banner 728x90

Awas Aya Jurig ! [ Kala Dahulu ] Awas Aya Corona ! [ Kala Kini ]

Awas Aya Jurig ! [ Kala Dahulu ] Awas Aya Corona ! [ Kala Kini ]

” Awas aya jurig ! ”

Adalah idiom yang sudah sangat biasa masyarakat dahulu katakan
[ masyarakat era kolonial ]
yang berfungsi untuk membuat anak jadi takut dan berhenti melakukan aksi dan giat seperti
berhenti bermain dan berhenti menangis.

Tujuan akhirnya adalah anak tersebut berhenti melakukan aktivitas dan ujung-ujungnya tidur.

Tidur dalam makna sederhana adalah sebuah perbuatan yang tubuh perlukan untuk me-recovery seluruh anggota tubuh.

Namun dalam makna majazi atau makna yang lebih dalam lagi adalah sebuah kondisi psikologis yang menggambarkan bahwa seluruh proses fisik dan psikologis/kejiwaan terhenti dan berhenti.

Pengaruh jangka panjang ketika seorang anak terbiasa selama hidupnya berada dalam kondisi ditakut-takuti dan takut (sejak balita), maka sudah dapat dipastikan menjelang remaja dan dewasa anak itu menjadi seorang penakut.

Jiwa seorang penakut menjadikan sosok manusia yang lemah fisik, otot dan otak.
Jadilah generasi muda yang lemah badannya dan lemah tekadnya.

Ini yang telah terjadi pada umumnya bangsa Indonesia selama puluhan tahun.

Secara alamiah dia menjadi sosok yang takut akan suasana gelap.
Alam gelap, persaingan gelap dan masa depan gelap.

Apalagi secara politis Soeharto lewat kekuasaannya selama 30 tahun lebih telah berhasil membuat sebagian besar penduduk Indonesia menjelma jadi manusia lemah dan penakut.
Lemah dan penakut adalah modal dasar sebuah bangsa jadi miskin dan terpuruk.

Hanya sebagian kecil saja dari masyarakat/penduduk Indonesia yang memiliki keberanian lebih itu pun lebih dominan bagi orang yang siap dan mau ikut manut jadi balatentara Soeharto.
Mereka bernama :
Pegawai Negeri Sipil atau birokrasi
Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) atau TNI dan Polri
Golongan Karya atau partai politik bentukan Soeharto.

Akibatnya sejak tahun 1970 sampai hari ini awal tahun 2021 bangsa Indonesia sangat sulit sekali untuk hanya memperbaiki :
diri sendiri
Tanah, Air dan Udara Angkasa Raya wilayah Indonesia.

Apalagi untuk memberdayakan dan mengambil alih kekuasaan kembali atas penguasaan swasta dan fihak asing yang telah begitu kuat dan mengakar sejak Soeharto berkuasa.
Siapapun presiden dan penguasa pasca Soeharto hanyalah berkutat pada agenda mayar hutang yang tidak pernah bisa lunas.
Sibuk ikut dan menentukan arah kebijakan apakah harus dan pro Amerika Serikat atau Eropa atau China dan seterusnya.

Bagaimana nasib masyarakat dan bangsa Indonesia ?

Ya, tidak ada perubahan yang signifikan dan malah sejak tahun 2020, alhamdulillaah
dari konsumen dan pelaku budaya ” Awas aya jurig ! ”
meningkat jadi konsumen dan pelaku budaya baru yaitu ” Awas aya Corona ! “

Lebih bahaya mana antara
” Awas aya Jurig ! ”
dengan
” Awas aya Corona ! ” ?

Bandung, Sabtu, 16 Januari 2021

Zaki CJI
” Mun Teu Edan ‘ curek ‘ Moal Edun ! “

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan