banner 728x90

Ibu adalah Segalanya Bagiku

Ibu adalah Segalanya Bagiku

Nama ibu-ku Nur Cholifah. Beliau lahir dari rahim seorang ibu bernama Kasiati. Beliau kelahiran Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur 55 tahun silam.

Ibu saya pernah bercerita kepada saya bahwa dulunya dia sering main ke sungai yang ada di dekat rumah nenek di Kecamatan Waru. Waktu itu Si Sungai masih bersih dan belum terlalu kotor. Dulu katanya, sering berenang di situ.

Tapi, sebenarnya nenek melarangnya. Entah karena alasan apa, mungkin saja karena perempuan. Sampai-sampai katanya pernah kalo ketahuan nenek, maka pulang-pulang dihukum dengan ikat pinggang yang digunakan untuk ” memukul “.
Ya begitulah keseruan yang pernah beliau lakukan yakni dengan berenang di Sungai dekat rumah nenek.

Ibu saya juga pernah bercerita bahwa dulunya yang namanya uang saku hanya diberikan tidak lebih dari Rp 1.000,- itu pun kalo kakek punya rezeki lebih ya diberi uang saku tambahan.
Beliau kalo berangkat sekolah sering pulang dan pergi naik angkot jika ada rezeki lebih atau nebeng temannya.
Hanya untuk bersekolah saja, beliau harus berjuang.

Tidak sampai di situ, pada sa’at melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi katanya sebisa mungkin ibu tidak membebani nenek dan kakek saya untuk membiayainya. Bahkan sampai beliau mengajar di salah satu Sekolah Dasar yang ada di Kabupaten Jombang Jawa Timur.

Beliau tetap semangat mencari rezeki demi rezeki untuk kuliah yang pada akhirnya perjuangan itu enggak sia-sia.
Alhamdulillaah,
Beliau berhasil mendapatkan gelar S1-nya dengan title Sarjana Pendidikan, S.Pd.
di Universitas Terbuka.

Katanya, dulu Ibu saya itu masih gaji honorer. Di sa’at sedang ada informasi CPNS dengan perjuangan yang benar-benar berat agar bisa jadi PNS supaya mendapatkan gaji lebih layak untuk menghidupi saya dan kakak saya.

Katanya juga, untuk verifikasi berkas saja itu mendekati hari raya. Besoknya lebaran Idul Fithri, sedang malamnya masih harus berjibaku untuk menjadi CPNS dan bisa menjadi PNS.
Saya tahu bagaimana Ibu berjuang keras pengen kedua anaknya minimal sampai kuliah S1.

Beliau bahkan pernah mengalami insiden yang membuatnya sedikit trauma dan harus libur beberapa hari untuk mencari rezeki. Insiden itu juga yang membuat ayah saya nampaknya hingga sekarang sedikit trauma.

Di saat Ibu sudah menjadi PNS, beliau harus berjuang lagi. Karena beliau paham bahwa gajinya belum cukup buat ke depannya. Sehingga perlu mengikuti kenaikan tingkat untuk dapat gaji lebih besar.

Kenaikan tingkat prosesnya pun membutuhkan perjuangan yang lebih. Kadang setiap hari tidurnya tengah malam karena untuk memprsiapkan berkas yang harus diverifikasi.Tapi itulah Ibu yang saya kenal sebagai Ibu pejuang.

Jujur, saya sendiri juga kadang suka membangkang. Tapi, saya sangat menyayangi kedua orang tua, terutama Ibu.

Bagi saya Ibu adalah sosok yang senantiasa berjuang. Berusaha sekuat tenaga hingga usianya yang sudah di kepala 5 pun masih rela berjuang demi anaknya agar bisa kuliah dan mendapatkan gelar S1 di kampus saya sa’at ini.

Waktu kecil pun, beliau bekerja dan saya dititipkan ke saudara. Bukan berarti tidak sayang, tapi itulah bentuk penjagaan Ibu terhadap saya sa’at beliau sedang bekerja atau juga sa’at ayah sedang bekerja.

Begitulah kira-kira Ibu saya. Dalam setiap do’a ku, semoga engkau diberikan kesehatan dan rezeki yang berlimpah.

Aamiiin.

Terima kasih ibu, telah melahirkanku di bumi ini.

Bandung, Kamis, 24 Desember 2020

Manda CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan