banner 728x90

Petarung : What’s That ?

Petarung : What’s That ?

Apa yang terfikirkan oleh anda ketika mendengar kata petarung ?

Bisa jadi image yang tergambar di benak anda adalah seorang pendekar, ahli bela diri, pahlawan, jawara, preman atau mungkin berandalan.
Kata petarung selalu identik dengan orang yang suka berkelahi atau jika dalam bahasa Sunda populer
“ tukang gelut ”.
Definisi ini tidak sepenuhnya salah, menurut KBBI kata petarung artinya orang yang bertarung. Bertarung artinya melakukan pertarungan.

Kata pertarungan sendiri bisa bermakna pertempuran atau perkelahian secara fisik, namun bisa juga bermakna lain. Beberapa pihak mengidentikan kata pertarungan sebagai suatu bentuk perjuangan. Dalam makna yang positif, pertarungan juga bisa berarti pertandingan.

Ada sebagian masyarakat yang menggolongkan petarung menjadi 3 jenis golongan, yaitu :

  1. Petarung Sejati,
    petarung yang bertarung demi dan untuk kepentingan umat manusia, contohnya seperti para pahlawan atau superhero.
  2. Petarung Japati,
    petarung yang bertarung demi kepentingan tertentu di waktu tertentu, tidak jelas siapa yang menjadi kawan ataupun lawan, gayanya seperti pembunuh bayaran.
  3. Petarung Pedati,
    bahasa kasarnya petarung belian atau sederhananya buruh yang dibayar untuk bertarung. Mereka bisa berasal dari orang yang dibayar, bisa juga orang yang terpaksa. Mereka bertarung demi dan untuk kepentingan pemiliknya (majikannya).

Berbicara tentang petarung, saya pernah menghadiri acara Temu Pendekar 3 yang diselenggarakan oleh Masyarakat Pencak Silat (Maspi).
Acara ini diselenggarakan di Balai Kota Bandung pada tanggal 20 Juli 2019. Temu pendekar merupakan kegiatan promosi Seni Budaya Pencak Silat.

Dalam acara tersebut hadir Wali Kota Bandung Mang Oded M Danial, Ketua Maspi Kota Bandung Edwin Sanjaya beserta sesepuh pencak silat nasional dan internasional, salah satunya Wa Aziz.
Dalam kesempatan tersebut, saya mendapatkan pengalaman berharga bagaimana saya di tumbangkan oleh Wa Aziz yang hanya menggunakan satu tangannya. Dalam kesempatan tersebut juga hadir pesilat-pesilat dari luar negeri, salah satunya Max Moranbini, pesilat dari Italia.

Selain bertarung secara fisik, dunia pertarungan juga bisa terjadi dalam dunia politik. Politik merupakan pertarungan perebutan kekuasaan, bisa dalam tataran legislatif maupun eksekutif. Salah satu bentuk pertarungan politik adalah pilkada.
Pada tahun 2020, tepatnya pada tanggal 9 Desember 2020, diadakan pilkada serentak untuk memilih kepala daerah di 9 Provinsi, 224 Kabupaten dan 37 Kota di Indonesia.

Saya pribadi bangga dan terharu, dalam pelaksanaan pilkada yang berlangsung pada tanggal 9 Desember 2020. Di tengah pandemi Covid-19, partisipasi masyarakat cukup tinggi dalam menggunakan hak pilihnya.
Di samping itu, saya mengapresiasi KPU RI dan Daerah yang melaksanakan pilkada ini dengan baik dan profesional, juga menerapkan protokol kesehatan yang cermat dan berhasil mematahkan stigma skeptis masyarakat dalam pilkada tahun ini.

Selain itu, tidak lupa apresiasi kepada TNI-Polri yang berhasil mengamankan jalannya penyelenggaraan pilkada serentak tahun ini dengan baik dan lancar, meskipun di tengah kondisi dan situasi pandemi.

Saya sangat yakin dan berharap, kepala daerah yang nantinya terpilih merupakan kepala daerah yang setia terhadap NKRI, dapat mengamalkan nilai-nilai Pancasila dan mampu menjalankan amanat undang-undang. Tidak ada tempat untuk mereka-mereka yang menggadaikan nasionalisme dan ideologi demi kepentingan politik tertentu.

[ semoga mereka tidak menjadi petarung bayaran dan buruh petarung demi kepentingan pengusaha dan asing ]

Cimahi, Rabu, 9 Desember 2020

Rizal Ul Fikri CJI

banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan