di kepalanya. Sejauh ini, ilmuan telah mengetahui dua informasi penting tentang rambut manusia.

Pertama, rambut yang kita lihat pada kepala (baik milik sendiri maupun milik orang lain) sebagian besar terdiri dari keratin.
Keratin merupakan sisa protein dari sel-sel mati (di atas permukaan kulit kepala) yang didorong ke atas, sementara sel-sel baru tumbuh di bawahnya.

Kedua, yaitu tentang struktur yang memungkinkan pertumbuhan rambut, sesuatu yang disebut “ folikel rambut ”.
Folikel rambut merupakan jaringan organ kompleks yang terbentuk sebelum kita lahir dan berperan dalam menumbuhkan rambut dalam siklus yang tidak terbatas.

Siklus ini mempunyai 3 fase utama.

Fase pertama adalah
“ anagen ”, fase pertumbuhan.
Anagen adalah fase pertumbuhan kantung rambut yang mendorong protein membentuk akar rambut, seiring aliran darah memberi ” nutrisi ” untuk terus tumbuh. Banyak sel rambut akan diproduksi di fase ini, sehingga rambut akan terus tumbuh dengan laju pertumbuhan 1 cm per bulan.

Fase anagen dapat berlangsung selama 2 hingga 7 tahun, tergantung pada gen. Setelah masa produktif ini, sinyal-sinyal dalam kulit menginstruksikan beberapa folikel rambut untuk masuk ke fase baru yang dikenal dengan “ katagen ” atau fase regresi.

” Katagen ” dapat menyebabkan folikel rambut menyusut jauh dari panjangnya semula. Katagen berlangsung selama 2 hingga 3 minggu dan memotong aliran darah ke folikel rambut sehingga membentuk rambut gada yang artinya rambut siap untuk dirontokan.

Pada akhirnya, rambut memasuki fase ” telogen ” yakni fase istirahat.
Fase ini berlangsung selama 10 hingga 12 minggu dan mempengaruhi sekitar
5 – 15 % folikel rambut pada kulit kepala kita. Selama fase telogen, maksimal hingga 200 helai rambut dapat rontok dalam sehari dan hal ini normal.

Kemudian, siklus pertumbuhan rambut dimulai lagi, ditandai dengan masuk ke fase anagen.
Perlu diketahui bahwa tidak semua bagian pada kulit kepala dapat ditumbuhi rambut dan faktanya beberapa orang cepat sekali (kepalanya) mengalami kebotakan sebagai reaksi perubahan di dalam tubuh.

95 % kebotakan pada laki-laki disebabkan oleh
“ pola kebotakan laki laki ”. Lebih jauh, kebotakan ternyata diwariskan dan dapat diwariskan kembali.

[ turun temurun ]

Pada orang-orang yang terlahir dengan kondisi seperti ini, folikel rambut mereka menjadi sangat sensitif pada efek dehidrotestosteron (DHT) yaitu suatu produk sampingan dari hormon testosteron.
DHT menyebabkan penyusutan folikel, dimana menjadikan rambut lebih pendek dan tipis.

Meski begitu, kerontokan tidak begitu saja terjadi. Kerontokan terjadi secara berangsur-angsur dan terjadi dalam suatu skala tertentu yang disebut Skala Norwood.
Skala ini menjabarkan tingkat keparahan kerontokan pada rambut.

Pertama, rambut di sekitar pelipis menipis, lalu rambut di kepala bagian atas mulai berkurang dengan pola melingkar.
Pada tingkat tertinggi skala ini, kedua area botak ini bertemu dan meluas secara drastis.
Pada akhirnya, proses ini hanya menyisakan sedikit rambut di bagian pelipis dan bagian belakang kepala.

Ternyata, bukan hanya faktor genetika saja yang menyebabkan kerontokan pada rambut manusia. Stress dalam jangka waktu yang lama akan melepaskan sinyal yang mengancam folikel rambut dan memaksa folikel untuk memasuki fase katagen atau fase istirahat lebih cepat. Beberapa wanita mengalami hal ini setelah melahirkan.

Folikel rambut juga dapat kehilangan kemampuannya untuk memasuki fase anagen, misalnya seperti yang terjadi pada orang orang yang mengalami perawatan kemoterapi. Mereka mengalami hal ini untuk sementara waktu.

Yapp, walaupun kebotakan nampaknya merupakan hal yang permanen, penelitian menunjukan hal yang sebaliknya.
Di bawah permukaan kulit, akar rambut di kepala yang mengalami kebotakan, yang bertugas untuk menegakan rambut kita sebenarnya tetap hidup.

Menggunakan pengetahuan ini, ilmuan mengembangkan berbagai macam obat-obatan untuk memperpendek fase istirahat folikel rambut dan memaksa folikel untuk memasuki fase anagen.

Obat-obatan lainnya melawan “ pola kebotakan laki-laki ” dengan menghentikan konversi testosteron ke DHT, sehingga hormon ini tidak mempengaruhi folikel rambut yang sensitif.
Sel Punca/Stem Cells juga memainkan peranan penting dalam mengatur daur pertumbuhan rambut, maka para ilmuan mencari cara untuk memanipulasi/merekayasa aktivitas sel ini untuk memicu folikel agar memproduksi rambut lagi.

Dan untuk sementara ini, selagi ilmuan menyempurnakan metode untuk menumbuhkan kembali rambut, orang-orang yang mengalami kebotakan atau resah karenanya dapat mengingat bahwa mereka memiliki banyak teman senasib.

[ Selama 10 bulan mulai Maret – Desember 2020 bangsa Indonesia sudah mengalami ‘ stres berat ‘, bagaimba nasib rambut bangsa Indonesia ? ]

Cimahi, Rabu, 20 Januari 2021

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan