banner 728x90

The Time Tunnel : Lorong Waktu Nasib !

The Time Tunnel : Lorong Waktu Nasib !

Nasib Tahun 1968

Pada sa’at saya lahir ke alam dunia, maka sebagai pemegang otoritas kekuasaan baik ayah biologis (bapak kandung) maupun ayah ideologis (bapak negara alias presiden) seharusnya melakukan jejak langkah para leluhur, khususnya sesepuh Sunda.
Yaitu memberikan bekal ‘ investasi ‘ jangka panjang dan permanen berupa satu batang pohon plus seekor ayam.

Sehingga pada tahun 2020 ini walaupun kesulitan ekonomi melanda sejak tahun 1997/1998 yang sampai sekarang bangsa dan negara Indonesia belum bisa dan mampu berdiri kembali.
Sekalipun berdiri langsung ambruk lagi, entah sampai kapan hal ini berakhir.

Begitupun dengan pandemi Covid-19 melanda dunia, maka bangsa Indonesia semakin terpuruk saja.
Ibarat pepatah lama berbunyi,
” sudah jatuh tertimpa tangga “
sempurnalah penderitaan dan keterpurukan menimpa seluruh anak bangsa dan warga negara.

Nasib Tahun 2020

Periode tahun 1968 – 2020 ternyata telah menghabiskan masa dan waktu selama 52 tahun, dimana sebuah perjalanan melalui lorong waktu yang cukup lumayan lama.

Katakan dan lakukan,
Ayah biologis/kandung dan atau Ayah ideologis/negara/presiden telah melakukan jejak langkah leluhur,
memberikan dan menanam satu pohon Jati.
Setelah melewati masa 52 tahun, maka saya pada tahun 2020 telah memiliki satu Pohon Jati berdiameter (mininal) 52 centimeter.
Estimasi perbesaran kayu adalah 1 centimeter selama satu tahun, maka
52 tahun X 1 centimeter sama dengan 52 centimeter, ya setara dengan 1/2 atau 0,5 meter.

Berapa harga satu Pohon Jati berusia 52 tahun dengan diameter 52 centimeter ?

Pohon Jati adalah pohon eksotis, endemik dan pohon dilindungi,
sehingga sungguh mempunyai nilai (value) yang sangat tinggi dan tidak ternilai.

Katakan harga satu Pohon Jati itu berkisar Rp 52.000.000 atau Rp 100.000.000.
Artinya saya sudah punya harta warisan ‘ investasi pohon ‘ seharga Rp 52 juta sampai Rp 100 juta.

Saya termasuk orang kategori miskin karena punya penghasilan dan pendapatan rendah (sering tidak jelas malah).
Pasti saya memiliki teman senasib dan sepenanggungan sebagai orang tidak mampu/miskin.
Terlebih di era pandemi Covid-19.
Bisa punya teman sampai satu juta orang, katakan.

Peluang apa dan bagaimana cara mengolah potensi investasi harta warisan tersebut ?

Mari kita takar antara potensi yang ada dengan peluang yang tersedia :
1.000.000 orang miskin/papa/tidak mampu X Rp 52.000.000 per orang, maka
hasilnya adalah sebesar
Rp 52.000.000.000.000
= Rp 52.000 miliar
= Rp 52 triliun

Dana sebesar Rp 52 triliun tentu bukan sedikit dan bisa dipake untuk membuat pabrik besar yang bisa dan cukup mensejahterakan satu (1) juta orang miskin/papa/tidak mampu menuju perubahan nasib yang gilang cemerlang dan gemilang.

Pemerintah menyiapkan infra struktur dan tenaga ahli multi serta lintas kementerian, instansi dan akademisi untuk membuat sebuah pabrikasi pengolahan bahan pangan.

Rp 52 triliun sangat cukup sekali untuk mendanai dan membuayai pabrik tersebut dari mulai dibangun sampai bisa berproduksi permanen.

Para ilmuwan dan sarjana multi disiplin ilmu dari perguruan tinggi bisa langsung direkrut dan bekerja di pabrik pengolahan berbasis pangan tersebut.

Bagaimana dengan nasib satu juta orang miskin ?

Cukup sebagai pemilik saham dan bisa lanjutkan kegiatan rutinitas sebagai orang miskin/papa/tidak mampu, tapi punya jaminan nasib atau dana penghasilan murni dari keuntungan pabrik komunal milik mereka.

Bukan jaminan sosial, bantuan langsung tunai maupun hibah pemberian dari pemerintah pusat, provinsi dan kota.kabupaten.

So, pasti lebih terhormat dan punya kedaulatan ekonomi sehingga babgsa Indonesia memiliki jati diri kuat dan merdeka serta berdaulat penuh.

Belum lagi dari hasil investasi berbasis ketahanan pangan dari sisi hewan ternak penghasil daging dan telur ayam.

Apa yang bisa dibeli selain buat pabrikasi pengolahan bahan pangan ?

Tentu saja mereka sangat butuh punya lahan/sawah wakaf untuk keberlangsungan ketahanan panga.
Anggap harga sawah/lahan Rp 1.000.000.000 (1 miliar) per satu hektar.

Rp 10 triliun dana untuk beli sawah/lahan wajaf :
Rp 20.000.000.000.000 dibagi Rp 1.000.000.000 per hektar, jadi
punya 20.000 hektar sawah/lahan/ladang wakaf.

20.000 hektar sawah/lahan/tanah wakaf dengan pengelolaan berbasis sains dan teknologi, tentunya bisa hasilkan panen padi sebesar 20 ton per hektar, bahkan bisa sampai 30 ton atau 50 ton per hektar.

So,
20 ton X 20.000 hektar
= 400.000 ton per tahun

[ 30 ton X 20.000 hektar
= 600.000 ton per tahun

50 ton X 20.000 hektar
= 1.000.000 ton per tahun

Jadi setiap orang miskin/papa/tidak mampu dapat
1 ton per tahun, maka kedaulatan, kemandirian dan ketahanan pangan tuntas ]

Artinya 1 juta orang miskin/papa/tidak punya bisa punya jaminan padi seberat 0,4 ton per orang per tahun.
400 kilogram per orang per tahun.

Setiap bulan setiap orang dapat lebih dari 33 kilogram dengan padi yang bermutu terbaik dan berkualitas ‘ the best ‘.
Beras kaya kalori dan nutrisi.

Ekses ekonomi dan sosial dari 20.000 hektar sawah/lahan/ladang wakaf tentunya sangat bermanfa’at dan multi efek guna :
Minimal bisa mempekerjakan 20.000 petani dan 200.000 sarjana multi disiplin ilmu.
Setiap satu hektar sawah/ladang/lahan wakaf ada 1 petani dan 10 sarjana multi disiplin ilmu.

Insyaa Allooh petaninya kaya dan makmur serta para sarjana disamping sejahtera juga ilmu pangaweruh-na terpakai tuntas.

Insyaa Allooh cepat terwujud, aamiiin

Bandung, Jum’at, 18 Desember 2020

Muhammad Zaki Mubarrok
Citizen Journalism Interdependen

CJI#Tahun2021MakmurSejahtera

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan